Diracuni Mahasiswa

Tags

, ,

Wah, sudah lama rasanya tidak menulis di blog ini. Bang Akrie rasanya menjadi sepi tanpa tulisan. Saya juga menjadi kurang produktif lagi baik di sini dan di dunia nyata. Pekerjaan yang selalu menjadi alasan membuat saya malas untuk menulis di blog. Ternyata, entah saya sadari atau tidak berpengaruh terhadap kinerja saya di kantor. Tanpa menulis blog, saya menjadi tidak mood untuk mengerjakan penelitian. Boleh percaya, boleh juga tidak kawan. Hihihihi

Oke, kali saya mau cerita sedikit tentang judul saya ini. Beberapa hari ini saya kembali keranjingan akan suatu hal yang telah saya tinggal beberapa bulan silam. Ini gara-gara saya bertemu atau mungkin dipertemukan dengan mahasiswa bimbingan yang ternyata punya kegilaan pada hal yang pernah saya singgahi. Kawan penasaran kan? Hihihihi. Saya telah diberi “racun” oleh seorang mahasiswa yang bernama Muhammad Joko Suharyanto a.k.a Koko. Racun apa gerangan? Tidak lain adalah racun audio gear alias headphone dan in-earphone.

Dulu saya pernah membahas tentang sebuah komunitas pecinta audio gear, Kere Hore. Nah, setelah saya mendapatkan eargasm dengan Phrodi M201, serta merta saya meninggalkan komunitas yang penuh racun itu. Sebelum saya mengatakan “I’m sorry my dear wallet” pada diri sendiri, segera saya menghentikan aktivitas pencarian iem atau audio gear. Kere Hore hanya menjadi kenangan yang pernah saya singgahi. Agak lebay yah hihihihi. Entah kenapa saya dipertemukan kembali dengan komunitas ini lagi. Okelah kawan, coba saya ceritakan kronologinya. Nah, tambah lebay lagi hihihi.

Waktu itu, saya melakukan proses bimbingan seperti biasanya. Kami berkumpul di perpustakaan sambil mengerjakan laporan yang harus diselesaikan dalam masa dua minggu. Sosok Koko ini menarik perhatian saya, bukan karena orangnya (emang saya cowok apapun? hehehe) tetapi karena sebuah headphone yang menempel di telinganya. Saya penasaran ingin mencoba dan ternyata bukan hanya headphone yang menarik perhatian, melainkan amplifier yang terkoneksi dengan headphone itu. Akhirnya jadilah proses bimbingan menjadi cerita impresi tentang headphone yang dimiliki oleh Koko. Bukan cuma itu, dia juga membawa iem (in-ear monitor). Saya lupa mereknya. Saya yang bangga dengan Phrodi M201 kala itu langsung minder dengan kualitas suara iem yang dimilikinya. Walaupun tidak sesuai dengan genre musik saya yang sedikit pop dan jazz, iem si Koko ini “cling” sekali. Sekali lagi, saya mencapai eargasm.

Selang beberapa hari bimbingan, si Koko semakin meracuni saya dengan koleksi yang dimilikinya. Bahkan dia punya musik dengan kualitas FLAC yang lumayan banyak. Hmmm… sepertinya ada beberapa koleksi lagu saya yang harus meninggalkan hardisk dengan “Permanently Delete”. Hehehe. Saya semakin teracuni setelah diundang untuk bergabung dengan Warung Audio Kere Hore. Makin terbuka lagi mata saya, ternyata dunia Kere Hore sudah berkembang pesat dengan berbagai pilihan iem dan headphone yang super ciamik. Untunglah saya masih sadar, kalau tidak mungkin tabungan di rekening bisa berkurang untuk belanja Headphone. Hihihihi… Kalau kejadian, bisa-bisa bendahara negara memotong anggaran belanja karena pengadaan yang tidak sesuai dengan APBRT. Mungkin bisa kalau mengajukan pengadaaan yang sesuai dengan pagu anggaran perubahan nantinya. Hahahaha… Kacau nih, saya sudah teracuni kembali.

Nah, berhubung racun sudah menyebar ke seluruh aliran darah, bolehlah kiranya saya menyiapkan anggaran untuk ATH-M50 yang dulunya tidak terbeli. Sudah saatnya untuk bekerja lebih keras lagi demi menawar racun yang sudah menyebar tak terbendung. Hihihihi. Semoga setelah eargasm dengan ATH-M50, racun itu bisa hilang dan saya stop sampai di situ saja. Sekalipun itu tidak menjamin. Hahahaha… Itu aja dulu deh.

Advertisements

Seorang Ayah Bernama Baco bin Summing

Tags

,

Hari ini rasanya seperti diberikan kejutan listrik. Badan menjadi sangat lemas untuk digerakkan. Pagi hari di tanggal 26 Januari, saya mendapatkan telepon dari kakak di Sulawesi Selatan. Beliau mengabarkan bahwa ayah saya masuk rumah sakit. Beliau terkena serangan jantung beberapa saat sebelum berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat Subuh. Sebelumnya ayah memang sudah terjaga sedari malam karena merasa kurang enak badan. Tapi, saya tahu ayah pasti melaksanakan sholat malam untuk menenangkan diri. Entah kenapa beliau merasakan sesak di dada. Untunglah saat itu kakak saya baru pulang dari piket malam di Puskesmas Teppo singgah ke rumah. Kebetulan hanya ada ayah dan ibu di rumah. Biasanya ramai, tetapi kali ini anak sekolah sedang libur. Itu setahu saya. Saya hanya mendengar kabar saja lewat telepon.

Seharian kemarin saya gelisah karena tidak mendapatkan kabar dari Pinrang. Saya hanya tahu ayah masuk ICU dan sedang ditangani oleh dokter ahli. Kakak hanya berpesan untuk kirim doa untuk kesembuhan ayah. Sore hari, saya mendapatkan kabar lewat keponakan bahwa ayah sudah siuman tetapi masih dalam pengawasan dokter dan belum keluar dari ICU. Saya sudah sedikit lega mendengar kabar itu. Ba’da maghrib, ayah terserang jantung lagi dan kondisinya kritis. Saya hanya bisa menebak ketegangan di sana lewat tangis kakak di balik telepon. Saya semakin gelisah dan langsung mengambil keputusan untuk segera berangkat ke Sulawesi esok pagi. Ingin rasanya malam ini berangkat tetapi tidak ada lagi penerbangan dari Radin Intan II. Ba’da Isya, tangis kakak semakin keras di balik telepon. “Ayah tiada, ayah tiada”, cuma itu yang saya tangkap lalu telepon terputus. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ayah telah kembali pada-NYA Yang Maha Memiliki Kehidupan ini. Saya bingung bukan kepalang. Sendiri di rumah, jauh dari anak dan istri, dan tidak ada tempat untuk berpegangan.

Tepat di usia ke-31 hari ini, saya telah kehilangan ayah yang gigih membesarkan saya dalam balutan ilmu pengetahuan. Ayah yang senantiasa menunjukkan cinta lewat tindakan dan jarang sekali lewat ucapan. Itupun kalau ayah punya wejangan, perlu beberapa waktu untuk saya menangkap arti wejangan itu. Ayah yang menasihati dengan mengajak saya untuk berpikir. Sekalipun ayah yang hanya petani dan tidak tamat sekolah, beliau sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Ayah yang  tidak pernah memaksakan kehendak atas anaknya yang memutuskan untuk berhenti sekolah. Ayah yang selalu mengingatkan untuk selalu melaksanakan ibadah wajib. Kini, ayah saya telah kembali ke haribaan Allah SWT.

Ayah pernah bertutur bahwa sakitnya beliau karena Allah mengambil sedikit demi sedikit titipan-Nya. Mungkin itu salah satu bentuk cintanya Allah pada ayah, atau sebaliknya. Beliau tidak pernah terlihat mengeluh di saya. Mungkin kadang mendengar cerita lewat kakak kalau ayah sering mengeluh. Kemungkinan beliau bosan dengan sakit yang menghalangi beliau untuk sholat jamaah di masjid. Entahlah, saya hanya bisa mendengar potongan cerita tentang ayah. Ini sudah menjadi konsekuensi saya yang memilih untuk merantau dan membina keluarga di tempat yang lumayan jauh dari Pinrang. Masih ingat perkataan ayah saat saya mengutarakan keinginan untuk merantau ke Lampung. Beliau hanya bergumam lirih, “Pede’ mabela manang mako tu”. Artinya semakin jauh aja kalian semua. Mungkin ada nada kekecewaan saat itu, tetapi beliau justru membekali saya beberapa amalan untuk berjaga-jaga di rantau orang. Itulah, bentuk cinta yang tidak diungkapkan dengan kata-kata.

Tulisan ini sebenarnya bentuk curahan hati perih saya. Tentu saya tidak akan melihat wajah ayah saya yang sudah terbujur kaku itu. Saya juga tidak ingin meminta potret wajah beliau saat ini. Biarlah kenangan saya diisi dengan wajah beliau saat menyambut saya pulang 2 tahun silam. Biarlah kenangan saya diisi dengan wajah beliau saat tersenyum dan tertawa melihat tingkah lucu Aira. Biarlah kenangan saya diisi dengan wajah beliau saat melepas keberangkatan saya pulang ke Lampung. Biarlah semua itu menjadi kenangan saya saat ini dan nanti. Kakak menawarkan untuk menunggu kedatangan saya, tetapi saya ingat sekali ayah pernah berkata “jenazah itu jangan sampai melewati dua waktu sholat”. Berat memang untuk memutuskan supaya tidak perlu menunggu kedatangan saya. Berat memang ketika saya tidak bisa memandikan, mengkafani, mensholatkan, dan menguburkan jenazah ayah saya sendiri. Ingin sekali saya menjadi imam sholat jenazah untuk ayah. Semoga ketidakhadiran saya bisa digantikan oleh abang.

Ayah, seorang lelaki yang diberi nama Baco. Nama yang umum sekali untuk anak lelaki Bugis. Mungkin lebih sering dikenal sebagai Baco Gampung (balon). Itu karena tumor di pipi sebelah kanan beliau sewaktu masih remaja, besar seperti balon. Bahkan setelah tumor itu diangkat saat operasi, nama itu masih melekat untuk beberapa teman dekat ayah. Saya masih sering mendengar cerita dari teman kecil ayah tentang masa kecil beliau. Seorang anak periang yang lebih cenderung “pecicilan”. Saya jadi tau, dari mana asal “pecicilan” saya dan Aira. Nama itu berubah setelah ayah dikaruniai anak bernama Naharia. Nama ayah berganti dengan panggilan Ye’ Naha, artinya ayahnya Naha. Kehidupan zaman dulu yang keras itu, memaksa ayah untuk merantau menjadi anak buah kapal. Sebuah kapal yang mengangkut hasil bumi dari pulau Jawa ke Sumatera atau ke Kalimantan. Perjalanan keras ini jugalah yang membuat kehidupan beliau penuh dengan liku-liku. Saya senang sekali mendengar cerita beliau ketika ditinggalkan oleh kapal selama beberapa tahun di Tanah Jambi. Tanpa bekal apapun. Beliau yang akhirnya harus bekerja menjadi buruh tani di sana. Hingga akhirnya beliau mendapatkan tawaran untuk mengurusi peternakan ayam di Sandakan Malaysia. Di situlah babak baru kehidupan dan Allah SWT menghadirkan saya di tengah-tengah keluarga Baco. Ayah saat itu sudah berusia 40-an tahun dan sudah memiliki dua orang cucu. Saya bersyukur dihadirkan di tengah keluarga ini. Ayah banyak memberikan pelajaran penting tentang menghargai ilmu dan pendidikan. Ayah yang tidak pernah menyakiti anaknya dengan pukulan, kecuali kalau sudah melanggar syariah.

Kini, ayah sudah tentu bersiap-siap untuk menghadap Allah SWT. Semoga pertanggungjawaban ayah diterima dengan baik. Semoga kesalahan saya selama dalam kehidupan ini tidak ditimpakan pada ayah. Tentu itu bukan kesalahan asuhan ayah, melainkan kesalahan saya sebagai manusia dewasa yang sudah menanggung dosa perbuatan sendiri. Semoga ayah berada di sisi yang mulia. Semoga Allah selalu mengingatkan kami untuk senantiasa menerangi alam kubur beliau. Tidak perlu sebenarnya menangis terlalu sedih. Justru harusnya saya tersenyum karena ayah dimudahkan kepulangannya. Sekalipun sedih tidak bisa menemani beliau mengucapkan kalimah Syahadah di hembusan akhir nafasnya. Sedih karena tidak bisa menggamit tangan beliau yang hangat sebelum menjadi dingin. Sedih karena berada jauh di sini. Saya harap ayah mendapatkan lindungan Allah di alam sana. Suatu saat saya juga akan ke sana. Semoga bekal saya sebanyak bekal yang sudah ayah kumpulkan semasa hidup.

Ayah, hanya rentetan kata saja yang bisa anakda tuliskan
Kini kau telah pulang menghadap
Tempat yang akan kudatangi pula nantinya
Kuharap tempatmu terang di sana
Kuharap tempatmu lapang di sana
Kuharap tempatmu nyaman di sana
Biarlah guratan senyummu menghiasi
Biarlah pelukanmu dulu menghangatkan
Biarlah itu semua menjadi kenanganku
Selamat Tinggal Ayah
We love you so much

Bicara Soal Dedikasi

Tags

Kalau dulu saya pernah menulis tentang Mengajar Dengan Cinta, kali ini saya ingin berbicara sedikit tentang dedikasi. Kalau kita mau merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, dedikasi bisa dikatakan seperti berikut ini.

de.di.ka.si
pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia; pengabdian

Lalu, mengapa dedikasi menjadi bahasan saya? Apa kaitannya dengan tulisan sebelumnya? Oke, ini sepertinya akan sedikit berbau kritik atau mungkin juga sedikit narsis tentang saya. hihihi.

Saya saat ini masih tercatat sebagai pengajar muda pada sebuah perguruan tinggi swasta di Lampung. Katanya nih, kampus saya adalah salah satu kampus terbaik di Lampung (ini versi saya). Profesi sebagai dosen menjadi pilihan utama saya sejak dulu, dan Alhamdulillah sampai saat ini masih tetap bertahan. Popularitas kampus yang bisa dikatakan tinggi secara tidak langsung menjadi beban bagi saya sebagai pengajar. Mahasiswa yang memilih kampus saya untuk berkuliah tentu berharap suatu saat mereka akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat demi masa depan mereka. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa tidak jarang juga ada mahasiswa yang hanya ingin mendapatkan ijazah dari kampus ternama di Lampung. Nah, ini sedikit narsis hihihi. Bukankah semua kampus juga biasanya begitu?

Keragaman tujuan dan pola pikir mahasiswa ini membuat saya harus kerja keras demi mewujudkan harapan mereka. Tentu ini cara yang tidak efektif karena kuliah sangat jauh berbeda dengan kehidupan saat SMA. Mahasiswa lebih bebas memilih mata kuliah yang akan mereka pelajari. Tidak seperti SMA yang kelas dan mata pelajarannya selalu sama sampai lulus. Pengajaran di kelas tidak terlalu efektif menurut saya. Tidak semua mahasiswa datang untuk belajar karena mereka hanya memenuhi status quo bahwa mahasiswa harus hadir minimal 80% dari total pertemuan. Kalau urusan materi kuliah, saya juga tidak bisa memberikan seutuhnya. Ini jadi dilema. Di saat saya mengejar selesainya materi ajar, saya luput dengan ketersampaian materi. Artinya mahasiswa tidak mendapatkan apa-apa selain bingung dengan materi yang saya sampaikan. Bahkan untuk “nyantol” sedikit pun tidak. Ini terbukti saat Ujian Akhir Semester, bisa dikatakan 80% mahasiswa tidak mampu menjawab pertanyaan ujian dengan baik dan benar. Bahkan tidak sedikit yang hanya menyalin isi slide presentasi saya walaupun antara pertanyaan dan jawaban tidak “nyambung” sama sekali.

Lalu, apa yang harus saya lakukan kawan? Haruskah saya biarkan saja ketidakpahaman mahasiswa ini? Saya rasa tidak. Mungkin saat ini saya masih kurang berdedikasi dengan profesi sebagai dosen. Bisa juga diartikan saya kurang memahami apa yang disampaikan ke mahasiswa. Akhirnya saya sulit untuk menyampaikan materi dengan bahasa yang sederhana untuk mereka pahami. Perlu banyak belajar sih.

Salah satu cara untuk mengarahkan pola pikir akademis pada mahasiswa adalah ketika membimbing skripsi. Ini jalan yang saya gunakan untuk membentuk pola pikir akademis itu. Sekalipun terkadang cara ini diganjal dengan banyaknya jumlah bimbingan. Belum lagi tugas di luar kegiatan pengajaran yang terlalu membebani. Ini sih sedikit curahan hati saya. Biar tidak membebani pikiran. Cukup di badan saja. Entoch bisa diatasi dengan istirahat dan nutrisi yang sehat. Kalau beban di pikiran bisa stress dan cepat tua. hihihi. Saat ini sangat sulit bagi saya untuk membangun lingkungan akademis yang dapat membentuk pola pikir itu. Lingkungan yang terlalu pragmatis, rekan kerja yang oportunis dan selebritis, mahasiswa yang apatis, dan banyak lagi. Walaupun itu tidak boleh dijadikan excuse, karena semua tempat juga punya lingkungan seperti itu. Saya rasa perlu kolaborasi untuk menciptakan lingkungan akademis. Tetapi tidak semua kawan dosen memiliki dedikasi terhadap pekerjaan mereka. Lebih banyak hanya mau menikmati honor mengajar dan bangga dengan “profesionalisme” mereka sebagai dosen. Saya sih belum bisa juga dikatakan berdedikasi, tetapi berusaha untuk mencapai itu. Urusan rezeki mah itu urusan Allah SWT. Saya sih yang penting kerja. Syukur-syukur bisa mengajarkan saya tentang keikhlasan dalam mengajar. Saya kira itulah dedikasi. Kalau menurut kawan bagaimana?

Kejutan Bertubi-tubi dari Istri dan Mahasiswa

Tags

Rombongan Babe

Kebersamaan dengan Bimbingan yang sudah lulus. Thanks for all

Hari sabtu kemarin tidak mungkin saya lupakan. Bagaimana bisa? Saya mendapatkan kejutan yang tidak saya sangka-sangka dari mahasiswa bimbingan saya dan sekaligus dari istri tercinta. Biar kawan bisa paham ceritanya seperti apa, saya bahas kronologinya saja.

Beberapa hari sebelumnya saya diundang oleh mahasiswa bimbingan untuk acara syukuran atas kelulusan mereka. Saya tidak tahu menahu tentang lokasi dan seperti apa acaranya. Waktu itu saya menyatakan tidak bisa ikut karena akan ke luar kota untuk menemui istri saya. Tapi mereka meminta dengan sangat supaya saya bisa ikut. Istri saya yang kebetulan sedang ada di Bandar Lampung. Demi tidak mengecewakan banyak orang saya memutuskan untuk hadir. Kebetulan saat itu sedang cuti pilkada serentak. Jadi istri saya memutuskan untuk bertemu saya di rumah dan akan kembali di sore hari setelah pemilihan. Namun, istri saya memutuskan untuk tidak kembali ke tempat kerja dan akan kembali di hari minggu. Saya tentu sangat gembira, jadi saya bisa mengajak istri saya sekalian untuk hadir di acara syukuran mahasiswa saya.  Oke, ceritanya terhenti sampai disitu.

Selang beberapa hari, tepatnya di hari Jumat saya diberitahu istri saya bahwa dia tidak bisa ikut ke acara syukuran mahasiswa saya. Tentu itu mengejutkan karena alasan pekerjaan. Jadi, atasan istri saya ingin ke rumah di hari yang bersamaan dengan acara syukuran itu. Saya bersikeras untuk meminta istri saya membatalkan pertemuan dengan atasannya, tetapi dengan alasan tidak enak dengan atasan menjadi penghalang. Saya benar-benar ‘bete’ dibuatnya. Bagaimana mungkin saya makan-makan enak sementara si Bunda dan Aira di rumah menunggu saya pulang. Saya menjadi tidak terlalu bersemangat untuk ke acara syukuran itu. Saat hari-H pun saya masih berharap atasan istri saya tidak jadi ke rumah, walaupun itu cuma harapan. Akhirnya, saat hari-H saya dijemput oleh mahasiswa saya menuju lokasi syukuran yang terletak di Saung Desa. Sebuah tempat yang menurut saya menarik untuk dikunjungi beramai-ramai.

Selanjutnya apa yang terjadi kawan? Saya dibuat ‘bete’ lagi karena acara tertunda karena ada dua mahasiswa bimbingan saya yang belum tiba. Jadi kami harus menunggu kedatangan mereka. Saya sebenarnya sudah ingin acaranya segera dimulai dan pulang setelah itu. Saat mereka mengatakan acaranya akan dimulai saya pun duduk di tempat yang ditentukan. Alangkah terkejutnya saya ketika salah satu mahasiswa saya sedang menuntun Aira masuk ke area perjamuan. Saya tidak habis pikir bagaimana bisa si Bunda dan Aira datang ke acara itu. Bahkan dalam pikiran saya, tidak ada satupun mahasiswa bimbingan saya yang dikenali oleh istri saya. Saya dibuat tidak bisa berkata-kata. Ingin rasanya meneteskan air mata saat itu.

Kejutan tidak hanya selesai di situ. Saya mendapatkan banyak kejutan istimewa dari mereka. Ini rasanya lebih dari cukup. Bukan cuma saya mendapatkan kejutan, bahkan istri saya dan Aira juga dapat kejutan hadiah. Walaupun mereka mengatakan semua itu kecil, tetapi bagi saya semua itu sangat besar untuk saya terima. Apalah artinya saya yang hanya membimbing mereka sampai lulus skripsi. Saya hanya mengenal mereka dalam waktu yang sangat singkat. Kejutan dan hadiah yang mereka berikan semoga tidak membuat saya jumawa. Semoga semua itu lebih mengajarkan saya bahwa apa yang ditebar, maka itu yang dipanen. Semoga dengan adanya kejutan dari mereka akan membuat saya semakin bahwa ‘padi harus lebih merunduk’.

Jadi, dalam tulisan ini, saya ingin mengucapkan TERIMA KASIH YANG SEBANYAK-BANYAKNYA ATAS KEJUTAN ITU. Terima kasih telah menjadi mahasiswa bimbingan saya yang layaknya seperti adik bagi saya. Terima kasih atas keikhlasan kalian menerima saya sebagai pembimbing. Ah, rasanya lebay sekali yah kawan. Hihihihi. Just wanna say, thanks a lot.

Ketika I Gusti Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta Merindu

Tags

,

uang rupiah

Tersebutlah sebuah kisah. Kala itu Pattimura dan Pangeran Antasari sedang duduk-duduk bermain angklung di taman bunga melati. Pemandangan ini memang sudah menjadi rutinitas utama mereka di hari Jumat untuk berkumpul bersama sambil bercerita tentang aktivitas mereka di hari-hari sebelumnya. Sesekali, Sultan Mahmud Badaruddin II berkunjung bersama Tuanku Imam Bonjol. Pattimura dan Pangeran Antasari sedang berbincang.

” Bung Antasari, rasanya si Gusti Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta jarang sekali berkumpul dengan kita. Ada apa gerangan dengan mereka?” tanya Pattimura.

“ Entahlah Bung Pattimura, aku juga sering bertanya-tanya seperti itu. Mungkin terlalu berat untuk berkumpul dengan kita bung” timpal Pangeran Antasari.

Tuanku Imam Bonjol pun angkat bicara. “ Aku kira memang mereka tidak direlakan untuk berkumpul bersama kita setiap Jumat. Aku rasa, mereka punya tempat yang lebih indah dibandingkan kita. Apalah artinya tempat ini bagi mereka.”

Sultan Badaruddin II mengangguk tanda setuju seraya berkata, “Aku rasa kita tak perlu menunggu mereka setiap Jumat. Mereka memang punya tempat yang lebih baik. Aku rasa mereka menempatkan diri pada anak yatim dan orang miskin. Bukan berarti mereka enggan untuk hadir setiap minggu bersama kita.”

Otto Iskandar Dinata hanya manggut-manggut karena merasa malu untuk bicara. Dia juga merasa jarang hadir untuk bertemu dengan rekan-rekan pahlawannya. Bukan karena tidak ingin, terkadang posisinya selalu menjadi dilema. Tidak seperti, Pattimura dan Antasari yang selalu menjadi pilihan.

Begitulah kiranya setiap hari Jumat perbincangan mereka. Sebenarnya ada kerinduan akan hadirnya I Gusti Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta di dalam pertemuan itu.

Itulah mungkin potret kotak infaq Jumat di setiap masjid di nusantara ini. Bukan menganggap bahwa orang Indonesia tidak mau menginfaqkan selembar uang berwarna biru dan merah ke dalam kotak masjid. Mungkin tidak terbiasa. Sulit untuk mengikhlaskan uang sebesar itu untuk masuk ke dalam kotak infaq masjid. Saya sendiri pun terkadang masih merasa sayang dengan uang segitu dijadikan infaq Jumat. Itulah, keikhlasan biasanya mudah sekali diucapkan tetapi sulit untuk diterapkan. Ada yang mungkin ringan untuk mengeluarkan uang segitu besarnya untuk masuk ke dalam kotak infaq Jumat. Tetapi, bagi mereka uang segitu layaknya lima ribu rupiah bagi orang biasa. Tidak berpengaruh sama sekali dengan ketebalan dompet mereka.

Ini hanya tulisan renungan untuk diri saya dan kawan-kawan jika berkenan. Saya ingin mengajak kawan-kawan untuk jangan takut mengeluarkan uang buat dijadikan infaq Jumat. Bayangkan jika suatu saat, masjid mampu menyantuni orang miskin dan anak yatim dari sejumlah sumbangan yang diberikan oleh jamaahnya. Bayangkan jika kelaparan dapat dikurangi dengan kemampuan masjid memberi makan bagi mereka yang kelaparan. Semua itu berawal dari kita yang rajin mengisi kotak infaq Jumat. Bukan sebagai status quo, tetapi karena keikhlasan bagi kita untuk menyisihkan harta bagi kemaslahatan umat. Mulai dari kecil dan meningkat ke yang besar. Itu saja sih.

Akhir Dari Bimbingan 2015

Tags

Welcome to Bimbingan Babeh Bakri. Begitulah mereka menyebut segerombolan mahasiswa Teknokrat yang menjadi bimbingan saya. Sebuah keluarga kecil di kampus ini.

Welcome to Bimbingan Babeh Bakri. Begitulah mereka menyebut segerombolan mahasiswa Teknokrat yang menjadi bimbingan saya. Sebuah keluarga kecil di kampus ini.

Profesi sebagai dosen telah membawa banyak cerita dan pengalaman bagi saya. Tahun ini ada banyak sekali drama yang terjadi. Mungkin ini terkesan lebay, tetapi pada kenyataannya memang penuh lika-liku cerita. Ini cerita tentang mahasiswa bimbingan skripsi saya yang super duper banyak. Kawan-kawan bisa bayangkan jumlahnya mencapai 40 orang mahasiswa selama setahun ini. Awalnya sih hanya belasan orang saja. Entah mengapa setelah berjalannya waktu, satu per satu mereka berdatangan ke saya tanpa disadari jumlah sudah segitu besarnya. Ini tentu menjadi beban moral bagi saya untuk membimbing mereka untuk lulus dengan hasil yang memuaskan. Kalau hanya untuk membuat mereka menghasilkan skripsi ecek-ecek sebagai syarat lulus sih, tidak perlu dibimbing. Biarkan saja mereka buat saya cukup tanda tangan, dapat honor bimbingan, dan sesudah itu melupakan mereka. Tapi mudah-mudahan itu bukan saya.

Cerita tahun ini benar-benar mendebarkan. Sebagian dari bimbingan saya memang sudah lebih dulu selesai. Ada belasan orang yang selesai dan berhasil diyudisium. Silahkan kawan ikut cerita ini Proud of You Guys. Nah, yang tersisa ini punya banyak cerita. Ada yang sudah lama menghilang lalu datang karena terpukul melihat foto kawan mereka yudisium. Ada juga yang merapat setelah “dicampakkan” oleh pembimbing sebelumnya karena dianggap bodoh. Nah, yang ini saya anggap salah. Tidak ada mahasiswa bodoh, tetapi mahasiswa yang masih belum paham. Ada yang bergabung karena penggantian pembimbing yang absurd. Ada yang bergabung saat batas waktu sidang proposal sudah akan berakhir. Ada yang bergabung karena pembimbingnya tidak “becus”. Ada juga yang pemahamannya memang harus dituntun dari hulu ke hilir. Berat? Sudah tentu, tapi masih bisa dijalani.

Ada beberapa bimbingan saya yang tidak bisa wisuda tahun ini karena masalah nilai perkuliahan. Ini sih sudah di luar wilayah kemampuan saya. Ini yang membuat saya agak sedih. Ternyata saya belum bisa menjadi pembimbing yang baik dan perhatian buat mereka semua. Setidaknya ini akan menjadi pengalaman buat saya sebagai pembimbing untuk benar-benar memperhatikan mereka semua. Di situ kadang saya merasa sedih.

Tetapi, hasil hari ini sudah membuat saya bisa berbangga hati. Perjuangan kami untuk bisa mencapai kelulusan akhirnya terbayarkan dengan lulusnya semua yang memang terdaftar untuk sidang skripsi. Bagaimana tidak? Saya bisa mendapatkan nilai mahasiswa dari penguji tepat sebelum berkas terakhir dikumpulkan. Itupun ada sedikit persuasi yang saya lakukan ke penguji. Entah ini legal atau tidak, yang penting si penguji tau seperti apa mahasiswa bimbingan saya yang diuji oleh mereka. Tidak semua dari mereka yang punya kemampuan lebih untuk disamakan dengan mahasiswa lain. Jadinya saya lebih banyak melihat usaha si mahasiswa untuk menyelesaikan skripsinya. Hal ini sama seperti pengalaman saya ketika sidang tesis dulu. Pembimbing saya menanamkan nilai bahwa seperti inilah seharusnya seorang pembimbing dalam membimbing mahasiswanya. Seorang dosen pembimbing harus tau kapasitas bimbingannya. Hari ini memang banyak sekali cerita. Ada mahasiswa yang benar-benar menangis terharu setelah mengetahui bahwa dia lulus. Sekalipun harus bolak-balik bertemu penguji untuk ujian ulang secara privat. Ada juga bimbingan saya yang aplikasinya justru corrupt saat beberapa jam sebelum sidang. Saya yang ketar-ketir dibuatnya. Hihihi

Tiada kata yang dapat saya ucapkan selain puji syukur pada Allah SWT. Pada tulisan ini, bolehlah saya katakan bahwa Bimbingan “Babe” Bakri Tahun 2015 telah mendekati usai. Masih ada revisi laporan skripsi yang harus mereka kerjakan sebelum wisuda tanggal 23 Desember mendatang. Sedih rasanya ditinggalkan oleh “keluarga kecil” yang saya sudah anggap seperti adik-adik saya sendiri. Tetapi kehidupan harus tetap berjalan. Biarlah kehadiran mereka di tahun 2015 ini akan menjadi kenangan manis bagi saya untuk menatap tahun 2016 mendatang. Still proud of you guys.

Ingatlah selalu pesan kelana
Bertemu itu untuk berpisah
Tawa canda jadi tangisan
Senyum dalam kesedihan
Itu buah persahabatan

Ingatlah selalu pesan kelana
Ini cuma persimpangan jalan
Suatu saat ditinggalkan
Tidak perlu siap atau mau
Takdir Tuhan jadi penentu

Ingatlah selalu pesan kelana
Bukan kesedihan untuk dipertontonkan
Hanya haru kita sematkan
Pengobat rindu pada kebersamaan
Itulah persaudaraan tanpa darah

Ingatlah selalu pesan kelana
Air mata ini bukan kesiaan
Bukan pula rendah keluhuran
Ini air mata kebahagiaan
Untuk melihatmu menjadi teladan

Demi Kebaya Mama

Tags

Ada banyak motivasi untuk lulus kuliah. Ada yang mau lulus karena sudah tidak memiliki biaya untuk kuliah lebih lama lagi. Ada yang didesak orang tua. Ada yang sudah ditunggu oleh perusahaan. Ada yang ingin segera menikah. Nah, ada satu bimbingan saya yang punya motivasi unik untuk lulus kuliah. Dia ingin segera lulus agar tidak mengecewakan mamanya yang sudah memesan kebaya untuk acara wisudanya. Alasan ini diungkapkan sang bimbingan saat sedang bimbingan untuk menyelesaikan proposal. Sekalipun tidak diungkapkan secara langsung kepada saya. Saya hanya mendengar pembicaraannya dengan kawan-kawannya saat saya sedang membimbing yang lain. Pendek kata, saya ‘nguping’ hihihi…

Setiap melihat bimbingan saya yang satu ini. Saya terbayang wajah ibundanya yang sudah mendambakan mengenakan kebaya tapis khas Lampung saat menghadiri wisuda. Tentu akan hadir senyum sumringah dan bangga saat melihat anaknya sudah mengenakan toga dan diwisuda. Saya tidak bisa membayangkan alangkah kecewanya sang mama jika mahasiswa bimbingan saya ini tidak mampu lulus tahun ini. Hal ini membuat saya merasa punya tanggung jawab lebih untuk mewujudkan impian setiap mama yang ingin melihat putra putrinya untuk segera lulus. Berat, tapi masih bisa diusahakan. Saya merasa lega karena grup bimbingan saya bisa hidup dengan dinamis sehingga mereka bisa berkumpul untuk saling menyemangati satu sama lain. Semangat untuk lulus bareng menjadi target mereka semua.

Saya berpikir, mungkin si mama ini memutuskan untuk memesan kebaya bulan lalu sebagai bentuk dorongan buat sang anak. Apalagi sampai meminta si anak untuk mengantarkan dirinya ke tempat penjahit kebaya. Ini mungkin trik, tapi jitu. Si mama mungkin membuat trik untuk membuat anaknya semangat mengerjakan skripsi. Mungkin sama seperti mahasiswa yang saya uji saat seminar proposal dengan mengajak sekaligus orang tuanya untuk menonton seminar itu. Ini hanya teori konspirasi saya sih. Hihihi…

Saya rasa, bimbingan saya ini harus ekstra berusaha demi mewujudkan impian sang mama. Semoga Allah SWT juga memberikan kelapangan dan kemudahan buat dia untuk menunjukkan bakti buat orang tuanya. Bukankah anak yang sholeh disayang Tuhan? Itu saja sih. Kalau menurut kawan bagaimana?

A Cup of Green Tea Latte

Tags

,

green tea latte

Should I tell you my friend? What about? Something I do really enjoy while typing this post with a sip of Green Tea Latte. Iced for sure. I can assure that Starbucks recipe still number one for me. Can’t find else. Maybe to lazy for finding another recipe in another café. This is not an advertisement about Starbucks, just telling you what do I really enjoyed. Sorry for this bad English structure hehehe.

So, what about your favorite beverages while typing a post, my dear blogger fellow?

(Mencoba) Menjadi Dosen yang Baik dan Benar

Tags

lecturer

Pilihan untuk bekerja sebagai dosen bagi saya bukanlah keputusan yang datang begitu saja. Bukan karena alasan tidak mendapatkan pekerjaan lain lalu mencoba peruntungan di dunia pendidikan. Apalagi dunia pendidikan tinggi swasta tentu membutuhkan tenaga pengajar lulusan perguruan tinggi negeri. Itu bukan sama sekali alasan saya. Justru profesi pengajar adalah impian saya sejak kecil. Tumbuh sebagai anak seorang guru mengaji, membuat saya menemukan kenikmatan ketika mengajarkan sesuatu yang saya ketahui kepada orang lain. Memang sih, alasan menjadi dosen saya temukan saat kuliah dulu. Pada awalnya cita-cita saya tidak muluk-muluk, hanya menjadi guru sekolah menengah atas saja sudah cukup. Namun, ternyata Allah SWT memberikan jalan lain. Saya akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Bandar Lampung dan bergabung dengan Perguruan Tinggi Teknokrat sebagai dosen.

Awalnya saya belum bisa menemukan kenikmatan sebagai pengajar saat memulai mata kuliah pertama. Justru saya “demam panggung”. Saya merasakan dua jam berdiri di depan kelas dan menjelaskan teori tentang Internet bagaikan penderitaan. Inikah profesi yang saya impikan sejak dulu? Mungkin itu yang saya pikirkan saat itu. Alhamdulillah setelah berjalan seminggu, saya mulai menemukan ritme kerja yang pas. Pekerjaan sebagai dosen membuat saya merasa nyaman.

Ternyata, menjadi dosen yang hanya mengajar saja tidaklah cukup. Seorang dosen mengemban tugas penting yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tugas mulia yang harus dihidupi. Tidak mudah untuk menjadi dosen yang baik dan benar. Selain pengajaran yang harus sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Kita juga harus mendidik mereka. Kalau mereka punya attitude yang buruk, berarti sebagian dari itu berasal dari pendidiknya. Belum cukup sampai di situ. Seorang dosen harus punya penelitian dengan mengajak mahasiswa untuk ikut berkolaborasi. Kawan dosen yang lain juga harus diajak berkolaborasi. Apalah arti seorang dosen kalau tidak punya penelitian? Kalau kata seorang guru besar, dosen yang tidak punya penelitian layaknya seperti pengamen. Kerjaannya hanya ngamen sana sini. Ini sih sindiran keras bagi dosen yang hanya ingin mengajar saja. Sindiran itu tentu mengena juga ke diri saya sendiri. Hiks..jadi malu kalau sudah begini. Apakah sudah cukup sampai di situ? Belum kawan. Dosen harus punya sumbangsih pada masyarakat. Hasil penelitiannya seharusnya bisa diterapkan pada masyarakat atau organisasi luar kampus.

Kalau semua Tri Dharma sudah terlaksana, barulah seorang dosen bisa berbangga bahwa dia telah mencapai derajat dosen yang baik dan benar. Itupun harus memperhatikan aspek moral bukan aspek administratif. Maksud saya begini kawan. Penelitian yang harus dilakukan oleh dosen haruslah benar-benar penelitian sendiri. Bukan plagiasi. Pengabdian juga benar-benar dilakukan secara nyata bukan hanya di atas kertas untuk pelaporan ke pemerintah. Apalagi demi meraih Jabatan Akademik atau sertifikasi dosen. Saya akan sangat malu jika melakukan itu. Kalau kawan yang juga berprofesi sebagai dosen bagaimana?

Terakhir, saya menulis post ini sebagai pengingat bagi diri saya sendiri. Jadilah dosen yang memberikan inspirasi bagi didikannya. Saya ingat sekali pesan yang selalu disampaikan oleh Ketua Perguruan Tinggi Teknokrat, Pak Nasrullah Yusuf. Kata beliau, profesi pendidik itu sepertiganya Surga, selain amal jari’ah dan anak sholeh yang mendoakan. Tapi kalau dilakukan dengan semena-mena, berarti kita justru kehilangan sepertiga Surga itu tadi. Ah, saya juga sering lalai dengan tugas ke-dosen-an saya ini. Semoga Allah SWT mengampuni dan menjaga semangat saya untuk selalu berbagi ilmu. Aamiin. Itu saja sih.

Proud of You Guys 1

Tags

,

Saya masih ingat seperti apa wajah mereka ketika pertama kali menghadap dengan membawa SK (Surat Keputusan) penunjukan pembimbing skripsi ke saya. Wajah yang penuh harap dan tanya sekaligus terlihat dengan jelas. Makanya ketika mereka datang ke seorang dosen yang bernama Muhammad Bakri, ada kebimbangan apakah dosen satu ini bisa membantu mereka untuk lulus di tahun ini. Belum lagi selalu saja ada cerita bahwa dosen yang baru saja kembali dari sekolah pascasarjana akan lebih sulit dalam membimbing. Biasalah kawan, masih hangat-hangatnya mendapatkan pengalaman saat mengerjakan tesis.

Saya ingat saat itu ada sekitar 20 mahasiswa yang menghadap di waktu yang tidak bersamaan. Saya yang ketika itu mengajar mata kuliah Metode Penelitian sedikit terbantukan untuk membuat mereka mengerti cara mengerjakan penelitian skripsi. Tentu tidak banyak yang saya harap kala, selain memaksa mereka untuk menyelesaikan deskripsi penelitian. Ternyata membimbing mahasiswa tidak semudah yang saya bayangkan. Tidak selamanya hasil bimbingan dimengerti secara jelas oleh mahasiswa. Alhasil, untuk urusan deskripsi saja harus menghabiskan 10-15 kali pertemuan. Bahkan ada yang harus berubah setiap kali pertemuan.

Tentu perjuangan yang sangat berat untuk membawa perubahan terhadap arah penelitian di kampus saya. Terlebih lagi sejak dulu, skripsi masih dianggap sebagai kegiatan formalitas untuk lulus dari kampus swasta. Maklumlah, di kampus swasta, cukup mengerjakan skripsi dengan asal-asalan saja sudah bisa menyandang status sarjana. Tidak seperti mengerjakan skripsi di kampus negeri. Ini sih pendapat saya saja. Pandangan yang menganggap kemudahan lulus di kampus swasta membuat saya gerah, jadinya bimbingan saya menjadi korban. Hihihi. Saya memaksa mereka untuk menghasilkan penelitian skripsi yang berbobot. Sekalipun tidak seperti saat saya kuliah dulu, tetapi setidaknya hasil penelitian mereka tidak menjadi tumpukan di perpustakaan. Ada sesuatu yang mereka hasilkan dan bermanfaat bagi orang lain.

Proses bimbingan pun harus dilakukan dengan intensif. Sampai-sampai saya harus mengadakan dua kali pertemuan bimbingan dengan semua mahasiswa bimbingan saya setiap minggunya. Hari pertama untuk materi umum tentang komponen pembentuk penelitian. Hari kedua untuk kegiatan pembimbingan secara khusus per-tim. Ya, per-tim karena sulit melakukannya satu per satu. Hal ini juga untuk membuat mereka saling koreksi. Alasan ini jugalah yang membuat hilangnya sekat perbedaan di antara mereka. Tidak ada lagi jurusan atau institusi, yang ada hanya mahasiswa bimbingan Babeh Bakri. Begitulah mereka menyebut saya di luar forum bimbingan. Ini sih tidak lepas dari administrator grup BBM (Blackberry Messenger) yang diinisiasi oleh salah satu mahasiswa saya bernama Ansori. Dialah yang menjadi asisten saya selama proses bimbingan. Padahal saya tidak memerintahkan dia untuk membuat grup diskusi, hanya karena alasan kebutuhan dan inisiatif sendiri. Salutation for him.

Banyak sekali cerita yang membuat saya merasa bangga menjadi seorang pembimbing penelitian skripsi. Ada cerita di mana saya keram otot gara-gara duduk seharian di perpustakaan untuk membimbing. Bayangkan saja kawan, duduk dari pagi hingga sore. Hanya berdiri dan berjalan saat masuk waktu sholat dan ke kamar kecil saja. Bahkan untuk makan pun saya lakukan sambil membimbing. Ada juga saat saya membimbing “diusir” secara halus oleh satpam kampus. Saya juga sih yang tidak peka, karena waktu itu sudah masuk pukul 21.30 malam. Padahal perpustakaan kampus sudah tutup sejam yang lalu. Hihihi. Ada juga cerita di saat saya marah-marah karena revisi yang seharusnya dilakukan oleh bimbingan saya tidak dikerjakan dengan benar. Akhirnya laporannya saya coret dengan spidol marker, bahkan bermain tic-tac-toe di kertas laporan sang mahasiswa. Saya merasa jahat waktu itu dan membiarkan si mahasiswa meninggalkan ruangan dengan wajah muram. Entah muram atau takut, saya tidak bisa membedakannya. Hihihi.

Kini, saya bisa berbangga, sebagian dari mereka telah lulus dan sebentar lagi menyandang gelar sarjana. Skripsi yang kami kerjakan bersama-sama telah selesai diuji dan dipertanggungjawabkan dengan penuh drama. Hahaha. Walaupun ada beberapa yang hasilnya mengecewakan saat diuji, tetapi tidak mengurangi kebanggaan saya. Biarlah kesalahan yang ditemukan saat ujian menjadi pelajaran mereka. Biarlah pertanyaan penguji yang tidak dapat dijawab, dan tidak mampu saya bela menjadi pengalaman berharga bagi mereka. Semoga apa yang mereka kerjakan selama ini menjadi milestone untuk memberi warna perubahan bagi kampus saya. Skripsi bukan lagi formalitas, tetapi keharusan yang wajib dipertanggungjawabkan oleh insan akademis. Semoga pengalaman mereka selama lebih kurang enam bulan ini menjadi tonggak awal mereka untuk berkiprah di dunia kerja nantinya.

Dalam tulisan ini saya ingin mengatakan, “I’m very proud of you guys. You all make me happy. I believe what we achieve right now is our sweat of work for the last few months. Keep on fighting till the end.” Ini beberapa jepretan dengan mereka yang telah berhasil lulus. Tetap semangat bagi yang akan mengejar kawan-kawan yang telah lulus ini. Hope you enjoy the photos.