Tags

,

islamic-quotes-about-death-with-pic

Kematian itu pasti. Ia datang tanpa pengumuman sebelumnya. Malaikat Izrail akan menjemput sekalipun kita belum siap. Suatu yang pasti diucapkan oleh mereka yang belum siap adalah ingin diberikan sedikit waktu saja supaya dia bisa menyerahkan semua hartanya di jalan Allah Azza Wa Jalla. Tapi sayang, Malaikat Maut bukanlah makhluk yang bisa ditawar. Hanya kekasih Allah, Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang diberikan tawaran untuk menunda kematiannya. Itupun Baginda Rasulullah menolak tawaran itu karena sudah tak sabar untuk menghadap ke hadapan Allah. Lalu, apa yang harus kita lakukan supaya siap menyapa Malaikat Maut? Sudahkah kita siap? Atau kita lupa akan kepastian atas kematian karena sibuk dengan urusan keduniaan?

Itulah ilmu yang saya dapatkan dari khutbah jumat hari ini. Khatib mengingatkan kembali akan ketetapan Allah yang tidak ada bocorannya. Semua orang hanya bisa menduga-duga, tapi hanya Allah saja yang tau kapan kita akan dipanggil kembali. Kenapa kita bisa siap atau tidak siap untuk mati? Ketika ditanya, sudahkah kita siap untuk mati? Tentu jawabannya sama, TIDAK atau BELUM. Kita masih merasa kehidupan di dunia masih kurang untuk dikejar. Tapi, sayangnya kita lupa untuk mempersiapkan kematian kita. Lalu apa yang perlu kita siapkan? Allah telah mengaturnya dalam Al-Quran Surah Ali Imran Ayat 102 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. Sederhana tapi berat untuk dijalankan. Allah hanya mensyaratkan kita untuk beragama Islam dalam kematian kita. Apakah cukup dengan mengucapkan Dua Kalimat Syahadat saja? Kalau hanya menjadikan status kita Islam, tentu jawabannya YA. Tetapi, ketika syarat ke-Islam-an kita harus masuk secara menyeluruh seperti pada QS. Al Baqarah Ayat 208 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian”, maka jawabannya TIDAK. Islam telah mengatur derajat kita di hadapan Allah tentang bagaimana kita menjalankan ke-Islam-an kita di kehidupan dunia.

Kalau begitu, buat apa bekerja dan mengejar cita-cita kalau nantinya juga mati dan tak berguna? Mending kita beribadah saja untuk mempersiapkan kehidupan di alam akhirat nanti. Nah, ini pemahaman yang keliru. Islam bukanlah agama parsial namun integral. Kehidupan kita ini sebenarnya sudah diatur oleh Al Qur’an dan dikuatkan oleh Hadist Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Semua yang kita lakukan di dunia ini selama dikerjakan dengan cara Islam, maka itu dianggap ibadah. Jangankan urusan yang rumit seperti berpolitik, urusan buang air kecil saja diatur oleh Islam. Betapa paripurnanya agama yang Allah turunkan untuk manusia di bumi ini. Hanya kita saja yang kurang atau bahkan tidak menerapkannya ke dalam seluruh aspek kehidupan kita. Jadi, kalau hanya mengatakan Islam terletak pada sholat, puasa, zakat, dan haji saja, maka kita sudah mengecilkan agama Allah ini. Islam adalah apa yang kita kerjakan sesuai dengan syariat Allah.

Lalu apa hubungan Islam dengan mempersiapkan kematian? Jawabannya di QS. Ali ‘Imran Ayat 185 yang artinya “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. Kita yang lupa bahwa ada kehidupan kekal di akhirat akan mengejar kesenangan dunia. Padahal kesenangan dunia hanyalah tipu daya yang akan menjauhkan kita dari keuntungan ketika pahala kita disempurnakan oleh Allah. Subhanallah, sungguh Allah dan ketetapanNYA tidak mungkin bisa diragukan. Tipu daya dunia ini sering menjadi masalah kenapa ke-Islam-an kita sangat lemah. Kita anggap bahwa pekerjaan atau kehidupan yang kita kejar di dunia tidak ada hubungannya dengan Islam. Kita ditipu oleh keangungan semu yang dimunculkan di depan mata kita. Contohnya pujian manusia, kekayaan, keindahan paras, dan banyak lagi tipu daya yang membuat kita jauh dari ke-Islam-an. Padahal, jika semua itu dibawa ke dalam keindahan Islam, masyaAllah kita akan bahagia dengan semua yang peroleh di dunia. Dan, semua itu bisa menjadi bekal kita menghadapi kematian.

Tulisan ini hanya untuk mengingatkan diri saya sendiri. Alhamdulillah ketika kawan sekalian juga mengingat kematian karena tulisan ini. Saya berpikir, mungkin kita perlu mempersiapkan semua perangkat pengurusan jasad kita nanti. Seperti menyiapkan kain kafan dan wewangian yang digunakan pada saat memandikan jasad. Kita letakkan di pojok ruangan rumah kita sebagai pengingat bahwa mati itu pasti. Setiap kita mulai dilenakan oleh dunia, setidaknya kain kafan itu selalu menjadi trigger kita untuk kembali lagi ke jalan Allah. Bukankah ini juga salah satu cara mempersiapkan kematian? Bahkan seorang Steve Job saja selalu mengingatkan dirinya akan kematian. Supaya dia melakukan sesuatu setiap harinya untuk memberikan perubahan dunia dengan inovasi dan karyanya. Kenapa kita tidak mempersiapkan kematian dengan cara seperti juga dalam payung ke-Islam-an? Semoga kita semua bisa bersiap-siap untuk menghadapi kematian dengan tetap bekerja dan beribadah semata-mata hanya mengharap Ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiiiin.