Tags

, ,

warren-hobbies

Semua lelaki harus punya hobi. Itu sih kata saya dulu di Kelemahan Lelaki dan Pentingnya Hobi dan ternyata banyak juga yang mengamini. Hobi bisa mengubah seseorang dari biasa saja menjadi gila (baca:geek). Begitu juga dengan saya. Dulu saya hanya peminum kopi. Itupun sachet-an saja sudah bahagia. Semenjak mengenal bahwa ada kopi yang enak, kebiasaan sama berubah. Kopi sachet menjadi tidak enak lagi. Belum lagi setelah mengenal kawan-kawan di Komunitas Penikmat Kopi di Lampung (KPKL), saya semakin gila lagi dengan kopi. Ternyata hobi kopi telah mengubah sudut pandang saya terhadap cairan hitam ini. Saya menjadi ingin mempelajari lebih dalam dan lebih intens lagi. Bahkan saya memutuskan untuk berhenti merokok sama sekali karena kopi (ini membuat istri saya senang, hihihi). Lalu, apa pasal urusan hobi dengan istri? Kok bisa jadi judul?

Begini kawan. Kalau kawan masih sendiri (baca: Single atau Jomblo :p), urusan hobi tidak jadi masalah. Kawan cukup fokus dengan hobi kawan sendiri tanpa harus bingung mencari jawaban ketika membeli aksesori untuk hobi. Misalnya yang hobi sepeda beli sadel harga 2 juta, tidak perlu pusing dimarahi pasangan. Toh tidak punya pasangan juga kan? Hehehe. Nah, yang sudah punya pasangan bagaimana? Pacar mungkin bisa marah tetapi tidak punya kendali penuh terhadap masalah keuangan kita. Toh masih pacar kan kawan? Lain pasal kalau sudah punya istri. Beli Aeropress yang harganya 500 ribuan bisa ditanya panjang lebar mulai dari urgensi dengan perbedaannya dengan seduh tradisional. Atau beli Ethiopia Yirgacheffe 100 gram dengan harga 100 ribu bisa ditanya bedanya sama sebungkus kopi Kapal Api. Itulah istri, mereka yang punya akses penuh terhadap keuangan suami. Toh, rezeki suami kan berkat istri juga. Itulah mengapa antara hobi dengan istri selalu menjadi tantangan bagi kami yang sudah menikah. Eh, ini sih lebih banyak curahan hati atau mungkin pembenaran nantinya. Kalau menurut kawan bagaimana?

Urusan hobi seorang suami dengan persepsi dari seorang istri sering kali kontradiktif. Saya sering kali mendengar cerita kawan-kawan yang hobinya bertolak belakang dengan kepribadian sang istri. Urusan hobi memang tidak bisa ditawar-tawar. Ada yang terang-terangan menunjukkan hobinya di depan istri, bahkan bisa berdiskusi untuk menentukan mana yang harus dibeli terlebih dulu. Ada juga yang sembunyi-sembunyi belanja kebutuhan hobi. Kalaupun terlihat oleh istri, biasanya faktur pembelian sudah diamankan terlebih dulu. Ini sih supaya bisa memberikan alasan kalau barang yang baru dibeli tidak mahal harganya. Padahal sudah dipotong 70% dari harga aslinya. Hehehehe. Ada banyak cerita lucu tentang suami yang ketahuan belangnya saat membeli kebutuhan hobi. Ini sih seperti yang saya alami dulu ketika sebuah grinder Porlex terpajang di lemari. Istri saya langsung kaget bukan kepalang setelah tau harganya. Kalau kawan mau tau, silahkan lihat sendiri di philocoffee. Si Bunda bisa saja marah, tetapi tidak jadi karena dia mulai sadar dengan hobi suaminya ini. Hihihihi. Makasih banyak ya Bunda sayang. Setelah itu, si Bunda lebih banyak menahan nafsu belanja hobi saya. Kalau hanya membeli biji kopi lokal tidak masalah, tapi kalau sudah urusan beli alat seduh manual, si Bunda harus tahu berapa harganya. Kalau terlalu mahal, ya saya harus bisa memastikan dapur tetap ‘ngebul’. Jadi, sekarang solusinya, semua honor kepanitian di kantor menjadi hak penuh saya. Gaji yang masuk ke rekening itu semua masuk kendali sang istri. Ini mungkin bisa jadi solusi buat kawan-kawan yang kerjanya berharap gaji bulanan. Hehehehe.

Suami yang berkeinginan belanja hobi tanpa bersitegang dengan pasangannya mungkin harus mempertimbangkan beberapa hal ini. Apa yang akan saya ungkapkan ini hanya berdasarkan pandangan pribadi sih. Kawan boleh terima atau menolak.

Jangan berbohong

Istri mana yang senang dibohongi? Tidak ada. Jadi, lebih baik menyampaikan keinginan belanja dengan baik ke istri. Pakai alasan yang bisa diterima secara rasional. Terkadang kita tidak berpikir rasional kalau sudah berurusan dengan hobi. Biarlah istri menjadi badan pertimbangan, supaya tidak ada penyesalan ke depannya. Menutupi kebenaran juga bisa dikatakan berbohong. Misalnya tidak menunjukkan faktur pembelian. So, don’t lie.

Ajak istri merencanakan daftar belanja

Urusan hobi itu selalu update. Tidak akan pernah ada habisnya. Kalau kita tidak merencanakan dengan baik daftar belanja, bisa saja kita masuk dalam golongan yang konsumtif. Ajaklah istri untuk merencanakan daftar belanja anda. Jelaskan potensi investasi yang bisa didapatkan jika membeli barang hobi terbaru. Perencanaan daftar belanja bersama istri bahkan bisa menjadi cara kita untuk lebih dekat (baca: mesra) dengan istri.

Bicarakan daftar belanja di saat yang tepat

Seringkali pertengkaran terjadi saat kita memilih waktu yang tidak tepat dalam membicarakan daftar belanja. Diskusi seperti ini perlu momen yang tepat. Jangan bicarakan daftar belanja saat pulang kerja. Atau saat keluar jalan-jalan dengan istri. Pilihlah waktu saat duduk berdua di ruang keluarga, mungkin juga di kasur sebelum atau sesudah “aktivitas”. Hihihihi.

Berikan edukasi tentang hobi kita ke istri

Cara ini mungkin bisa dijadikan pilihan yang lebih baik. Ajaklah istri untuk tertarik dengan hobi kita. Bukankah lebih asyik kalau kita punya hobi yang sama dengan istri. Tiga poin di atas akan lebih mudah untuk dilakukan. Berikan edukasi kepada istri. Siapa tau dia akan tertarik dengan hobi kita. Kalaupun tidak tertarik, setidaknya dia tau bagaimana rasanya punya hobi seperti kita. Paling tidak dia akan kompromi dengan hobi kita.

Jadikan hobi menyenangkan untuk menghasilkan pendapatan

Orang yang mendalami hobi dengan serius suatu saat akan mencapai suatu kondisi di mana hobi itu akan menghasilkan penghasilan. Hampir semua orang yang serius sekali dengan hobinya pada akhirnya memiliki pendapatan yang besar dari hobinya sendiri. Setidaknya ini yang akan menyenangkan sang istri. Hehehe

Saya kira hanya itu yang bisa saya bagikan saat ini. Semoga bermanfaat buat kawan-kawan. Itu aja sih.

Advertisements