Tags

Pernahkah kawan sekalian mendengar istilah “Juragan Bogor”? Nah, kalau belum kali ini saya tertarik untuk membahas kebiasaan sebagian manusia Indonesia. Seseorang yang menjadi Juragan Bogor akan identik dengan kondisi keuangan yang semrawut. Apalagi momen mudik dan balik lebaran adalah waktu yang tepat untuk melihat banyak Juragan Bogor berkeliaran. Lha, kok bisa dinamakan Juragan Bogor yah? Trus si Juragan Bogor ini melakukan apa saja sehingga cenderung berkonotasi negatif?

Tidak banyak orang mengenal istilah Juragan Bogor ini. Saya sendiri mengenal istilah tersebut setelah bekerja di Bandar Lampung. Mungkin saja istilah ini hanya dikenali oleh orang-orang di Sumatera, atau entahlah. Saya sendiri sulit untuk menemukan asal mula ditemukannya istilah ini. Hanya saja, saya sering mendengar istilah ini diasosiasikan ke orang yang menghabiskan uang untuk berbelanja tanpa memikirkan dampak defisit finansial bagi dirinya. Tujuan utamanya agar bisa dipandang sebagai orang yang berduit. Jadi, intinya “Biar Tekor Asal Kesohor”. Jangan tanyakan kenapa harus Bogor, bukan kota-kota lain di Indonesia. Ini hanya pendapat saya, mungkin karena di Bogor banyak sekali juragan yang menghabiskan hartanya untuk kesenangan saja, seperti memiliki vila pribadi. Sekali lagi, itu cuma asumsi saya pribadi.

Kebiasaan Juragan Bogor seringkali menjadi masalah unik di Indonesia. Contohnya? Orang yang merantau ke ibu kota Jakarta dan bekerja bertahun-tahun. Setelah itu, momen mudik lebaran digunakan untuk ajang pamer penghasilan bekerja di kota besar. Ada yang membeli mobil atau motor. Ada juga yang menyewa mobil. Ada yang memborong oleh-oleh secara berlebihan untuk dipertontonkan ke sanak saudara di kampung halaman, betapa suksesnya mereka di kota besar. Tetapi setelah itu, keuangan mereka ‘seret’ atau bahkan defisit. Kepuasan akan pujian semu membuat kebanyakan orang yang berperilaku sebagai Juragan Bogor akhirnya harus bekerja lebih keras lagi untuk mengatasi kondisi keuangan mereka.

Juragan Bogor bukan hanya muncul ketika momen lebaran atau liburan. Tetapi, seringkali juga menjadi kebiasaan suatu kelompok masyarakat (etnis) tertentu. Nah, untuk Juragan Bogor tipe ini saya tidak ingin menyebutkan secara spesifik etnis atau suku mana. Nanti malah dianggap mendiskreditkan suku tertentu dan cenderung menghina SARA. Cukup gambaran perilaku mereka saja saya jelaskan. Ada etnis atau suku tertentu yang sering mengadakan pesta berlebihan tanpa melihat kemampuan keuangan mereka. Misalnya, ada yang anggota keluarga mereka yang menikah, diadakan pesta selama tujuh hari tujuh malam untuk menjamu masyarakat sekitar. Belum lagi makanan yang disajikan serba wah, akhirnya kebanyakan dari mereka akan terlilit hutang setelah pesta pernikahan. Lebih buruk lagi, ada anggota keluarga yang menyumbangkan sapi curian untuk disajikan saat pesta. Ini tentunya sudah keterlaluan.

Sebenarnya, saya sendiri juga pernah berperilaku Juragan Bogor. Bahkan ketika masih bujang, pernah sekali saya kehabisan uang karena mentraktir teman makan di warung makan. Sedangkan saya sendiri makan mi instan di kontrakan. Memalukan sekali ketika mengingat hal itu. Saya kira, teman sekalian juga pernah mengalami hal itu. Tetapi kebiasaan Juragan Bogor harus sebisa mungkin dihindari karena lebih sering menyusahkan diri sendiri dan keluarga. So, daripada jadi Juragan Bogor mending jadi Juragan Beras atau Juragan Ikan. Lebih produktif. Hehehe.

Advertisements