Tags

, ,

Profesi dokter itu sebenarnya seperti guru. Dokter sendiri berasal dari kata latin yaitu guru, orang yang menggunakan keilmuannya untuk menyembuhkan orang sakit. Profesi yang mulia ini bahkan disumpah sebelum seseorang resmi mengembang tugas sebagai dokter. Tentunya juga menggunakan gelar dokter (dr.) di depan namanya. Sumpah dokter juga berisi sebuah perjanjian dengan Tuhan akan bakti mereka terhadap tugas mulia seorang dokter. Coba baca sumpah Hippokrates yang disempurnakan pada Deklarasi Jenewa dan digunakan oleh dokter Indonesia sebagai sumpah dokter.

Demi Allah, saya bersumpah bahwa :
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bermoral tinggi, sesuai dengan martabat pekerjaan saya;
Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan;
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagai mana saya sendiri ingin diperlakukan;
Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan;
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

Profesi dokter merupakan profesi yang masih sangat diminati di seluruh dunia. Apapun yang dilakukan oleh orang untuk kuliah kedokteran. Ada yang caranya jujur sesuai kemampuan dan ada juga yang menggunakan cara curang. Bahkan saya sendiri menemukan beberapa kasus dimana orang rela membayar mahal (lebih tepatnya menyogok) untuk dapat masuk ke fakultas kedokteran. Ada rekan saya sendiri yang membayar joki untuk menggantikan dia saat UMPTN. Ada juga yang orang tuanya rela mengeluarkan ratusan juta rupiah agar anaknya bisa kuliah di fakultas kedokteran. Ada juga dosen yang menjadi calo nilai untuk memuluskan mahasiswa kedokteran untuk lulus ujian. Cara-cara inilah yang menghasilkan dokter dengan kemampuan terbatas atau bisa saja melakukan malpraktik. Pertanyaannya, mengapa mereka begitu berambisi untuk menjadi dokter? Mungkin jawabannya tidak jauh dari uang. Jika melihat secara kasat mata profesi dokter memang sangat menjanjikan kemakmuran ekonomi. Hampir semua dokter yang kita lihat bisa dikatakan kaya. Jadi motivasi utamanya adalah mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan kemakmuran. Memang faktor ekonomi tidak dapat dinafikan. Semua orang juga ingin makmur di sisi ekonomi.

Apakah semua calon dokter seperti yang saya bahas di atas? Tentu tidak, karena saya memiliki banyak teman yang memang mampu dari segi pengetahuan sekalipun kurang mampu dari sisi ekonomi. Justru dengan menjadi dokter mereka dapat mengabdikan diri mereka kepada masyarakat miskin tanpa memikirkan imbalan besar. Saya tau mengapa mereka ingin menjadi dokter. Hampir semua karena keinginan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Semoga motivasi mereka tidak berubah saat menjadi dokter saat ini.

Bagaimana pula dengan kasus dr. Ayu dan dr. Franciska yang santer diberitakan di media belakangan ini? Apakah kesalahan yang ditimpakan mereka murni karena mereka hanya mengejar pendapatan tanpa melihat kondisi pasien? Saya tidak akan menyimpulkan apa-apa pada tulisan ini. Saya hanya ingin menyampaikan beberapa pendapat saya setelah mengikuti berita tentang mereka.

Pertama masalah dr. Ayu yang dijerat pasal tentang malpraktik oleh keluarga pasiennya. Kesalahan kecil dalam prosedur bedah ceasar menyebabkan pasiennya meninggal. Sebenarnya jika diikuti dari hasil rekam medis, sang pasien sudah mengalami kelainan saat akan bersalin. Puskesmas sendiri tidak berani menangani sang pasien karena riwayat melahirkan sebelumnya. Kesalahan kecil yang terjadi adalah dr. Ayu saat itu tidak memberikan informasi tersebut ke keluarga pasien. Itupun jika hal ini bisa dikatakan kesalahan, atau mungkin karena ada pertimbangan bahwa informasi tersebut akan membuat kepanikan. Pembiaran yang dilaporkan oleh keluarga pasien sebenarnya tidak dapat dilimpah seluruhnya kepada dr. Ayu dkk. Terkadang prosedur rumah sakit juga menjadi permasalahan utama. Seperti yang dialami oleh rekan saya sendiri saat istrinya akan dioperasi bedah ceasar. Rumah sakit mensyaratkan kepada rekan saya untuk membayar sejumlah uang, yang waktu itu mendesak. Untunglah rekan saya masih mendapatkan bantuan dari kantor untuk membayar persyaratan rumah sakit. Saya kira jika dokter ingin melakukan bedah sesegera mungkin pasti akan terkendala dengan aturan rumah sakit. Dokter sendiri pastinya harus tunduk terhadap aturan rumah sakit. Seperti itu juga kasusnya untuk dr. Ayu dkk. Miris sekali rasanya.

Kedua, masalah yang dialami oleh dr. Franciska. Seorang dokter disiram dengan kopi panas oleh keluarga pasien. Banyak sekali versi cerita yang saling bertolak belakang. Tapi saya memandang dari kedua sisi cerita, ada sebuah kejanggalan. Saya rasa jika hanya karena konsultasi sambil menggunakan telpon, hal ini tidaklah terlalu serius. Saya juga sering berhadapan dengan dokter yang harus menjawab telpon saat saya dan istri sedang konsultasi. Bagi saya hal ini biasa saja tidak harus sampai menonjok dan menyiram dokter dengan kopi panas. Jika ditelisik dari persoalan pasien dr. Franciska, sang penyiram tidak puas dengan jawaban dokter akan penyakit yang diderita oleh pasien yang diantarnya. Mungkin karena merasa tua dan terlebih lagi dia memiliki perusahaan farmasi, sehingga merasa bahwa dr. Franciska masih kurang berpengalaman.

Seharusnya kita sebagai pasien juga harus paham dan yakin bahwa dokter juga manusia. Kesembuhan bukan datang dari tangan dokter itu sendiri. Bahkan dokter pengalaman sekalipun pasti melakukan kesalahan atau pasti pernah menangani pasien yang meninggal. Saat kita percaya bahwa kesembuhan itu karena dokter, saat itulah kita sudah Menuhankan dokter. Kesembuhan itu berasal dari Allah SWT dan jika dikehendakiNYA maka kesembuhan itu akan disalurkan melalui dokter atau lewat media lainnya. Nah, kalau membahas apakah dokter lebih mengutamakan pendapatan dari pengabdian? Bukan bagian saya untuk menjawabnya. Semua itu tergantung pada orang yang berprofesi sebagai dokter. Harapannya semua dokter dan calon dokter mengutamakan pengabdian dibanding pendapatan karena saya yakin tidak ada dokter yang miskin jika mengabdikan dirinya dengan baik. Bukankah mereka telah bersumpah untuk itu?