Tags

Robert Lee Frost, seorang penyair ulung Amerika Serikat, mengatakan bahwa puisi itu adalah pertemuan emosi dan pikiran, lalu pikiran yang menemukan kata-kata. Lalu kenapa dengan puisi? Nah saya mau membahas puisi yang sedang dibahas banyak orang di tanah air belakangan ini. Puisi yang menuai pro dan kontra, membuat kegaduhan, dibuat oleh Sukmawati Soekarnoputri, dan dibacakan di acara besar Fashion Week dan tentu ditonton oleh banyak orang. Puisi mengusik sanubari umat Islam yang taat, karena beliau hadir dengan puisi yang menggugat lebih tepat menghujat.

Saya belakangan ini mulai jengah dengan orang yang berusaha membahas sesuatu tanpa pengetahuan tapi tanpa malu menyalahkan orang yang paham. Sebut saja Ahok yang dulu membahas Q.S. Al Maidah Ayat 51 sebagai alat pembohongan publik terkait pilkada. Jelas dia tidak paham maksud dari ayat itu, tetapi menyalahkan orang yang paham dan orang yang mengamalkannya. Fitnah ini yang menggerakkan jutaan masyarakat Muslim untuk berkumpul di Jakarta demi membela agama Allah Azza wa Jalla. Hasil akhirnya, Ahok dinyatakan bersalah dan dipenjara. Lalu, apakah karena contoh ini mereka yang menistakan agama Islam takut untuk mengolok-olok Islam? Ternyata tidak, alhasil muncul lagi satu sosok manusia yang tak tanggung-tanggung dikenali secara nasional. Salah seorang putri Proklamator Indonesia, dengan puisinya mengolok-olok Islam. Walaupun beliau berdalih bukan itu maksudnya.

Coba kawan perhatikan puisi dari orang yang katanya “seniman” ini.
Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta

Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi
Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

Puisi ini kemudian dibahas di seluruh Indonesia, sebagai puisi yang memperolok Adzan dan Cadar. Pertama dia membahas adzan yang tak lebih merdu dibandingkan kidung. Orang yang menjadikan adzan sebagai olok-olok adalah orang yang tidak menggunakan akal. Lihat di Q.S. Al Maidah ayat 58:
وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.
Satu hal yang saya pastikan, yang paling takut ketika adzan dikumandangkan hingga lari terbirit-birit hanyalah syaitan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ

“Apabila panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil kentut hingga dia tidak mendengarkan adzan lagi” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Seharusnya beliau bisa mengambil pembanding lainnya. Kenapa harus menyinggung ummat Islam? Tapi kembali lagi ke ayat di atas, ini tandanya beliau tidak menggunakan akal. Kalaulah beliau menggunakan akal, tentu tidak akan membuat kegaduhan. Kalaulah beliau menggunakan akal, tentu beliau akan mencari pembanding lain dengan kidung ibu Indonesia.

Pembanding kedua yang ditulis oleh ibu Sukmawati Soekarnoputri adalah antara konde dengan cadar. Kenapa harus cadar? Apakah karena menganggap cadar sebagai budaya Arab dan konde budaya Indonesia? Di sini terjadi lagi miskonsepsi terkait budaya. Cadar bukanlah budaya Arab, tetapi pakaiannya yang ditegaskan oleh Al Qur’an sebagai peringatan bagi wanita muslimah untuk memanjangkan kain mereka. Ada banyak hadits yang meriwayatkan ini. Cadar adalah pilihan berpakaian muslimah yang disyariatkan oleh Islam selain mengenakan jilbab. Konde itupun bukan budaya asli Indonesia. Konde/sanggul itu sudah dikenal oleh masyarakat Mesir kuno sebagai bentuk status sosial dan estetika. Justru jika dikaitkan dengan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala terkait menutup aurat (kepala dan bagiannya) dengan jilbab/cadar dibandingkan dengan konde yang mengumbar aurat, tentu kita tidak bisa menerima. Estetika muslimah adalah jilbab/cadar. Bagi yang mau berkonde, silahkan saja. Kalau wanita muslimah, ya jangan berkonde karena melanggar syariat, bahkan salah satu golongan penghuni neraka. Perhatikan hadits berikut.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Ada dua golongan penghuni Neraka, yang belum pernah aku lihat, yaitu (1) Suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi. Mereka mencambuk manusia dengannya. Dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium aroma Surga, padahal sesungguhnya aroma Surga itu tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.’” (Hadits riwayat Muslim, Ahmad, Baihaqi, dan Al-Baghawi)

Jadi, sekali lagi, saya berharap ibu Sukmawati Soekarnoputri meminta maaf kepada ummat Muslim dan berani menyatakan bahwa puisinya itu adalah salah besar. Jika tidak, berarti beliau harus menerima konsekuensi hukum dan sosial atas perilakunya. Semoga Allah mengingatkan beliau untuk sadar sebelum ajal menjemput. Tulisan ini bukan untuk mencela beliau, tetapi untuk mengingatkan bahwa umat Islam mencintai kedamaian dan membawa kedamaian. Beliau mungkin lupa, bahwa kemerdekaan Indonesia ini tak lepas dari pekikan penggalan Adzan, Allahu Akbar. Sebagai penyulut semangat para pejuang sampai menghembuskan nafas terakhir. Beliau mungkin lupa, bahkan ayahanda beliau meminta fatwa kepada ulama terkait perang/jihad melawan penjajah kala itu. Beliau mungkin lupa, Islam lah yang datang memuliakan wanita di kala peradaban menganggap wanita hanya pemuas nafsu durjana dan tak berarti.

Puisi beliau mungkin memang akan multitafsir. Ada pro dan kontra. Alasannya selalu terkait karya seni, dan seni selalu dilepas dari konteks aturan agama dan adab. Kalaulah multi interpretasi ini jadi patokan dari sebuah karya seni, maka foto telanjang atau orang bersenggama bukanlah bentuk pornografi. Toh itu adalah karya seni. Orang berkarya seni yang kebablasan seperti ini bukanlah seniman, karena lupa kodratnya sebagai manusia yang bertuhan. Kecuali kalau mereka tidak percaya lagi akan adanya Tuhan. Jadi sebelum saya tutup tulisan ini, izinkan saya berpuisi menjawab puisi beliau.

Kau memang tak tau syariat Islam
Keindahan yang ditutup cadar
Hanya untuk mereka yang sabar
Konde katamu kodrat alam sekitar
Bukanlah indah tapi mengumbar

Kau memang tak tau syariat Islam
Menilai kidung dengan adzan
Merdumu karena salah bandingan
Tak kau dengar adzan di Mekah
Tak kau dengar adzan di Palestina
Tak kau dengar adzan di Suriah
Tak kau dengan adzan di Indonesia
Telingamu tertutup oleh kidung
Hingga lupa perintah untuk dijunjung

Kau memang tak tau syariat Islam
Bukannya belajar mencari makna
Malah berpuisi membuat cela
Sejak dahulu bangsa ini merdeka atas pekikan adzan yang membahana
Tapi kau lupa dari mana asalmu semula