Tags

, , , ,

Jangan campurkan idealisme dengan urusan perutmu, lambat laun idealismemu akan luntur. –Mas Dudi, 2013-

Masih teringat dengan jelas pernyataan Mas Dudi, rekan seperjuangan di ITB dulu. Idealisme tidak akan pernah berbaikan dengan urusan perut, apalagi urusan di bawah perut. Orang yang bertahan dengan idealismenya sering kali hidup dengan sederhana. Jarang sekali dari mereka hidup dengan bergelimang harta. Sekalipun mereka berada di puncak karir yang baik, kehidupan mereka tetaplah sederhana. Bahkan di akhir hayatnya hanya mati dengan sederhana, tidak jarang juga ada yang tragis kepergiaanya. Sebut saja Soekarno yang mempertahankan idealismenya dalam memimpin Indonesia. Beliau harus hidup dari satu pengasingan ke satu pengasingan lainnya. Beliau sudah menikmati kehidupan dalam penjara sampai pada kehidupan di istana. Soekarno tetaplah Soekarno. Beliau tetap hidup dengan idealisme, walaupun di akhir karirnya beliau digoyahkan oleh persoalan komunisme. Bung Hatta juga hidup dengan penuh idealismenya. Apakah di akhir hayatnya hidup makmur? Tidak, Bung Hatta tetap hidup sederhana. Mungkin ukurannya lebih baik dibandingkan dengan pejuang lainnya.

soekarno

Idealisme harus diperjuangkan kawan. Kita tidak akan pernah bisa mempertahankan idealisme jika tidak berjuang. Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan seorang Soekarno dan kawan-kawan memperjuangkan nilai Pancasila untuk Indonesia. Mungkin itu terlalu jauh dengan konteks kehidupan saat ini. Soekarno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Ada saja kisah di mana orang yang memperjuangkan idealismenya harus berhadapan dengan orang terdekatnya. Kisah seperti Baba Akong yang tetap menanam bakau sekalipun dianggap gila oleh tetangganya. Channe Brule yang rela meninggalkan negaranya untuk mengurusi hewan di Kalimantan. Tindakan gila yang dianggap tidak akan membuatnya kaya. Dr Lie Darmawan, si dokter yang menolong pasien tanpa memikirkan biaya perawatan. Masih banyak lagi nama yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Lalu, apakah idealisme yang saya pegang sebagai pengajar di sebuah kampus yang sudah melahirkan lulusan hebat ini bisa juga dianggap gila? Atau mungkinkah saya memang gila dan bukan karena mempertahankan idealisme? Idealisme harus diperjuangkan.

Saya menganggap hidup sederhana dalam mempertahankan idealisme itu perlu. Apakah tidak ada jalan untuk tetap kaya sekalipun masih dengan idealisme? Kawan tau? Saya sendiri masih menganggap idealisme ini masih kalah dengan kebutuhan dapur yang harus dipenuhi. Dapur harus tetap ngebul. Anak dan istri harus tetap makan. Sekalipun hanya nasi putih dan sayur tumis kangkung yang dipetik di samping rumah. Idealisme memang susah diperjuangkan kalau sudah menyinggung area perut. Saya sendiri masih mencari cara untuk tetap bisa makan sekalipun hidup dengan memperjuangkan idealisme. Terkadang ada pikiran untuk ikut menjilat pantat penguasa, tetapi itu busuk. Saya belum punya kekuatan untuk melakukan itu, tetapi juga terlalu lemah untuk melawan. Tapi, idealisme tetap harus diperjuangkan. Bukan begitu kawan?

 

Advertisements