Tags

Kawan yang baik hati, apa yang ada di pikiran kawan ketika ada seorang kawan memutuskan keluar dari instansi pemerintah demi mengurusi keluarganya? Tentu jawaban kawan akan beragam. Ada yang mungkin akan mendukung, tetapi tidak sedikit juga akan mengatakan itu keputusan buruk atau gila. Bayangkan saja kawan, ketika seorang suami yang bekerja sebagai PNS akan lebih mudah mengajak istrinya untuk pindah bersama. Itupun masih ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Kalau si istri bukan PNS, tentu bukan masalah, tetapi kalau si istri juga PNS di wilayah lain tentu jadi masalah. Nah, bagaimana kalau si istri yang justru PNS di daerah yang jauh dari suaminya? Si suami bekerja di sektor swasta yang juga terikat kontrak.

Ada beberapa opsi yang dapat ditempuh. Opsi pertama, si Istri harus mengurus kepindahannya ke wilayah suami. Biasanya hal ini tidak mudah karena sarat dengan praktik Kolusi dan Nepotisme. Sudah bukan rahasia lagi kan kalau urusan menjadi PNS ini selalu berkaitan dengan uang suap? Saya tidak mengatakan semua tempat begitu, tetapi sebagian besar begitu adanya. Contohnya saja istri saya yang mau mengurus kepindahan dari Kabupaten Way Kanan ke Bandar Lampung. Oknum Badan Kepegawaian Daerah meminta uang “tebusan” sebesar Rp. 35 juta. Belum lagi ada Keputusan Bupati bahwa PNS Daerah tidak boleh pindah sebelum mencapai masa bakti 10 tahun. Opsi membayar seperti itu tentu bukan pilihan yang tepat atau tidak tepat sama sekali. Bukankah tindakan suap ini dilarang hukum formal maupun hukum agama?

Opsi kedua adalah mendekati beberapa pejabat penting di daerah tersebut. Lebih beruntung lagi kalau ada kerabat yang menjabat suatu jabatan di daerah itu. Tentu akan lebih mudah untuk mendapatkan rekomendasi pindah ke wilayah yang diinginkan. Tetapi ini jelas praktik Nepotisme dan tidak berasaskan keadilan yang merata.

Opsi ketiga adalah dengan menunggu sampai masa bakti 10 tahun. Lalu setelah itu baru mengurus kepindahan. Itu pun masih memungkinkan tetap melewati opsi pertama dan kedua. Opsi ketiga ini tentu bukan pilihan tepat juga. Opsi terakhir adalah berhenti. Ini adalah opsi terberat untuk dipilih oleh seorang PNS. Bahkan opsi ini bisa dikatakan opsi gila. Bagaimana mungkin meninggalkan pekerjaan yang “prestisius” ini? Sedangkan banyak sekali orang memilih untuk menyuap demi mendapatkan pekerjaan sebagai PNS. Alasan demi berkumpul bersama dengan keluarga bisa menjadi alasan absurd. Nah, inilah yang dialami oleh sebagian besar kawan di luar sana dan termasuk saya sendiri.

Sebenarnya terlalu sederhana permasalahan seperti ini. Kalau tidak mampu melewati tiga opsi yang pertama saya sebutkan, opsi keempat adalah pilihan paling tepat. Kenapa bisa begitu? Coba bayangkan betapa bahagianya ketika bisa berkumpul dengan keluarga. Alasan ekonomi tidak bisa dijadikan patokan bahwa hidup akan bahagia. Saya sendiri tidak bisa membayangkan seperti apa hidup saya akan datang. Saya hanya bisa menikmati hidup hari ini dan itu lebih baik ketika saya bersama keluarga. Saya kira kawan akan sepakat dengan saya. Kita tidak akan pernah hidup di esok hari karena buktinya kita masih di hari ini untuk lebih baik dari hari kemarin. Jadi keputusan istri saya untuk berhenti dari PNS demi keutuhan keluarga jauh lebih penting dari berjauh-jauhan demi prestis semu.

Oke, mungkin ada yang berpendapat bahwa opsi pertama bisa dilakukan dengan meminjam uang di bank. SK PNS bisa “disekolahkan” di bank lalu digunakan untuk mengurus kepindahan. Baiklah kawan, saya coba jelaskan dalam perhitungan matematisnya.

Kalau meminjam uang Rp. 35 juta dengan skema bunga 1% per bulan. Anggap uang itu dilunasi dalam masa 4 tahun. Maka setiap bulan harus membayar Rp. 1,3 juta selama 36 kali. Gaji PNS golongan 3B hanya kisaran 3 juta. Jadi setiap bulan akan tersisa 1,7 juta. Uang sebesar itu akan digunakan untuk biaya hidup dan akomodasi. Gaji Nanny untuk menjadi pengasuh anak kisaran Rp. 700 ribu. Jadi uang makan dan akomodasi habis 1 juta. Itu perhitungan dari sudut pandang uang. Psikologis anak tidak bisa diabaikan karena pendidikan pertama mereka adalah apa yang mereka lihat di rumah. Kalau tinggal bersama nanny, sifat mereka akan cenderung mendekati kebiasaan si nanny. Inilah yang mungkin tidak diperhitungkan oleh sebagian besar orang.

Makanya, bagi mereka yang mengatakan bahwa keputusan berhenti dari PNS demi keutuhan keluarga adalah keputusan gila atau buruk. Mungkin saya bisa menyarankan anda untuk coba melihat dari sudut pandang kemanusiaan. Jangan menilai kehidupan orang lain dari sudut pandang kebendaan. Hidup terlalu singkat untuk dilalui sendiri, apalagi bagi mereka yang sudah berkomitmen untuk hidup berkeluarga tetapi terpisah karena urusan PNS ini. Oh ya, hidup bukan soal pandangan orang lain terhadap kita, tetapi bagaimana kita memandang kehidupan kita sendiri.

Kalaupun pilihan untuk menjadi sesuatu adalah pilihan mantap seseorang, itu tidak bisa diganggu lagi seperti berani membayar ratusan juta rupiah demi bekerja sebagai PNS. Kalau saya sih, it’s not my style. Saya salut dengan beberapa dari kawan yang memang punya niatan mengabdikan dirinya pada negara. Bahkan harus berjuang di jalur resmi tanpa “bayaran” sama sekali. Tetapi bagi kawan yang curang, anda “sungguh terlalu”. Itu sudah.

Advertisements