Tags

Seorang kawan lama tiba-tiba menghubungi saya beberapa hari yang lalu. Saya bisa menebak alasannya menemui saya. Bukan urusan tawaran ikut MLM atau asuransi seperti beberapa kawan lainnya ketika muncul mendadak di hadapan saya. Kawan satu ini ingin bercerita atau curhat sih tentang kehidupan rumah tangganya. Kawan saya ini cowok dan agak aneh ya cowok saling curhat tentang kehidupan mereka. Tapi saya anggap ini untuk membantu dia sekaligus membantu diri saya sendiri. Kisah kawan ini juga pernah saya tulis di blog jadi saya tidak akan menyebut identitas beliau. Sebenarnya saya berpikir berkali-kali untuk memutuskan apakah kisah dia tepat untuk dituliskan pada blog ini. Saya takutnya malah saya tidak sengaja curcol (curhat colongan) tentang masalah kehidupan rumah tangga saya sendiri hehehe. Biarlah urusan rumah tangga saya menjadi urusan saya dan istri. Bukan untuk konsumsi publik seperti selebritas tanah air ini. Saya menceritakan kisah ini pun tentu sudah mendapat izin dari kawan saya. Inilah susahnya kalau teman curhat itu seorang blogger hehehe. Saya berharap ada pelajaran yang bisa diambil dari permasalahan ini.

Ceritanya begini, kawan saya baru saja diberi tanggung jawab besar untuk menjadi seorang ayah bagi putri kecilnya. Saya turut gembira karena kawan saya ini sudah lama menunggu kehadiran anak dalam kehidupan rumah tangganya. Sejak dulu, dia dan istrinya tinggal di kota yang berbeda. Selayaknya fenomena keluarga masa kini yang harus berpisah karena pekerjaan mereka. Saya juga begitu sih, tapi sedang dalam rencana untuk tinggal bersama setelah saya kembali lagi ke Lampung. Eh, curcol hehe. Nah, kehadiran anak dalam kehidupan mereka menjadi masalah baru karena si kawan ini sulit untuk berperan penuh sebagai ayah. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menemani istrinya mengurus bayi mereka. Jarak Bandung dan Magelang (lokasi samaran) memang menjadi masalah tersendiri bagi mereka. Si kawan ini datang ke saya karena juga tau kalau saya dan si Bunda Aira juga bekerja di daerah yang terpisah jauh. Setidaknya 5 jam perjalanan menggunakan transportasi umum.

Kawan saya ini pada awalnya ingin berhenti kerja saja karena tidak tahan dengan kondisinya sekarang. Namun, si istri tidak ingin suaminya berhenti karena itu adalah pekerjaan yang telah lama dicita-citakan oleh sang suami. Si istri yang justru ingin pindah ke Bandung namun tidak tega pada orang tuanya. Belum lagi pekerjaan si istri adalah PNS di Magelang yang menjadi kebanggaan bagi orang tuanya. Dilema memang karena karir si suami juga sedang menanjak dan si istri juga sedang dapat kepercayaan lebih dari atasannya. Akhirnya, anak mereka diasuh oleh nanny. Si istri terkadang tidak puas dengan minimnya kehadiran suaminya di kehidupan dia dan anaknya. Si suami juga merasa ingin menjadi ayah dan suami yang utuh dengan keberadaan istri dan anaknya di rumah mereka. Tetapi mereka sama-sama tidak ingin meninggalkan pekerjaan mereka sendiri. Mereka takut suatu saat akan kesulitan di sisi ekonomi kalau salah satu dari mereka berhenti kerja. Sekalipun suami bekerja di sektor swasta tetapi memang sudah tanggung jawabnya sebagai suami untuk bekerja menafkahi keluarga. Si istri tidak bisa meninggalkan pekerjaannya karena PNS itu pekerjaan prestisius di mata keluarganya. Dilematis sekali kan? Akhirnya mereka tidak berani untuk memutuskan seperti apa kehidupan rumah tangga mereka sendiri. Ibarat kata biar mengalir dulu sambil dipikirkan. Istilah Jawa-nya dipikir karo mlaku. Ini sebenarnya masalah umum bagi suami istri pekerja. Lalu apa yang dapat saya sarankan ke dia?

Saya sih hanya mendengarkan curhat kawan ini. Saya tidak bisa memberikan solusi sepenuhnya ke kawan saya. Saya hanya bisa menceritakan langkah-langkah yang saya dan Bunda Aira putuskan untuk tinggal bersama. Saya berharap si kawan ini dapat mengambil poin-poin cerita saya. Setelah itu, silahkan dia tentukan solusi rumah tangganya sendiri dengan istrinya. Saya bukan Mario Teguh atau Gede Prama yang bisa dengan tenang memberikan solusi. Saya sendiri masih terus berusaha dan belajar untuk menjadi seorang ayah dan suami.

Saya hanya ingin menggarisbawahi urusan rumah tangga yang terpisah jarak antara suami dan istri. Ini bukan masalah satu dua orang, tetapi ada ratusan bahkan mungkin ribuan orang di Indonesia. Urusan pekerjaan selalu menjadi penyebab suami dan istri terpisah jarak. Semua tentang ekonomi keluarga. Lalu yang menjadi korban adalah anak. Saya pernah mendengar kisah teman kantor si Bunda yang terpisah jarak dengan suami dan anaknya. Suaminya bekerja di Palembang dan anaknya diasuh oleh nenek. Setiap dua minggu sekali mereka berkumpul bersama di tempat ibunya kawan si Bunda ini. Saya sendiri tidak bisa membayangkan kalau Aira saya titipkan ke ibu mertua. Anak saya ini butuh orang tua, bukan kiriman uang dari orang tuanya yang jauh. Begitu juga keluarga yang mengalami hal sama, seperti kawan saya ini. Lalu solusinya apa? Musyawarah dan mufakat menjadi solusi utama. Kita harus menanyakan tujuan utama kita membangun rumah tangga? Tapi sebelum itu, yang paling dasar adalah apa definisi kita tentang rumah tangga itu sendiri. Bagi saya sendiri, rumah itu harus lengkap komponennya dan dibangun dalam lokasi yang sama. Mana ada rumah dibangun dengan atap dan pondasi di lokasi terpisah.

Kalau saya melihat dalam konteks dasar kehidupan suami istri, tentunya berdasarkan agama Islam, suami adalah penanggung jawab terbesar terhadap baik buruk rumah tangganya. Suamilah yang menjadi garda terdepan untuk pembentukan karakter anak dan dibantu oleh istri yang menanamkan pendidikan dasar. Istri itu adalah pesantren pertama bagi anak. Lalu bagaimana kalau si anak diasuh oleh nanny? Ya tentunya pesantren pertamanya adalah si nanny. Makanya ada istilah β€œanak pembantu”. Suami punya tanggungjawab ekonomi dan moral untuk membuat rumah yang sakinah, mawaddah, wa rohmah bagi istri dan anaknya. Saya menyadari akan hal itu, makanya saya dan si Bunda sepakat untuk membangun rumah tangga kami sendiri dengan jerih payah bersama. Apapun ucapan orang tentang kami, akan kami terima dengan bijak. Ucapan baik akan kami jadikan acuan dan ucapan buruk akan kami buang begitu saja. Kami menyadari bahwa untuk membangun keluarga yang bahagia bukan dengan menjadi kaya raya atau punya jabatan tinggi. Keluarga bahagia itu bisa tertawa sekalipun dalam keadaan susah. Uang penting, jabatan juga penting, tapi lebih penting adalah keluarga yang setia pada agamanya. Kalau kita yakin pada kekuasaan dan kekayaan Allah SWT, kenapa kita harus takut meninggalkan pekerjaan demi tujuan yang luhur dalam membangun keluarga? InsyaAllah akan ada jalan kemudahan selama kita mau berdoa dan berusaha. Tentunya juga tidak putus asa karena Allah akan menguji keteguhan hati kita dalam menjalankan keputusan kita sendiri. Sama halnya ketika saya memutuskan untuk kuliah di ITB, tentunya ITB mensyaratkan Tesis sebagai ujian sebelum menyandang gelar MT. Bukan perkara mudah untuk melakukan itu. Kalau tidak berani mengambil keputusan, ya tentunya kita tidak akan pernah sampai pada tujuan kita. Semua ada proses dan setiap proses harus di-assesst sebelum dinyatakan layak. Begitu juga keputusan dalam rumah tangga. Jadi saya harap si kawan tadi membaca postingan ini. Masalah dia menjadi pelajaran bagi saya dan kawan sekalian. Jadi, kawan punya solusi lain tidak?

Advertisements