Tags

IMG_20180124_034303_752

Embun subuh sudah mulai turun. Ada langkah-langkah kecil yang menembus gelapnya dini hari. Tak lepas dari mulutnya untuk mengucap syukur pada Illahi. Hari ini masih diberikan hidup untuk tetap bernafas. Jalan kompleks perumahan terlihat lengang dan sepi. Hanya ada beberapa aktivitas asisten rumah tangga yang siap-siap menyediakan hidangan untuk sang majikan. Supir-supir pribadi sudah menyiapkan mobil. Ada aktivitas juga di tong sampah oleh tikus got yang sudah sebesar anak kucing. Masih banyak rumah yang sepi.

Di dalam rumah-rumah sepi itu bukan tiada manusia. Ada manusia yang sedang terlelap dalam kamar dingin ber-AC. Padahal adzan sedang sayup-sayup menyapa makhluk Allah. Masjid masih lengang, padahal ada ratusan lelaki baligh yang seharusnya mengisinya. Apakah adzan tidak begitu keras untuk membangunkan? Padahal sudah ada lebih dari dua pengeras suara terpasang di atap masjid. Masih pula makhluk-makhluk ini tetap terlelap. Mereka sebenarnya dengar, tapi sulit untuk bangun. Ada tali yang mengekang badannya. Bentuknya banyak. Ada yang terlihat seperti selimut, lengan yang hanya memeluk saat adzan berkumandang, atau bantal guling. Mereka yang terbangun pun karena ada hajat ke kamar mandi. Lalu kenapa hanya sedikit yang menjawab panggilan adzan?

Ketahuilah kawan, telinga yang tuli karena tak mendengar adzan itu sudah dikencingi setan. Mungkin karena sudah lama tak dibasuh dengan wudhu, kencing setan berkerak hingga menutup lubang teling. Akhirnya telinga tuli akan panggilan kebaikan. Sungguh sedih. Padahal ketika masalah hidup mendera, kepada siapa kita berharap, kalau tak ada manusia yang dapat membantu? Semua akan lari pada kemurahan Allah untuk meminta. Tapi, kala dipanggil untuk berserah, alasannya selalu saja ada. Itu mungkin karena telinga sudah dikencingi setan.

Screenshot 2018-10-16 06.06.16