Mahasiswa Dan Anggota DPR

Kalau kawan bertanya, apa bedanya mahasiswa saat ini dengan anggota DPR? Tulisan pak Budi Rahardjo ini jadi jawabannya.

Padepokan Budi Rahardjo

Di media sosial banyak yang mencemoohkan kinerja dan pekerjaan anggota DPR. Ada banyak guyonan yang menunjukkan anggota DPR sedang tidur, bolos hadir, dan seterusnya. Mahasiswapun banyak(?) yang mempertanyakan (anggota) DPR ini. Mau tahu kenyataan yang ada saat ini?

Menurut saya, mahasiswa saat ini tidak berbeda dengan anggota DPR!

Mahasiswa datang ke kelas untuk sekedar hadir. Memenuhi kuota kehadiran saja. Administratif.  Ada juga yang datang ke kelas dan kemudian tertidur. Yang bolos juga tidak sedikit kok. Kalau mahasiswa hadir di kelas dan ditanya, “ada pertanyaan?”, tidak ada yang menjawab. (Masih mending anggota DPR ada banyak yang bertanya.)

Lantas apa bedanya mahasiswa dengan anggota DPR?

View original post

Advertisements

Antara Hobi Dan Istri

Tags

, ,

warren-hobbies

Semua lelaki harus punya hobi. Itu sih kata saya dulu di Kelemahan Lelaki dan Pentingnya Hobi dan ternyata banyak juga yang mengamini. Hobi bisa mengubah seseorang dari biasa saja menjadi gila (baca:geek). Begitu juga dengan saya. Dulu saya hanya peminum kopi. Itupun sachet-an saja sudah bahagia. Semenjak mengenal bahwa ada kopi yang enak, kebiasaan sama berubah. Kopi sachet menjadi tidak enak lagi. Belum lagi setelah mengenal kawan-kawan di Komunitas Penikmat Kopi di Lampung (KPKL), saya semakin gila lagi dengan kopi. Ternyata hobi kopi telah mengubah sudut pandang saya terhadap cairan hitam ini. Saya menjadi ingin mempelajari lebih dalam dan lebih intens lagi. Bahkan saya memutuskan untuk berhenti merokok sama sekali karena kopi (ini membuat istri saya senang, hihihi). Lalu, apa pasal urusan hobi dengan istri? Kok bisa jadi judul?

Begini kawan. Kalau kawan masih sendiri (baca: Single atau Jomblo :p), urusan hobi tidak jadi masalah. Kawan cukup fokus dengan hobi kawan sendiri tanpa harus bingung mencari jawaban ketika membeli aksesori untuk hobi. Misalnya yang hobi sepeda beli sadel harga 2 juta, tidak perlu pusing dimarahi pasangan. Toh tidak punya pasangan juga kan? Hehehe. Nah, yang sudah punya pasangan bagaimana? Pacar mungkin bisa marah tetapi tidak punya kendali penuh terhadap masalah keuangan kita. Toh masih pacar kan kawan? Lain pasal kalau sudah punya istri. Beli Aeropress yang harganya 500 ribuan bisa ditanya panjang lebar mulai dari urgensi dengan perbedaannya dengan seduh tradisional. Atau beli Ethiopia Yirgacheffe 100 gram dengan harga 100 ribu bisa ditanya bedanya sama sebungkus kopi Kapal Api. Itulah istri, mereka yang punya akses penuh terhadap keuangan suami. Toh, rezeki suami kan berkat istri juga. Itulah mengapa antara hobi dengan istri selalu menjadi tantangan bagi kami yang sudah menikah. Eh, ini sih lebih banyak curahan hati atau mungkin pembenaran nantinya. Kalau menurut kawan bagaimana?

Urusan hobi seorang suami dengan persepsi dari seorang istri sering kali kontradiktif. Saya sering kali mendengar cerita kawan-kawan yang hobinya bertolak belakang dengan kepribadian sang istri. Urusan hobi memang tidak bisa ditawar-tawar. Ada yang terang-terangan menunjukkan hobinya di depan istri, bahkan bisa berdiskusi untuk menentukan mana yang harus dibeli terlebih dulu. Ada juga yang sembunyi-sembunyi belanja kebutuhan hobi. Kalaupun terlihat oleh istri, biasanya faktur pembelian sudah diamankan terlebih dulu. Ini sih supaya bisa memberikan alasan kalau barang yang baru dibeli tidak mahal harganya. Padahal sudah dipotong 70% dari harga aslinya. Hehehehe. Ada banyak cerita lucu tentang suami yang ketahuan belangnya saat membeli kebutuhan hobi. Ini sih seperti yang saya alami dulu ketika sebuah grinder Porlex terpajang di lemari. Istri saya langsung kaget bukan kepalang setelah tau harganya. Kalau kawan mau tau, silahkan lihat sendiri di philocoffee. Si Bunda bisa saja marah, tetapi tidak jadi karena dia mulai sadar dengan hobi suaminya ini. Hihihihi. Makasih banyak ya Bunda sayang. Setelah itu, si Bunda lebih banyak menahan nafsu belanja hobi saya. Kalau hanya membeli biji kopi lokal tidak masalah, tapi kalau sudah urusan beli alat seduh manual, si Bunda harus tahu berapa harganya. Kalau terlalu mahal, ya saya harus bisa memastikan dapur tetap ‘ngebul’. Jadi, sekarang solusinya, semua honor kepanitian di kantor menjadi hak penuh saya. Gaji yang masuk ke rekening itu semua masuk kendali sang istri. Ini mungkin bisa jadi solusi buat kawan-kawan yang kerjanya berharap gaji bulanan. Hehehehe.

Suami yang berkeinginan belanja hobi tanpa bersitegang dengan pasangannya mungkin harus mempertimbangkan beberapa hal ini. Apa yang akan saya ungkapkan ini hanya berdasarkan pandangan pribadi sih. Kawan boleh terima atau menolak.

Jangan berbohong

Istri mana yang senang dibohongi? Tidak ada. Jadi, lebih baik menyampaikan keinginan belanja dengan baik ke istri. Pakai alasan yang bisa diterima secara rasional. Terkadang kita tidak berpikir rasional kalau sudah berurusan dengan hobi. Biarlah istri menjadi badan pertimbangan, supaya tidak ada penyesalan ke depannya. Menutupi kebenaran juga bisa dikatakan berbohong. Misalnya tidak menunjukkan faktur pembelian. So, don’t lie.

Ajak istri merencanakan daftar belanja

Urusan hobi itu selalu update. Tidak akan pernah ada habisnya. Kalau kita tidak merencanakan dengan baik daftar belanja, bisa saja kita masuk dalam golongan yang konsumtif. Ajaklah istri untuk merencanakan daftar belanja anda. Jelaskan potensi investasi yang bisa didapatkan jika membeli barang hobi terbaru. Perencanaan daftar belanja bersama istri bahkan bisa menjadi cara kita untuk lebih dekat (baca: mesra) dengan istri.

Bicarakan daftar belanja di saat yang tepat

Seringkali pertengkaran terjadi saat kita memilih waktu yang tidak tepat dalam membicarakan daftar belanja. Diskusi seperti ini perlu momen yang tepat. Jangan bicarakan daftar belanja saat pulang kerja. Atau saat keluar jalan-jalan dengan istri. Pilihlah waktu saat duduk berdua di ruang keluarga, mungkin juga di kasur sebelum atau sesudah “aktivitas”. Hihihihi.

Berikan edukasi tentang hobi kita ke istri

Cara ini mungkin bisa dijadikan pilihan yang lebih baik. Ajaklah istri untuk tertarik dengan hobi kita. Bukankah lebih asyik kalau kita punya hobi yang sama dengan istri. Tiga poin di atas akan lebih mudah untuk dilakukan. Berikan edukasi kepada istri. Siapa tau dia akan tertarik dengan hobi kita. Kalaupun tidak tertarik, setidaknya dia tau bagaimana rasanya punya hobi seperti kita. Paling tidak dia akan kompromi dengan hobi kita.

Jadikan hobi menyenangkan untuk menghasilkan pendapatan

Orang yang mendalami hobi dengan serius suatu saat akan mencapai suatu kondisi di mana hobi itu akan menghasilkan penghasilan. Hampir semua orang yang serius sekali dengan hobinya pada akhirnya memiliki pendapatan yang besar dari hobinya sendiri. Setidaknya ini yang akan menyenangkan sang istri. Hehehe

Saya kira hanya itu yang bisa saya bagikan saat ini. Semoga bermanfaat buat kawan-kawan. Itu aja sih.

Tempat Kerja Yang Tidak Nyaman

Tags

“ Kalau pulang kerja, terus kumpul-kumpul dengan kawan sejawat dan masih menceritakan tempat kerja atau kerjaan. Berarti tempat kerja kamu tidak nyaman.”

comfort

Seorang kawan pernah mengatakan hal itu kepada saya. Apa betul pernyataan kawan saya itu? Benarkah tempat kerja saya tidak nyaman karena saya selalu bercerita tentang tempat kerja bersama kawan-kawan? Apa benar juga bahwa saya tidak nyaman dengan tempat kerja saya saat ini? Ini pertanyaan sulit untuk dijawab. Apalagi ditulis di blog ini. Takutnya tulisan ini menjadi afirmasi bahwa tempat kerja saya tidak nyaman untuk bekerja. Pertanyaan yang sebenarnya harus dipertanyakan adalah apakah ada tempat kerja yang nyaman bagi pekerjanya? Google saja yang menjadi tempat kerja paling nyaman di dunia menurut majalah Forbes, tetap saja tidak nyaman bagi beberapa orang yang pernah kerja di sana. Jadi, benarkah kalau bercerita tentang tempat kerja untuk menandakan bahwa tempat kerja kita tidak nyaman?

Ada peribahasa yang mengatakan “Rumput tetangga selalu lebih hijau”. Manusia tidak akan pernah puas akan hal yang dia raih saat ini. Selalu saja kita melihat bahwa apa yang dihasilkan atau diraih oleh orang lain jauh lebih baik dari dirinya. Mungkin inilah sifat alamiah manusia yang selalu tidak pernah puas. Banyak hal yang membuat kita tidak puas terhadap tempat kerja. Bisa saja karena insentif yang kurang banyak. Bisa juga karena lingkungan kerja yang terlalu banyak intrik kotor. Mungkin juga karena rekan kerja yang tidak suportif, saling sikut, tidak profesional, atau apapun itu. Atau, mungkin atasan yang tidak menyenangkan, suka merendahkan karyawan, pemarah, dan lain sebagainya. Saya kira itu semua bisa menjadi alasan mengapa seseorang mengatakan tempat kerjanya tidak nyaman. Bagi saya bagaimana? Saya membenarkan bahwa tempat kerja saya tidak nyaman pada beberapa hal, tetapi tidak untuk keseluruhan. Apapun kata orang tentang ketidaknyamanan yang mereka alami, saya anggap semua itu menjadi referensi saya untuk tidak memasuki zona tidak nyaman itu. Saya akan menciptakan zona nyaman saya sendiri. Hidup nyaman selalu juga sebenarnya tidak enak. Coba bayangkan bagaimana rasanya jika selalu merasa nyaman, bisa saja itu membunuh karakter kita sendiri. Akhirnya kita tidak menjadi manusia berkembang, stagnan di suatu tempat.

Kita butuh ketidaknyamanan untuk bisa menciptakan kenyamanan sendiri. Tempat kerja yang tidak nyaman memang bukan pilihan semua orang, tetapi jika sudah berada di dalamnya kita perlu mencari celah untuk tetap merasa nyaman. Kalau kita selalu menceritakan ketidaknyamanan tempat kerja, apalagi sampai menjelek-jelekkan tempat kerja pada orang lain, bukankah ini sama saja dengan mengencingi sumur yang airnya kita minum sendiri? Menjijikkan bukan? Tulisan ini sepertinya hipokrit, tetapi saya hanya ingin menjawab pernyataan di awal tadi. Tidak ada tempat kerja yang nyaman untuk bekerja. Kenyamanan kerja itu tergantung pada toleransi dan kapabilitas kita dalam menerima ketidaknyamanan dalam bekerja. Kita tidak tau sampai kapan kita bisa kompromi dengan tempat kerja kita sendiri. Ketidaknyamanan tempat kerja tidak dipengaruhi satu hal saja. Ada banyak sekali entitas dan konstrain yang terlibat untuk menciptakan ketidaknyamanan itu. So, daripada curhat ria tentang ketidaknyamanan tempat kerja, mending pikirkan bagaimana menciptakan kenyamanan sendiri. Kalau tidak mampu menciptakannya, pilihannya cuma dua kok. Lebih baik berhenti dari tempat kerja itu atau bertahan tapi  tetap sakit hati. Kalau memilih berhenti, maka pindahlah ke “tetangga” yang rumputnya lebih hijau. Pertanyaannya adalah, apa kita berani mengambil keputusan seperti itu? Banyak orang yang terpaksa memilih pilihan kedua dengan alasan keamanan atau mungkin kejelasan status sosial. Tidak banyak yang mampu menerima kenyataan kalau dia tidak punya tempat kerja jika memilih keluar. Kecuali, kalau kita punya potensi yang dicari oleh tempat kerja lain. Hal ini justru menjadi poin plus bagi mereka yang ingin berhenti dari tempat kerja sebelumnya.

Jadi, tempat kerja yang nyaman itu seperti apa sih? Kawan bisa jelaskan?

When Wrong Decision Gone Right

Tags

Live is always about choices no matter what. Choices means either you right  or wrong with it. People must choose for something to survive this life. Even our way to die, we have to choose it. But, sometimes we make a wrong decision in our life. A decision that makes us feel depressed. No one to blame but ourselves. Sooner, I realized that wrong decision not always tend to bad results. Sometimes wrong decision makes our lives better. We just need to to see the bright side of that decision.

Agree or disagree, making decisions always intimidating us for not to make a wrong decision. That’s why people often spent more time to make a decision and sometimes wasting time for not making any. I just wanna say, we are too afraid to making decision that going south. I’ve been there many times, and I think you too my friend. It’s not decision make our life suffered, but how we deal with the consequences of our choices. We know every choices has its own results. Either we embrace it or not. Some people maybe take a pragmatic solution, take a suicide and they think all the problems solved. Some people are dealing with the consequences, move on and make another choices carefully. Some people maybe just sitting alone and sober.

But, I think we just need to be patient when dealing with the consequences. We need to see the bright side of our decision. Sometimes, it needs to be dark and wet before the sunshine comes out from the dark clouds. What I meant to say, bad choices not always bad and vice versa. PATIENT. Wait until God shows us the real thing that we should have. PRAY. Allah SWT will shows us the best conclusion that we not think about it before. That’s it, embrace ourselves and Allah SWT will blessing us with The Mighty Love.

“Ngejuri” Desain Blog di Euphoria 9

Tags

, ,

img_20160305_102942.jpg

Euphoria 9 – Hajatan tahunan OSIS SMA Negeri 9 Bandar Lampung

Hari ini saya mendapatkan kehormatan untuk menjadi juri di SMA Negeri 9 Bandar Lampung. Sebenarnya saya diutus oleh kampus Teknokrat untuk memenuhi undangan menjadi juri Desain Blog. Ini bukan pertama kali saya menjadi juri dalam urusan blog. Sejak 2010 saya sering didapuk menjadi juri desain blog di setiap ajang dalam kampus. Cuma kali ini saya menjadi juri di sekolah menengah. Oke, ini benar-benar pengalaman pertama.

Lomba hari ini diikuti oleh 15 peserta yang berasal dari beberapa sekolah menengah atas di wilayah Bandar Lampung dan sekitarnya. Desain blog memang menjadi salah satu materi yang diajarkan di sekolah menengah saat ini. Jadi, lomba desain blog antarsiswa SMA sudah tidak asing lagi. Begitu juga buat OSIS SMA Negeri 9 Bandar Lampung yang menyelenggarakan lomba ini. Urusan lomba tentu ada menang dan kalah. Tetapi hal yang paling penting adalah semangat lomba itu sendiri. Lomba bukan untuk gagah-gagahan jika menang, dan bukan untuk dipermalukan jika kalah. Justru lomba itu butuh semangat sportivitas, kejujuran, dan kerendahan hati. Hal itu menjadi kriteria saya dalam melakukan penjurian hari ini. Sekalipun ada formulir penilaian yang formatnya sudah diatur oleh panitia, tetapi semangat tentang lomba harus ditularkan.

img_20160305_102209.jpg

Peserta lomba desain blog yang sedang serius #semangat

Kalau berbicara tentang lomba blog, kita harus tau kalau blog itu berurusan dengan konten. Konten yang baik akan membuat blog menjadi baik dan diminati. Begitu juga sebaliknya. Tetapi konten saja tidak cukup karena ada faktor teknis yang juga menunjang konten blog. Salah satunya adalah desain blog yang menarik. Kalau bicara masalah menarik, bisa saja multi-tafsir. Kalau kita menyasar audiens atau pembaca dari kalangan tertentu, desain harus sesuai dengan selera mereka. Tetapi kalau kita fokus pada konten yang dapat dibaca oleh khalayak umum, desain blog harus mengikuti pakem umum yang digunakan. Tentu kita akan sangat tergantung pada selera umum yang cenderung subjektif. Contohnya saya. Saya punya selera terhadap desain blog yang sederhana. Menarik itu sederhana dan tidak berlebihan. Pemilihan warna tentu jadi faktor yang kritis. Warna norak atau terlalu tajam akan membuat mata mudah lelah saat membaca. Makanya hampir semua blog populer tidak menggunakan warna yang tajam. Saya kira kawan paham maksud saya.

img_20160305_102316.jpg

Dari sudut pandang tertentu

Oh ya, kalau lomba tanpa pengumuman pemenang tentu kurang afdol. Sayangnya panitia tidak memperbolehkan saya mengumumkannya di sini karena hari minggu besok (6/3/16) akan diumumkan saat puncak acara Euphoria9. Okelah tidak apa-apa, tetap saja saya ingin mengucapkan selamat kepada pemenang lomba. Semoga kemenangan mereka tidak berhenti sampai di sini saja. Semoga semangat mereka untuk membuat blog tetap terjaga. Kita butuh banyak konten baik. Semoga tetap konsisten menulis atau mem-posting artikel yang berkualitas. Sulit, tetapi bisa diusahakan. Itu aja sih.

Diracuni Mahasiswa

Tags

, ,

Wah, sudah lama rasanya tidak menulis di blog ini. Bang Akrie rasanya menjadi sepi tanpa tulisan. Saya juga menjadi kurang produktif lagi baik di sini dan di dunia nyata. Pekerjaan yang selalu menjadi alasan membuat saya malas untuk menulis di blog. Ternyata, entah saya sadari atau tidak berpengaruh terhadap kinerja saya di kantor. Tanpa menulis blog, saya menjadi tidak mood untuk mengerjakan penelitian. Boleh percaya, boleh juga tidak kawan. Hihihihi

Oke, kali saya mau cerita sedikit tentang judul saya ini. Beberapa hari ini saya kembali keranjingan akan suatu hal yang telah saya tinggal beberapa bulan silam. Ini gara-gara saya bertemu atau mungkin dipertemukan dengan mahasiswa bimbingan yang ternyata punya kegilaan pada hal yang pernah saya singgahi. Kawan penasaran kan? Hihihihi. Saya telah diberi “racun” oleh seorang mahasiswa yang bernama Muhammad Joko Suharyanto a.k.a Koko. Racun apa gerangan? Tidak lain adalah racun audio gear alias headphone dan in-earphone.

Dulu saya pernah membahas tentang sebuah komunitas pecinta audio gear, Kere Hore. Nah, setelah saya mendapatkan eargasm dengan Phrodi M201, serta merta saya meninggalkan komunitas yang penuh racun itu. Sebelum saya mengatakan “I’m sorry my dear wallet” pada diri sendiri, segera saya menghentikan aktivitas pencarian iem atau audio gear. Kere Hore hanya menjadi kenangan yang pernah saya singgahi. Agak lebay yah hihihihi. Entah kenapa saya dipertemukan kembali dengan komunitas ini lagi. Okelah kawan, coba saya ceritakan kronologinya. Nah, tambah lebay lagi hihihi.

Waktu itu, saya melakukan proses bimbingan seperti biasanya. Kami berkumpul di perpustakaan sambil mengerjakan laporan yang harus diselesaikan dalam masa dua minggu. Sosok Koko ini menarik perhatian saya, bukan karena orangnya (emang saya cowok apapun? hehehe) tetapi karena sebuah headphone yang menempel di telinganya. Saya penasaran ingin mencoba dan ternyata bukan hanya headphone yang menarik perhatian, melainkan amplifier yang terkoneksi dengan headphone itu. Akhirnya jadilah proses bimbingan menjadi cerita impresi tentang headphone yang dimiliki oleh Koko. Bukan cuma itu, dia juga membawa iem (in-ear monitor). Saya lupa mereknya. Saya yang bangga dengan Phrodi M201 kala itu langsung minder dengan kualitas suara iem yang dimilikinya. Walaupun tidak sesuai dengan genre musik saya yang sedikit pop dan jazz, iem si Koko ini “cling” sekali. Sekali lagi, saya mencapai eargasm.

Selang beberapa hari bimbingan, si Koko semakin meracuni saya dengan koleksi yang dimilikinya. Bahkan dia punya musik dengan kualitas FLAC yang lumayan banyak. Hmmm… sepertinya ada beberapa koleksi lagu saya yang harus meninggalkan hardisk dengan “Permanently Delete”. Hehehe. Saya semakin teracuni setelah diundang untuk bergabung dengan Warung Audio Kere Hore. Makin terbuka lagi mata saya, ternyata dunia Kere Hore sudah berkembang pesat dengan berbagai pilihan iem dan headphone yang super ciamik. Untunglah saya masih sadar, kalau tidak mungkin tabungan di rekening bisa berkurang untuk belanja Headphone. Hihihihi… Kalau kejadian, bisa-bisa bendahara negara memotong anggaran belanja karena pengadaan yang tidak sesuai dengan APBRT. Mungkin bisa kalau mengajukan pengadaaan yang sesuai dengan pagu anggaran perubahan nantinya. Hahahaha… Kacau nih, saya sudah teracuni kembali.

Nah, berhubung racun sudah menyebar ke seluruh aliran darah, bolehlah kiranya saya menyiapkan anggaran untuk ATH-M50 yang dulunya tidak terbeli. Sudah saatnya untuk bekerja lebih keras lagi demi menawar racun yang sudah menyebar tak terbendung. Hihihihi. Semoga setelah eargasm dengan ATH-M50, racun itu bisa hilang dan saya stop sampai di situ saja. Sekalipun itu tidak menjamin. Hahahaha… Itu aja dulu deh.

Seorang Ayah Bernama Baco bin Summing

Tags

,

Hari ini rasanya seperti diberikan kejutan listrik. Badan menjadi sangat lemas untuk digerakkan. Pagi hari di tanggal 26 Januari, saya mendapatkan telepon dari kakak di Sulawesi Selatan. Beliau mengabarkan bahwa ayah saya masuk rumah sakit. Beliau terkena serangan jantung beberapa saat sebelum berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat Subuh. Sebelumnya ayah memang sudah terjaga sedari malam karena merasa kurang enak badan. Tapi, saya tahu ayah pasti melaksanakan sholat malam untuk menenangkan diri. Entah kenapa beliau merasakan sesak di dada. Untunglah saat itu kakak saya baru pulang dari piket malam di Puskesmas Teppo singgah ke rumah. Kebetulan hanya ada ayah dan ibu di rumah. Biasanya ramai, tetapi kali ini anak sekolah sedang libur. Itu setahu saya. Saya hanya mendengar kabar saja lewat telepon.

Seharian kemarin saya gelisah karena tidak mendapatkan kabar dari Pinrang. Saya hanya tahu ayah masuk ICU dan sedang ditangani oleh dokter ahli. Kakak hanya berpesan untuk kirim doa untuk kesembuhan ayah. Sore hari, saya mendapatkan kabar lewat keponakan bahwa ayah sudah siuman tetapi masih dalam pengawasan dokter dan belum keluar dari ICU. Saya sudah sedikit lega mendengar kabar itu. Ba’da maghrib, ayah terserang jantung lagi dan kondisinya kritis. Saya hanya bisa menebak ketegangan di sana lewat tangis kakak di balik telepon. Saya semakin gelisah dan langsung mengambil keputusan untuk segera berangkat ke Sulawesi esok pagi. Ingin rasanya malam ini berangkat tetapi tidak ada lagi penerbangan dari Radin Intan II. Ba’da Isya, tangis kakak semakin keras di balik telepon. “Ayah tiada, ayah tiada”, cuma itu yang saya tangkap lalu telepon terputus. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ayah telah kembali pada-NYA Yang Maha Memiliki Kehidupan ini. Saya bingung bukan kepalang. Sendiri di rumah, jauh dari anak dan istri, dan tidak ada tempat untuk berpegangan.

Tepat di usia ke-31 hari ini, saya telah kehilangan ayah yang gigih membesarkan saya dalam balutan ilmu pengetahuan. Ayah yang senantiasa menunjukkan cinta lewat tindakan dan jarang sekali lewat ucapan. Itupun kalau ayah punya wejangan, perlu beberapa waktu untuk saya menangkap arti wejangan itu. Ayah yang menasihati dengan mengajak saya untuk berpikir. Sekalipun ayah yang hanya petani dan tidak tamat sekolah, beliau sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Ayah yang  tidak pernah memaksakan kehendak atas anaknya yang memutuskan untuk berhenti sekolah. Ayah yang selalu mengingatkan untuk selalu melaksanakan ibadah wajib. Kini, ayah saya telah kembali ke haribaan Allah SWT.

Ayah pernah bertutur bahwa sakitnya beliau karena Allah mengambil sedikit demi sedikit titipan-Nya. Mungkin itu salah satu bentuk cintanya Allah pada ayah, atau sebaliknya. Beliau tidak pernah terlihat mengeluh di saya. Mungkin kadang mendengar cerita lewat kakak kalau ayah sering mengeluh. Kemungkinan beliau bosan dengan sakit yang menghalangi beliau untuk sholat jamaah di masjid. Entahlah, saya hanya bisa mendengar potongan cerita tentang ayah. Ini sudah menjadi konsekuensi saya yang memilih untuk merantau dan membina keluarga di tempat yang lumayan jauh dari Pinrang. Masih ingat perkataan ayah saat saya mengutarakan keinginan untuk merantau ke Lampung. Beliau hanya bergumam lirih, “Pede’ mabela manang mako tu”. Artinya semakin jauh aja kalian semua. Mungkin ada nada kekecewaan saat itu, tetapi beliau justru membekali saya beberapa amalan untuk berjaga-jaga di rantau orang. Itulah, bentuk cinta yang tidak diungkapkan dengan kata-kata.

Tulisan ini sebenarnya bentuk curahan hati perih saya. Tentu saya tidak akan melihat wajah ayah saya yang sudah terbujur kaku itu. Saya juga tidak ingin meminta potret wajah beliau saat ini. Biarlah kenangan saya diisi dengan wajah beliau saat menyambut saya pulang 2 tahun silam. Biarlah kenangan saya diisi dengan wajah beliau saat tersenyum dan tertawa melihat tingkah lucu Aira. Biarlah kenangan saya diisi dengan wajah beliau saat melepas keberangkatan saya pulang ke Lampung. Biarlah semua itu menjadi kenangan saya saat ini dan nanti. Kakak menawarkan untuk menunggu kedatangan saya, tetapi saya ingat sekali ayah pernah berkata “jenazah itu jangan sampai melewati dua waktu sholat”. Berat memang untuk memutuskan supaya tidak perlu menunggu kedatangan saya. Berat memang ketika saya tidak bisa memandikan, mengkafani, mensholatkan, dan menguburkan jenazah ayah saya sendiri. Ingin sekali saya menjadi imam sholat jenazah untuk ayah. Semoga ketidakhadiran saya bisa digantikan oleh abang.

Ayah, seorang lelaki yang diberi nama Baco. Nama yang umum sekali untuk anak lelaki Bugis. Mungkin lebih sering dikenal sebagai Baco Gampung (balon). Itu karena tumor di pipi sebelah kanan beliau sewaktu masih remaja, besar seperti balon. Bahkan setelah tumor itu diangkat saat operasi, nama itu masih melekat untuk beberapa teman dekat ayah. Saya masih sering mendengar cerita dari teman kecil ayah tentang masa kecil beliau. Seorang anak periang yang lebih cenderung “pecicilan”. Saya jadi tau, dari mana asal “pecicilan” saya dan Aira. Nama itu berubah setelah ayah dikaruniai anak bernama Naharia. Nama ayah berganti dengan panggilan Ye’ Naha, artinya ayahnya Naha. Kehidupan zaman dulu yang keras itu, memaksa ayah untuk merantau menjadi anak buah kapal. Sebuah kapal yang mengangkut hasil bumi dari pulau Jawa ke Sumatera atau ke Kalimantan. Perjalanan keras ini jugalah yang membuat kehidupan beliau penuh dengan liku-liku. Saya senang sekali mendengar cerita beliau ketika ditinggalkan oleh kapal selama beberapa tahun di Tanah Jambi. Tanpa bekal apapun. Beliau yang akhirnya harus bekerja menjadi buruh tani di sana. Hingga akhirnya beliau mendapatkan tawaran untuk mengurusi peternakan ayam di Sandakan Malaysia. Di situlah babak baru kehidupan dan Allah SWT menghadirkan saya di tengah-tengah keluarga Baco. Ayah saat itu sudah berusia 40-an tahun dan sudah memiliki dua orang cucu. Saya bersyukur dihadirkan di tengah keluarga ini. Ayah banyak memberikan pelajaran penting tentang menghargai ilmu dan pendidikan. Ayah yang tidak pernah menyakiti anaknya dengan pukulan, kecuali kalau sudah melanggar syariah.

Kini, ayah sudah tentu bersiap-siap untuk menghadap Allah SWT. Semoga pertanggungjawaban ayah diterima dengan baik. Semoga kesalahan saya selama dalam kehidupan ini tidak ditimpakan pada ayah. Tentu itu bukan kesalahan asuhan ayah, melainkan kesalahan saya sebagai manusia dewasa yang sudah menanggung dosa perbuatan sendiri. Semoga ayah berada di sisi yang mulia. Semoga Allah selalu mengingatkan kami untuk senantiasa menerangi alam kubur beliau. Tidak perlu sebenarnya menangis terlalu sedih. Justru harusnya saya tersenyum karena ayah dimudahkan kepulangannya. Sekalipun sedih tidak bisa menemani beliau mengucapkan kalimah Syahadah di hembusan akhir nafasnya. Sedih karena tidak bisa menggamit tangan beliau yang hangat sebelum menjadi dingin. Sedih karena berada jauh di sini. Saya harap ayah mendapatkan lindungan Allah di alam sana. Suatu saat saya juga akan ke sana. Semoga bekal saya sebanyak bekal yang sudah ayah kumpulkan semasa hidup.

Ayah, hanya rentetan kata saja yang bisa anakda tuliskan
Kini kau telah pulang menghadap
Tempat yang akan kudatangi pula nantinya
Kuharap tempatmu terang di sana
Kuharap tempatmu lapang di sana
Kuharap tempatmu nyaman di sana
Biarlah guratan senyummu menghiasi
Biarlah pelukanmu dulu menghangatkan
Biarlah itu semua menjadi kenanganku
Selamat Tinggal Ayah
We love you so much

Bicara Soal Dedikasi

Tags

Kalau dulu saya pernah menulis tentang Mengajar Dengan Cinta, kali ini saya ingin berbicara sedikit tentang dedikasi. Kalau kita mau merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, dedikasi bisa dikatakan seperti berikut ini.

de.di.ka.si
pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia; pengabdian

Lalu, mengapa dedikasi menjadi bahasan saya? Apa kaitannya dengan tulisan sebelumnya? Oke, ini sepertinya akan sedikit berbau kritik atau mungkin juga sedikit narsis tentang saya. hihihi.

Saya saat ini masih tercatat sebagai pengajar muda pada sebuah perguruan tinggi swasta di Lampung. Katanya nih, kampus saya adalah salah satu kampus terbaik di Lampung (ini versi saya). Profesi sebagai dosen menjadi pilihan utama saya sejak dulu, dan Alhamdulillah sampai saat ini masih tetap bertahan. Popularitas kampus yang bisa dikatakan tinggi secara tidak langsung menjadi beban bagi saya sebagai pengajar. Mahasiswa yang memilih kampus saya untuk berkuliah tentu berharap suatu saat mereka akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat demi masa depan mereka. Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa tidak jarang juga ada mahasiswa yang hanya ingin mendapatkan ijazah dari kampus ternama di Lampung. Nah, ini sedikit narsis hihihi. Bukankah semua kampus juga biasanya begitu?

Keragaman tujuan dan pola pikir mahasiswa ini membuat saya harus kerja keras demi mewujudkan harapan mereka. Tentu ini cara yang tidak efektif karena kuliah sangat jauh berbeda dengan kehidupan saat SMA. Mahasiswa lebih bebas memilih mata kuliah yang akan mereka pelajari. Tidak seperti SMA yang kelas dan mata pelajarannya selalu sama sampai lulus. Pengajaran di kelas tidak terlalu efektif menurut saya. Tidak semua mahasiswa datang untuk belajar karena mereka hanya memenuhi status quo bahwa mahasiswa harus hadir minimal 80% dari total pertemuan. Kalau urusan materi kuliah, saya juga tidak bisa memberikan seutuhnya. Ini jadi dilema. Di saat saya mengejar selesainya materi ajar, saya luput dengan ketersampaian materi. Artinya mahasiswa tidak mendapatkan apa-apa selain bingung dengan materi yang saya sampaikan. Bahkan untuk “nyantol” sedikit pun tidak. Ini terbukti saat Ujian Akhir Semester, bisa dikatakan 80% mahasiswa tidak mampu menjawab pertanyaan ujian dengan baik dan benar. Bahkan tidak sedikit yang hanya menyalin isi slide presentasi saya walaupun antara pertanyaan dan jawaban tidak “nyambung” sama sekali.

Lalu, apa yang harus saya lakukan kawan? Haruskah saya biarkan saja ketidakpahaman mahasiswa ini? Saya rasa tidak. Mungkin saat ini saya masih kurang berdedikasi dengan profesi sebagai dosen. Bisa juga diartikan saya kurang memahami apa yang disampaikan ke mahasiswa. Akhirnya saya sulit untuk menyampaikan materi dengan bahasa yang sederhana untuk mereka pahami. Perlu banyak belajar sih.

Salah satu cara untuk mengarahkan pola pikir akademis pada mahasiswa adalah ketika membimbing skripsi. Ini jalan yang saya gunakan untuk membentuk pola pikir akademis itu. Sekalipun terkadang cara ini diganjal dengan banyaknya jumlah bimbingan. Belum lagi tugas di luar kegiatan pengajaran yang terlalu membebani. Ini sih sedikit curahan hati saya. Biar tidak membebani pikiran. Cukup di badan saja. Entoch bisa diatasi dengan istirahat dan nutrisi yang sehat. Kalau beban di pikiran bisa stress dan cepat tua. hihihi. Saat ini sangat sulit bagi saya untuk membangun lingkungan akademis yang dapat membentuk pola pikir itu. Lingkungan yang terlalu pragmatis, rekan kerja yang oportunis dan selebritis, mahasiswa yang apatis, dan banyak lagi. Walaupun itu tidak boleh dijadikan excuse, karena semua tempat juga punya lingkungan seperti itu. Saya rasa perlu kolaborasi untuk menciptakan lingkungan akademis. Tetapi tidak semua kawan dosen memiliki dedikasi terhadap pekerjaan mereka. Lebih banyak hanya mau menikmati honor mengajar dan bangga dengan “profesionalisme” mereka sebagai dosen. Saya sih belum bisa juga dikatakan berdedikasi, tetapi berusaha untuk mencapai itu. Urusan rezeki mah itu urusan Allah SWT. Saya sih yang penting kerja. Syukur-syukur bisa mengajarkan saya tentang keikhlasan dalam mengajar. Saya kira itulah dedikasi. Kalau menurut kawan bagaimana?

Kejutan Bertubi-tubi dari Istri dan Mahasiswa

Tags

Rombongan Babe

Kebersamaan dengan Bimbingan yang sudah lulus. Thanks for all

Hari sabtu kemarin tidak mungkin saya lupakan. Bagaimana bisa? Saya mendapatkan kejutan yang tidak saya sangka-sangka dari mahasiswa bimbingan saya dan sekaligus dari istri tercinta. Biar kawan bisa paham ceritanya seperti apa, saya bahas kronologinya saja.

Beberapa hari sebelumnya saya diundang oleh mahasiswa bimbingan untuk acara syukuran atas kelulusan mereka. Saya tidak tahu menahu tentang lokasi dan seperti apa acaranya. Waktu itu saya menyatakan tidak bisa ikut karena akan ke luar kota untuk menemui istri saya. Tapi mereka meminta dengan sangat supaya saya bisa ikut. Istri saya yang kebetulan sedang ada di Bandar Lampung. Demi tidak mengecewakan banyak orang saya memutuskan untuk hadir. Kebetulan saat itu sedang cuti pilkada serentak. Jadi istri saya memutuskan untuk bertemu saya di rumah dan akan kembali di sore hari setelah pemilihan. Namun, istri saya memutuskan untuk tidak kembali ke tempat kerja dan akan kembali di hari minggu. Saya tentu sangat gembira, jadi saya bisa mengajak istri saya sekalian untuk hadir di acara syukuran mahasiswa saya.  Oke, ceritanya terhenti sampai disitu.

Selang beberapa hari, tepatnya di hari Jumat saya diberitahu istri saya bahwa dia tidak bisa ikut ke acara syukuran mahasiswa saya. Tentu itu mengejutkan karena alasan pekerjaan. Jadi, atasan istri saya ingin ke rumah di hari yang bersamaan dengan acara syukuran itu. Saya bersikeras untuk meminta istri saya membatalkan pertemuan dengan atasannya, tetapi dengan alasan tidak enak dengan atasan menjadi penghalang. Saya benar-benar ‘bete’ dibuatnya. Bagaimana mungkin saya makan-makan enak sementara si Bunda dan Aira di rumah menunggu saya pulang. Saya menjadi tidak terlalu bersemangat untuk ke acara syukuran itu. Saat hari-H pun saya masih berharap atasan istri saya tidak jadi ke rumah, walaupun itu cuma harapan. Akhirnya, saat hari-H saya dijemput oleh mahasiswa saya menuju lokasi syukuran yang terletak di Saung Desa. Sebuah tempat yang menurut saya menarik untuk dikunjungi beramai-ramai.

Selanjutnya apa yang terjadi kawan? Saya dibuat ‘bete’ lagi karena acara tertunda karena ada dua mahasiswa bimbingan saya yang belum tiba. Jadi kami harus menunggu kedatangan mereka. Saya sebenarnya sudah ingin acaranya segera dimulai dan pulang setelah itu. Saat mereka mengatakan acaranya akan dimulai saya pun duduk di tempat yang ditentukan. Alangkah terkejutnya saya ketika salah satu mahasiswa saya sedang menuntun Aira masuk ke area perjamuan. Saya tidak habis pikir bagaimana bisa si Bunda dan Aira datang ke acara itu. Bahkan dalam pikiran saya, tidak ada satupun mahasiswa bimbingan saya yang dikenali oleh istri saya. Saya dibuat tidak bisa berkata-kata. Ingin rasanya meneteskan air mata saat itu.

Kejutan tidak hanya selesai di situ. Saya mendapatkan banyak kejutan istimewa dari mereka. Ini rasanya lebih dari cukup. Bukan cuma saya mendapatkan kejutan, bahkan istri saya dan Aira juga dapat kejutan hadiah. Walaupun mereka mengatakan semua itu kecil, tetapi bagi saya semua itu sangat besar untuk saya terima. Apalah artinya saya yang hanya membimbing mereka sampai lulus skripsi. Saya hanya mengenal mereka dalam waktu yang sangat singkat. Kejutan dan hadiah yang mereka berikan semoga tidak membuat saya jumawa. Semoga semua itu lebih mengajarkan saya bahwa apa yang ditebar, maka itu yang dipanen. Semoga dengan adanya kejutan dari mereka akan membuat saya semakin bahwa ‘padi harus lebih merunduk’.

Jadi, dalam tulisan ini, saya ingin mengucapkan TERIMA KASIH YANG SEBANYAK-BANYAKNYA ATAS KEJUTAN ITU. Terima kasih telah menjadi mahasiswa bimbingan saya yang layaknya seperti adik bagi saya. Terima kasih atas keikhlasan kalian menerima saya sebagai pembimbing. Ah, rasanya lebay sekali yah kawan. Hihihihi. Just wanna say, thanks a lot.

Ketika I Gusti Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta Merindu

Tags

,

uang rupiah

Tersebutlah sebuah kisah. Kala itu Pattimura dan Pangeran Antasari sedang duduk-duduk bermain angklung di taman bunga melati. Pemandangan ini memang sudah menjadi rutinitas utama mereka di hari Jumat untuk berkumpul bersama sambil bercerita tentang aktivitas mereka di hari-hari sebelumnya. Sesekali, Sultan Mahmud Badaruddin II berkunjung bersama Tuanku Imam Bonjol. Pattimura dan Pangeran Antasari sedang berbincang.

” Bung Antasari, rasanya si Gusti Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta jarang sekali berkumpul dengan kita. Ada apa gerangan dengan mereka?” tanya Pattimura.

“ Entahlah Bung Pattimura, aku juga sering bertanya-tanya seperti itu. Mungkin terlalu berat untuk berkumpul dengan kita bung” timpal Pangeran Antasari.

Tuanku Imam Bonjol pun angkat bicara. “ Aku kira memang mereka tidak direlakan untuk berkumpul bersama kita setiap Jumat. Aku rasa, mereka punya tempat yang lebih indah dibandingkan kita. Apalah artinya tempat ini bagi mereka.”

Sultan Badaruddin II mengangguk tanda setuju seraya berkata, “Aku rasa kita tak perlu menunggu mereka setiap Jumat. Mereka memang punya tempat yang lebih baik. Aku rasa mereka menempatkan diri pada anak yatim dan orang miskin. Bukan berarti mereka enggan untuk hadir setiap minggu bersama kita.”

Otto Iskandar Dinata hanya manggut-manggut karena merasa malu untuk bicara. Dia juga merasa jarang hadir untuk bertemu dengan rekan-rekan pahlawannya. Bukan karena tidak ingin, terkadang posisinya selalu menjadi dilema. Tidak seperti, Pattimura dan Antasari yang selalu menjadi pilihan.

Begitulah kiranya setiap hari Jumat perbincangan mereka. Sebenarnya ada kerinduan akan hadirnya I Gusti Ngurah Rai dan Soekarno-Hatta di dalam pertemuan itu.

Itulah mungkin potret kotak infaq Jumat di setiap masjid di nusantara ini. Bukan menganggap bahwa orang Indonesia tidak mau menginfaqkan selembar uang berwarna biru dan merah ke dalam kotak masjid. Mungkin tidak terbiasa. Sulit untuk mengikhlaskan uang sebesar itu untuk masuk ke dalam kotak infaq masjid. Saya sendiri pun terkadang masih merasa sayang dengan uang segitu dijadikan infaq Jumat. Itulah, keikhlasan biasanya mudah sekali diucapkan tetapi sulit untuk diterapkan. Ada yang mungkin ringan untuk mengeluarkan uang segitu besarnya untuk masuk ke dalam kotak infaq Jumat. Tetapi, bagi mereka uang segitu layaknya lima ribu rupiah bagi orang biasa. Tidak berpengaruh sama sekali dengan ketebalan dompet mereka.

Ini hanya tulisan renungan untuk diri saya dan kawan-kawan jika berkenan. Saya ingin mengajak kawan-kawan untuk jangan takut mengeluarkan uang buat dijadikan infaq Jumat. Bayangkan jika suatu saat, masjid mampu menyantuni orang miskin dan anak yatim dari sejumlah sumbangan yang diberikan oleh jamaahnya. Bayangkan jika kelaparan dapat dikurangi dengan kemampuan masjid memberi makan bagi mereka yang kelaparan. Semua itu berawal dari kita yang rajin mengisi kotak infaq Jumat. Bukan sebagai status quo, tetapi karena keikhlasan bagi kita untuk menyisihkan harta bagi kemaslahatan umat. Mulai dari kecil dan meningkat ke yang besar. Itu saja sih.