Tags

, , , ,

Rumah sakit negeri

Rumah sakit negeri

VS

Rumah sakit swasta

Rumah sakit swasta

Pengalaman saya kemarin (20/9) setidaknya mempertunjukkan salah satu ironi negara ini. Ketika mastitis yang diderita oleh istri saya menjadi abses (post sebelumnya: Mahalnya Sehat, Lebih Mahal Sakit), kami memutuskan untuk menjalani tindakan insisi. Awalnya kami langsung menemui bidan ahli laktasi di RS St Borromeus Bandung untuk meminta rekomendasi. Lalu kami diarahkan ke dokter bedah dengan segera. Sesampai di dokter bedah, istri saya langsung diperiksa dan dijelaskan bahwa proses insisi harus dilakukan hari itu juga. Prosesnya cepat mulai dari pendaftaran sampai penanganan. Kami hanya menunggu kurang dari 15 menit untuk ditangani. Itupun karena antri dengan pasien lain yang sedang ditangani oleh dokter. Masalahnya biaya yang harus kami keluarkan tidak sedikit sehingga membuat saya berpikir bahwa harus dirundingkan dulu. Apalagi pegangan saya sangat minim. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari perbandingan harga.

Saya mengajak istri dan mertua saya, yang kebetulan datang menemani istri, menuju RSUD Hasan Sadikin Bandung. Sesampainya di sana, mata saya dipertontonkan dengan realita yang bertolak belakang dengan rumah sakit sebelumnya. Kondisinya padat, kotor, dan semrawut. Saya bahkan sempat kebingungan menggunakan mesin antrian karena terlalu banyak menu yang harus dipilih. Saat itu tidak ada petugas yang berada di dekat konter mesin antrian. Ketika giliran saya dipanggil, saya juga bingung dengan lokasi pintu masuk loket pelayanan. Tidak ada petunjuk arah dan akhirnya saya salah jalan karena mau masuk melalui pintu keluar. Ketika itu bukan hanya saya saja yang salah jalan. Di loket antrian saya mendaftarkan istri saya untuk bertemu dengan dokter bedah. Hal yang paling mengejutkan ketika kami menuju klinik bedah. Ruangan klinik begitu penuh sesak dan lantainya kotor. Beberapa dokter terlihat merumpi. Petugas loket yang tidak ramah bahkan beberapa calon pasien dimarahi karena tidak mengerti instruksi mereka. Ketika istri saya ditangani oleh dokter, saya memperhatikan semua kegiatan yang dilakukan oleh sang dokter. Mulai dari tidak mencuci tangan, tidak menggunakan sarung tangan, satu pasien dikerubuti oleh lebih dari satu dokter, dan ruangan bedah sempit dan kotor. Masalah belum selesai sampai di situ karena saya harus menuju loket IGD (Instalasi Gawat Darurat) untuk menanyakan biaya operasi. Di loket C saat itu, saya harus berdiri agak lama di depan loket sementara beberapa petugas loket sedang asyik menonton GTO (Great Teacher Onizuka). Mereka hanya melirik ke arah saya sebentar lalu kembali ke aktivitas menonton. Saat itu bukan hanya saya yang mengantri di loket. Seingat saya sekitar 15 menit baru petugas loket menemui saya lalu kembali ke komputer untuk melihat biaya yang harus saya keluarkan jika tindakan bedah dilakukan di IGD. Sang petugas menjelaskan ke saya dengan bahasa Sunda yang kental dan cepat. Saya hanya tinggal bengong karena satupun tidak bisa saya cerna. Ada yang unik juga karena untuk memesan ruangan saya harus menemui bapak Purnomo. Siapa lagi dia? Bukankah di bagian pendaftaran sudah seharusnya bisa diketahui ruangan yang tersedia? Untuk apa telepon dan sistem informasi yang mereka gunakan? Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke RS ST Borromeus. Di sana kami hanya butuh menunggu lima menit untuk ditangani dan langsung dipandu oleh suster perawat yang ramah.

Pengalaman kemarin menunjukkan bahwa antara rumah sakit swasta dan rumah sakit negeri bagaikan langit dan bumi. Setidaknya pendapat ini sesuai dengan kasus yang kami alami. Pelayanan rumah sakit swasta begitu ramah dan cepat. Belum lagi suasana ruangan yang tertata dengan rapi, bersih, dan wangi. Pasien dijunjung tinggi sampai ke langit sehingga rasa nyaman itu dianggap sebanding dengan biaya mereka yang selangit juga. Berbeda dengan rumah sakit negeri yang semrawut. Pelayanan yang tidak ramah dan terkesan lamban. Kondisi ruangan yang tidak tertata rapih dan kotor. Kondisi ini bisa membuat yang sakit semakin sakit, dan yang sehat ikutan sakit. Perih hati ketika melihat kualitas pelayanan kesehatan yang dikelola oleh pemerintah. Keramahan dan kenyamanan hanya slogan saja, tidak terjadi pada realita. Rumah sakit negeri memang di bumi. Pasien lebih dekat dengan tanah sehingga mudah ketika mati tinggal diserahkan ke bumi kembali. Berbeda yang di langit bahwa kematian karena kehendak langit itu sendiri.

Seharusnya dengan seperti itu, pemerintah harus memperhatikan kualitas layanan rumah sakit mereka. Apalagi rumah sakit negeri adalah pilihan bagi sebagian masyarakat kelas bawah dan menengah. Jangan hanya karena mereka yang datang menggunakan biaya jaminan kesehatan sehingga tidak begitu dianggap. Inilah yang menunjukkan bahwa jaminan kesehatan dari pemerintah tidak sebanding dengan layanan rumah sakit yang melayaninya. Kenapa bisa begitu? Sering saya mendengar dari cerita istri (kebetulan dia PNS Kesehatan) saya bahwa rumah sakit terkadang malas menangani pasien pengguna jaminan kesehatan karena pemerintah sering telat membayar pengganti biaya ke rumah sakit. Belum lagi tahun depan diberlakukan Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola BPJS Kesehatan atau ASKES. Takutnya dana yang triliunan itu hanya habis dimakan oleh pejabat dinas kesehatan. Sungguh ironi yang menggelikan.

Kami sakit semakin sakit
Rumahmu juga sakit
Doktermu juga sakit
Bagaimana aku sehat tuan?
Enyah saja cari yang lain
Pulang saja tinggal mati
ย 
Advertisements