Tags

, , ,

Saya sangat senang mendengarkan musik. Siapa sih yang tidak senang mendengarkan musik? Mungkin orang yang memang memiliki permasalahan dengan pendengaran. Musik memberikan warna tersendiri dalam kehidupan seseorang. Warna ini yang membuat setiap orang memiliki selera musik yang berbeda-beda. Saya sendiri menyukai musik klasik Beethoven, Vivaldi, Mozart, dan JS Bach. Saya juga musik Depapepe, Dave Koz, dan tentunya musik Bollywood. Hah, Bang Akrie suka musik bollywood? Tak perlu malu karena bukan aib ketika seorang lelaki menyukai musik Bollywood, sama halnya dengan dangdut. Selama ini saya senang mendengarkan lagu atau musik menggunakan earphone atau headphone. Jarang sekali saya menggunakan loud speaker untuk menikmati musik saya. Alasannya mungkin karena tidak enak ketika tetangga dengan suara loud speaker dan saya lebih sering bepergian sehingga lebih enak mendengar menggunakan earphone atau headphone. Saat itu saya belum menjadi audiophile, bahkan saya belum tau kalau ada istilah seperti itu. Nah, awal November saya berkenalan dengan istilah ini setelah membaca status Facebook seorang teman. Dia hanya menuliskan “Menikmati irama mozart dan canon lewat HD660 #berkat_kere_hore” dan langsung mencari tau apa itu HD660 dan kere hore karena penasaran. Ternyata saya menemukan sebuah komunitas audiophile di kaskus yang membahas perangkat audio yang memiliki kualitas melewati harganya. Besoknya saya langsung bertemu dengan teman saya ini untuk mencoba headphone HD660. Saya mendengarkan musik Four Season milik Vivaldi dan saya langsung jatuh cinta dengan kualitas suara HD660. Ternyata selama ini saya kehilangan beberapa detail dari musik yang sering saya dengarkan. Beda sekali ketika menggunakan dbE WS10 yang bass-nya terlalu dominan dan ternyata tidak sesuai dengan genre musik saya.

Sejak saat itu saya menjadi ketagihan dengan kualitas suara monitor headphone (HD660). Hanya ada beberapa kekurangan yang saya rasakan dari HD660 seperti clamping-nya yang terlalu ketat sehingga kepala saya terasa sakit ketika pemakaian dalam jangka panjang. Perlu modifikasi sendiri untuk kenyamanan dalam pemakaian. Setelah mencoba HD660, saya langsung hunting di BEC Bandung khususnya di Toko Jaben dan Warung Gadget. Banyak sekali pilihan di sana dan lebih enak lagi saya bisa mencoba semua tipe headphone dan earphone. Petugasnya juga tidak segan menjelaskan kualitas barang meskipun saya belum tentu ingin membelinya. Waktu itu saya meraih eargasm. Eits, jangan pikiran porno dulu yah kawan. Eargasm itu istilah ketika telinga kita menemukan kenikmatan dalam mendengarkan musik sesuai genre kita sendiri. Sekalipun sebentar saja karena waktu itu HP saya lowbatt, jadi tidak bisa dicoba untuk mendengarkan lagu favorit saya. Petugasnya menyediakan ipod dan beberapa lagu namun saya kurang sreg karena tidak ada lagu saya di sana, tapi tidak apa-apa karena bisa mencoba beberapa tipe headphone dan earphone.

Nah ada beberapa tips yang mungkin bisa kawan terapkan ketika hunting audio gadget (audisi). Setidaknya ini saya rangkum dari saran teman dan beberapa review di Kaskus. Tips utama adalah tentukan kekuatan budget anda sehingga nanti ketika audisi (mencoba headphone atau earphone) kita tidak mengaudisi yang harganya diatas batas budget. Saya melakukan hal berkebalikan ketika audisi beberapa waktu lalu. Waktu itu saya memang belum punya niat untuk membeli headphone, jadi langsung mencoba SHURE SRH440 dan SRH840 yang harganya masing-masing Rp. 1,5 juta dan Rp. 3 juta. Selain itu juga saya mencoba ATH M50 yang harganya Rp. 1,75 juta dan TAD300 yang sedikit lebih murah Rp. 550 ribu. Ketika saya mencoba Takstar HD2000 yang harganya Rp. 400 ribu, saya menjadi gusar dengan kualitas suaranya karena sebelumnya saya membaca review positif tentang headphone ini. Yah, wajar saja kawan karena saya membandingkan HD2000 dengan SRH840. Bagai langit dan bumi. Untunglah saat itu saya tidak mencoba Seinnheiser HD700 yang harganya Rp. 12,4 juta. Ternyata menjadi audiophile harus terbentur dengan kenyataan bahwa kekuatan budget menjadi syarat utama. Seperti kata pepatah ada rupa ada harga.

Tips yang lain adalah bawalah perangkat musik sendiri. Boleh ipod, mp3player, digital audio player (DAP), atau handphone. Bawa laptop juga boleh atau sekalian bawa PC saat audisi juga tidak dilarang. Lebih baik lagi format musik yang digunakan untuk audisi setidaknya mp3 320kbps atau FLAC (free lossless audio codec). Detail lagu akan terdengar lebih baik sehingga kita bisa meraih eargasm sesuai dengan genre musik sendiri. Jangan lupa juga baterai perangkat musiknya dipastikan sudah penuh. Tips lainnya lagi, jangan terburu-buru untuk memutuskan bahwa anda sudah menemukan headphone atau earphone yang sesuai. Eargasm tidak akan pernah diraih dengan cara yang sama, karena suatu ketika telinga kita perlu mendengarkan yang lebih baik lagi. Ini yang dikatakan oleh kalangan audiophile sebagai telinga emas. Berbeda dengan telinga kaleng yang menganggap semua perangkat sama saja rasanya. Tips selanjutnya, jangan lupa membaca beberapa review di forum internet. Saya menggunakan Komunitas Kere Hore sebagai referensi untuk mengetahui impresi orang lain terhadap headphone atau earphone yang saya incar. Memang kita tidak bisa menentukan pilihan saat itu juga, kecuali memang harga bukan lagi masalah bagi kita. Saya rasa kalau sudah banyak uang tidak perlu lagi melihat harga tetapi langsung pada kualitas, tapi sayang juga kalau beli perangkat belasan juta hanya untuk mendengarkan musik melalui HP atau komputer. Kecuali kalau memang kerjaannya berkutat dengan musik atau audio.

Audiophiles tidak akan pernah usai dalam meraih eargasm. Selalu saja ada yang kurang, so don’t blame your ears karena menjadi audiophile itu masalah hati dan tentunya isi dompet. Selamat audisi para audiophile.

Berikut beberapa penampakan Headphone yang saya bahas di sini.

Advertisements