Tags

, ,

Well-Known World Brand Logotypes

Manusia modern itu cenderung konsumtif. Jadi tidak heran jika saat ini banyak sekali brand produk yang bermunculan di pasaran. Ada yang sifatnya eksklusif dan ada juga yang terkesan asal dijual. Perilaku konsumtif masyarakat modern tentu juga tidak lepas dari gempuran iklan yang memanjakan mata sehingga menimbulkan hasrat yang kuat untuk memiliki suatu barang. Kebiasaan seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak dimulainya revolusi industri ratusan tahun silam dan sampai saat ini berevolusi menjadi kekuatan tersendiri. Manusia modern sudah tidak mampu menciptakan sendiri produk konsumsi mereka karena terlalu sibuk dengan gaya hidup modern yang serba instan.

Kebiasaan konsumtif juga akhirnya melahirkan pola pikir yang selalu terpusat pada merk/brand produk tertentu. Intinya mereka akan selalu menganggap bahwa produk yang mereka gunakan adalah yang terbaik. Saya mengistilahkannya dengan Brand Minded. Muncullah semacam fanboys (pengguna setia produk Apple), Mi-Fen (fans produk Xiaomi), Nikonian (fans berat kamera Nikon), dan banyak lagi.

Brand minded bisa juga disebut dengan loyal buyers atau pembeli setia. Biasanya mereka akan selalu update terhadap perkembangan produk dari brand kesukaan mereka. Tentunya ketika ada produk baru yang keluar, mereka akan berusaha untuk memilikinya. Perilaku ini sebenarnya memberikan keuntungan bagi perusahaan karena mereka memiliki pembeli yang selalu setia terhadap produk mereka. Masalahnya ada pada pengguna setia ini yang cenderung tidak punya perencanaan dalam membelanjakan uang mereka. Sebenarnya tidak terlalu bermasalah dengan hal itu kalau kemampuan finansial mereka tinggi.

Orang yang brand minded juga akan selalu mengesampingkan rasionalitas. Misalnya ada review negatif tentang produk dari brand kesukaan mereka, orang seperti ini akan membela habis-habisan dan menghina produk lainnya. Apalagi ketika ada review perbandingan dua brand dengan produk serupa. Tentu akan bermunculan fans dari masing-masing brand yang di-review. Contohnya perdebatan antara pengguna DSLR Canon dengan Nikon yang tidak kunjung usai. Saya sendiri pengguna Canon tetapi tidak pernah menganggap bahwa Nikon berada di bawah Canon. Masing-masing brand memiliki keunggulannya tersendiri. Saya mengutip ucapan dari fotografer senior di Kompas Media, Arbain Rambey. “Kalo kalian masih mempermasalahkan apakah Canon atau Nikon lebih baik, berarti kalian belum tau apa itu fotografi. Semua itu masalah rasa aja”, ujar Om Arbain saat mengisi seminar di ITB.

canon

Saya sendiri sebenarnya brand minded juga dalam arti yang lebih positif (haha ini terkesan sedikit membela diri). Saya punya pilihan brand tertentu dalam menggunakan suatu produk. Misalnya kalau urusan tas ransel dan sandal saya lebih sering memilih produk dari Eiger. Harganya tentu sedikit lebih mahal dari produk serupa dengan brand lainnya. Tetapi sejak awal saya sudah tertarik dengan semua produk dari Eiger. Salah satu yang membuat saya lebih memilih brand Eiger karena ketahanan dan tentu saja pengalaman dalam menggunakannya. Kalau urusan gadget sebenarnya saya adalah fanboys sejati tanpa memiliki produknya. Maklumlah produk Apple mahal sekali tetapi saya sangat menyukainya. Apapun review jelek tentang produk Apple tidak akan membuat saya berbelok dari produk mereka. Mungkin suatu saat saya akan memiliki satu dari sekian produk Apple. Aamiin.

Kalau ingin ditelisik lebih dalam lagi ke masalah brand minded, saya melihat ada satu benang merah yang menyatukannya. Experience atau pengalaman dalam menggunakan produk dari brand tertentu. Saya jadi ingat dengan ucapan mendiang Steve Jobs, “Don’t sell product, sell experience”. Pengalaman yang melekat pada pengguna inilah yang menjadikan mereka sangat cinta dengan brand tertentu. Hal ini juga yang melahirkan fans club bagi brand tertentu. Saya rasa pengalaman menggunakan produk itu menimbulkan rasa senang dan bahagia ketika memilikinya. Sekalipun terkadang di luar ekspektasi tinggi kita terhadap produk brand kesukaan, tetapi kita akan cenderung lebih mudah untuk kompromi dan memaklumi kekurangan itu. Setidaknya itu yang pernah saya rasakan.

Jadi, brand minded saya rasa bukan sesuatu yang melulu negatif. Ada hal yang positif juga di dalamnya. Perusahaan pemilik brand tertentu harusnya melihat hal ini sebagai salah satu peluang untuk tetap menjaga pengguna setia mereka. Seharusnya produk dalam negeri juga harus mampu menciptakan ekosistem konsumen setia seperti itu.

Advertisements