Tags

, ,

library

Sejatinya perpustakaan adalah tempat pergulatan ilmu. Tempat bagi mereka yang mencari dan berbincang tentang keilmuan. Seperti perpustakaan di Babilonia kala itu. Saat ini juga masih seperti itu. Cuma saat ini perpustakaan sepertinya tidak menjadi tempat yang diminati, terutama bagi insan pelajar di perguruan tinggi. Teknologi informasi sudah memudahkan mereka untuk mencari sumber pengetahuan. Makanya perlu beberapa inovasi untuk mengajak kembali para pencari ilmu untuk mencintai perpustakaan. Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan mengadakan proses bimbingan di perpustakaan. Tahun lalu bisa dikatakan sayalah penguasa perpustakaan (hihihi sombong!!!), karena hampir setiap hari saya meluangkan waktu di sana. Lalu, mengapa sekarang bimbingan tidak boleh lagi dilakukan di perpustakaan kampus tercinta kami? Bukan kebijakan kampus kok, hanya ada oknum ketua program studi tertentu yang tidak membolehkan.

Apa pasal larangan bimbingan tidak boleh di perpustakaan? Oke, ada beberapa hal kawan. Pertama, mahasiswa bimbingan saya yang berjumlah 20 orang itu selalu berkumpul bersama di perpustakaan. Sekalipun tidak semuanya tapi cukup untuk menguasai meja panjang yang ada di perpustakaan. Hal ini membuat mereka mengganggu kenyamanan pengunjung lainnya. Oke, kalau berisik saya akui terkadang mereka memang seperti itu. Tetapi itu pun tidak dalam level parah seperti cekikikan tidak jelas di perpustakaan. Masih mending kan mereka kumpul untuk mengerjakan skripsi atau tugas akhir bersama-sama daripada mahasiswa yang menggunakan perpustakaan untuk pacaran. Menurut kawan bagaimana?

Kedua, mungkin ini salah satu alasan kenapa dilarang bimbingan. Kami sering membawa minuman saat kegiatan pembimbingan. Okelah ini pelanggaran. Case closed. Ketiga, tidak boleh menggunakan ruang perpustakaan untuk kegiatan pembimbingan atau kuliah. Nah, yang satu ini menjadi kontradiktif karena sebelumnya ada himbauan untuk mengadakan kegiatan perkuliahan di perpustakaan. Pembimbingan skripsi juga kan kegiatan perkuliahan walaupun kegiatan tatap mukanya tidak terjadwal dengan rutin seperti kuliah lainnya. Lalu, kenapa tidak boleh? Saya gagal paham.

Saya bingung, apakah yang saya lakukan itu salah atau melanggar? Oke lah, kalau tidak boleh berkumpul di perpustakaan untuk kegiatan bimbingan, seharusnya ada tempat untuk kegiatan itu. Saya akui kampus saya masih punya keterbatasan ruangan. Saya juga tidak mempermasalahkan itu karena perpustakaan masih bisa menjadi pilihan untuk kegiatan bimbingan. Tapi kalau sudah dilarang, ke mana lagi saya (jadi kangen ruang residensi di ITB)? Hanya perpustakaan sajalah yang menyediakan meja, kursi,dan terminal listrik untuk kegiatan bimbingan atau pengerjaan skripsi. Ada sih tempat yang cozy untuk kegiatan bimbingan atau mengerjakan skripsi. Tapi tempat yang satu ini butuh biaya yang lumayan mahal. Kawan mungkin tau tempat yang saya maksudkan itu. Okelah, tempat itu adalah Starbucks atau kafe selain itu. Starbucks memang menyediakan tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas atau menulis. Dulu saya juga memilih tempat ini sebagai tempat untuk menulis kalau malas ke perpustakaan. Di sana ada fasilitas koneksi internet yang lumayan cepat, ruangan ber-AC, ada musik yang merdu, dan tentunya bisa makan dan minum di dalamnya (namanya juga kafe hihihi). Cuma, Starbucks menguras dompet kalau dilakukan setiap hari. Nanti malah saya dianggap dosen pembimbing yang paling mahal karena harus bimbingan di kafe hihihi.

Saya punya angan-angan suatu saat punya ruangan sendiri untuk kegiatan pembimbingan atau penelitian. Setidaknya seperti Laboratorium Winner di ITB dulu. Ada fasilitas internet yang cepat, ada dispenser untuk air panas dan dingin, ada coffee maker, dan tentunya ada banyak buku literatur yang dapat digunakan oleh mahasiswa bimbingan saya. Hmmm…asyiknya. Tulisan ini mungkin semacam kritik untuk oknum ketua program studi di kampus saya. Cobalah melihat gambaran yang besar tentang permasalahan ini. Cobalah datang dan lakukan aktivitas seharian di perpustakaan kampus kita ini supaya bisa merasakan bagaimana perasaan kami yang tersisihkan. Cobalah untuk mengerti bahwa ke mana lagi kami akan melakukan bimbingan dan berdiskusi tentang penelitian skripsi kalau bukan di perpustakaan. Kami tidak mempermasalahkan tentang koneksi yang lambat. Bukan pula masalah kursi yang tidak seempuk di kafe. Tapi kami hanya butuh tempat untuk berdiskusi. Saya akui kampus saya ini bukanlah kampus besar, tapi jangan disempitkan lagi dengan pikiran dangkal seperti itu. Atau mungkin justru tulisan ini yang sebenarnya pemikiran dangkal? Saya serahkan kawan-kawan untuk memutuskan itu.

BUAT LOE YANG MELARANG BIMBINGAN DI PERPUTAKAAN, JUST GO AND “LOVE” YOURSELF

Itu aja sih.

Advertisements