Jengahku di Balik Lelah

Sekali ini hanya satu
Di balik meja kerja
Aku menekan deretan abjad
Bukan untukku, tapi mereka
Aku tau ini hanya awal
Di semua akhir yang tak diharapkan
Jangan tolak sekalipun kau tak terima
Biarlah mereka tau
Belajar tak tentu senang
Aku tau, kau juga tau
Angka hanyalah angka
Begitu juga kata
Aku titipkan semua jengah
Sesuaikan harapan
Atau hanya penyesalan
Aku tak pernah sempurna
Dari semua yang menjadi cerita
Bandar Lampung, 3 Januari 2017

Severe Mental Block

Tags

, , , ,

thomas-a-edison-iitsaffirmations

It’s been awhile for me not writing on this my very own blog. Actually, I’ve spent a lot of time for not pushing myself to write again. I think this is a severe mental block. I even don’t know why am I wasting my time to doing nothing but only sticking my nose to my smartphone. This is maybe a some reason why this blog being neglected. My mental block caused by being dumb using smartphone.

Lately, I’m not having any idea to written in my blog. I’m extremely busy by doing my work at the office. I have a lot student to supervised their thesis. I have a lot of class to teach. I have a lot stacking work to do. I could blame that. Cliche. Maybe I’ve been distracted by many things and I blame that for being my mental block. Or maybe it’s not a mental block. It’s mental illness. Maybe. Hahaha. I don’t want to lose my ability to write my thought. What can I do if I don’t write again? It’s the only thing that can at most. I can’t back in time to be a Programmer or pursuit on my new passion on Coffee. I’ve made choice to be a lecturer and lecturer must write. Even it’s only a haggish blog. I’m afraid this mental block drive me to give up on writing.

So, I decide, in middle of my teaching class, I write about this mental block thing. Hope this can be continued in the future. So, I can write again like I used to. I’ve read this good article about get away from mental block. Just take a look at this article’s link. Hope can help you to to get away from mental block. I only can write this short post. Next time, hope I can write a long story with a good English writing. Sorry about the grammar. Hihihi.

Idealisme, Kemakmuran, dan Perjuangan

Tags

, , , ,

Jangan campurkan idealisme dengan urusan perutmu, lambat laun idealismemu akan luntur. –Mas Dudi, 2013-

Masih teringat dengan jelas pernyataan Mas Dudi, rekan seperjuangan di ITB dulu. Idealisme tidak akan pernah berbaikan dengan urusan perut, apalagi urusan di bawah perut. Orang yang bertahan dengan idealismenya sering kali hidup dengan sederhana. Jarang sekali dari mereka hidup dengan bergelimang harta. Sekalipun mereka berada di puncak karir yang baik, kehidupan mereka tetaplah sederhana. Bahkan di akhir hayatnya hanya mati dengan sederhana, tidak jarang juga ada yang tragis kepergiaanya. Sebut saja Soekarno yang mempertahankan idealismenya dalam memimpin Indonesia. Beliau harus hidup dari satu pengasingan ke satu pengasingan lainnya. Beliau sudah menikmati kehidupan dalam penjara sampai pada kehidupan di istana. Soekarno tetaplah Soekarno. Beliau tetap hidup dengan idealisme, walaupun di akhir karirnya beliau digoyahkan oleh persoalan komunisme. Bung Hatta juga hidup dengan penuh idealismenya. Apakah di akhir hayatnya hidup makmur? Tidak, Bung Hatta tetap hidup sederhana. Mungkin ukurannya lebih baik dibandingkan dengan pejuang lainnya.

soekarno

Idealisme harus diperjuangkan kawan. Kita tidak akan pernah bisa mempertahankan idealisme jika tidak berjuang. Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan seorang Soekarno dan kawan-kawan memperjuangkan nilai Pancasila untuk Indonesia. Mungkin itu terlalu jauh dengan konteks kehidupan saat ini. Soekarno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Ada saja kisah di mana orang yang memperjuangkan idealismenya harus berhadapan dengan orang terdekatnya. Kisah seperti Baba Akong yang tetap menanam bakau sekalipun dianggap gila oleh tetangganya. Channe Brule yang rela meninggalkan negaranya untuk mengurusi hewan di Kalimantan. Tindakan gila yang dianggap tidak akan membuatnya kaya. Dr Lie Darmawan, si dokter yang menolong pasien tanpa memikirkan biaya perawatan. Masih banyak lagi nama yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Lalu, apakah idealisme yang saya pegang sebagai pengajar di sebuah kampus yang sudah melahirkan lulusan hebat ini bisa juga dianggap gila? Atau mungkinkah saya memang gila dan bukan karena mempertahankan idealisme? Idealisme harus diperjuangkan.

Saya menganggap hidup sederhana dalam mempertahankan idealisme itu perlu. Apakah tidak ada jalan untuk tetap kaya sekalipun masih dengan idealisme? Kawan tau? Saya sendiri masih menganggap idealisme ini masih kalah dengan kebutuhan dapur yang harus dipenuhi. Dapur harus tetap ngebul. Anak dan istri harus tetap makan. Sekalipun hanya nasi putih dan sayur tumis kangkung yang dipetik di samping rumah. Idealisme memang susah diperjuangkan kalau sudah menyinggung area perut. Saya sendiri masih mencari cara untuk tetap bisa makan sekalipun hidup dengan memperjuangkan idealisme. Terkadang ada pikiran untuk ikut menjilat pantat penguasa, tetapi itu busuk. Saya belum punya kekuatan untuk melakukan itu, tetapi juga terlalu lemah untuk melawan. Tapi, idealisme tetap harus diperjuangkan. Bukan begitu kawan?

 

Hidup Bebas atau Mati Syahid

Tags

, ,

Semua kehidupan pasti mati. Itu pernyataan klise yang sebenarnya tidak perlu dibantah lagi. Manusia hanya hidup sekali setelah itu mati dan tak berarti lagi bagi kehidupan. Manusia yang mati hanya meninggalkan nama untuk dikenang pada saat-saat tertentu. Manusia yang mati tanpa meninggalkan “warisan” hanya akan menjadi seonggok tanah yang kian lama akan amblas dimakan usia. Jadi, untuk apa sebenarnya kehidupan dan mati itu?

Hidup bebas atau mati syahid, mungkin itu kalimat yang selalu digaungkan oleh para pejuang kemerdekaan untuk merdeka dari penjajahan. Secara fisik kita sudah merdeka karena perjuangan mereka. Pahlawan gugur di medan perang, ada yang dikenang ada juga yang terlupakan. Entah oleh ganasnya kekuasaan yang merekayasa sejarah, atau memang terlupakan karena tiada yang pernah tau. Mengapa hidup harus bebas? Bukankah kebebasan bisa kebablasan? Atau mungkin kemerdekaan yang selalu dirayakan oleh kita setiap tahun hanyalah kamuflase dari bentuk penjajahan yang sejati. Kita sebenarnya belum bebas. Kita sebenarnya masih terjajah secara mental. Kita justru masih mengagungkan feodalisme. Kita berebut menjadi amtenar yang ingin menguasai setiap afdeling tanah air ini. Itukah kebebasan? Bukan kawan, itu kebablasan.

Banyak sekali orang yang masih terjajah oleh struktur kekuasaan, strata sosial, gaya hidup, dan pembodohan institusi sekolah. Kita terlalu sibuk menyikut sesama untuk menguasai mereka. Kita ini manusia kawan, yang diciptakan untuk memanusiakan sesama. Kita diciptakan Tuhan untuk menciptakan keseimbangan di muka bumi ini. Kalau tidak bisa hidup bebas dari penjajahan, lebih mati dalam perjuangan. Tidak perlu takut suatu saat semua kawan menjadi lawan. Kebenaran selalu ada penentangan. Bukan kebenaran yang dipaksakan layaknya paham-paham radikal. Kebenaran itu kita tunjukkan dengan menjalankannya dengan sepenuh hati dan belas kasih. Saya mengutuk pada siapapun yang memenjarakan kebebasan manusia untuk berpikir. Biarkanlah manusia menjadi manusia, bukan menjadi binatang. Seperti sapi yang susunya diperah tapi disiksa. Seperti ayam yang dipaksa makan hingga tumbuh tak sempurna.

Kalau ada manusia yang masih hidup dengan mencium pantat penguasa demi sebuah nama di mata manusia. Berarti ini ciri-ciri manusia yang akan mem-binatang-kan manusia lain. Mereka adalah orang munafik yang akan bermanis-manis di depan kekuasaan, lalu menginjak-injak di balik punggung. Kalau ada manusia yang tetap bertahan dari gempuran cemoohan merendahkan dari manusia lain, ini ciri-ciri orang yang akan mati dengan syahid. Kita hidup hanya sekali untuk berarti lalu setelah itu mati. Mau mati konyol silahkan. Mau mati syahid silahkan. Itu semua pilihan yang diberikan oleh Tuhan untuk kita. Agama tidak pernah memaksa, agama hanya menata. Manusia yang terjajah pikirannya akan menolak agama. Manusia yang terjajah pikirannya akan memaksakan agama. Pada akhirnya, hidup bebas atau mati syahid adalah pilihan yang layak diambil kedua-duanya. Lalu, apa pilihanmu kawan?

Dilarang Bimbingan Skripsi di Perpustakaan

Tags

, ,

library

Sejatinya perpustakaan adalah tempat pergulatan ilmu. Tempat bagi mereka yang mencari dan berbincang tentang keilmuan. Seperti perpustakaan di Babilonia kala itu. Saat ini juga masih seperti itu. Cuma saat ini perpustakaan sepertinya tidak menjadi tempat yang diminati, terutama bagi insan pelajar di perguruan tinggi. Teknologi informasi sudah memudahkan mereka untuk mencari sumber pengetahuan. Makanya perlu beberapa inovasi untuk mengajak kembali para pencari ilmu untuk mencintai perpustakaan. Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan mengadakan proses bimbingan di perpustakaan. Tahun lalu bisa dikatakan sayalah penguasa perpustakaan (hihihi sombong!!!), karena hampir setiap hari saya meluangkan waktu di sana. Lalu, mengapa sekarang bimbingan tidak boleh lagi dilakukan di perpustakaan kampus tercinta kami? Bukan kebijakan kampus kok, hanya ada oknum ketua program studi tertentu yang tidak membolehkan.

Apa pasal larangan bimbingan tidak boleh di perpustakaan? Oke, ada beberapa hal kawan. Pertama, mahasiswa bimbingan saya yang berjumlah 20 orang itu selalu berkumpul bersama di perpustakaan. Sekalipun tidak semuanya tapi cukup untuk menguasai meja panjang yang ada di perpustakaan. Hal ini membuat mereka mengganggu kenyamanan pengunjung lainnya. Oke, kalau berisik saya akui terkadang mereka memang seperti itu. Tetapi itu pun tidak dalam level parah seperti cekikikan tidak jelas di perpustakaan. Masih mending kan mereka kumpul untuk mengerjakan skripsi atau tugas akhir bersama-sama daripada mahasiswa yang menggunakan perpustakaan untuk pacaran. Menurut kawan bagaimana?

Kedua, mungkin ini salah satu alasan kenapa dilarang bimbingan. Kami sering membawa minuman saat kegiatan pembimbingan. Okelah ini pelanggaran. Case closed. Ketiga, tidak boleh menggunakan ruang perpustakaan untuk kegiatan pembimbingan atau kuliah. Nah, yang satu ini menjadi kontradiktif karena sebelumnya ada himbauan untuk mengadakan kegiatan perkuliahan di perpustakaan. Pembimbingan skripsi juga kan kegiatan perkuliahan walaupun kegiatan tatap mukanya tidak terjadwal dengan rutin seperti kuliah lainnya. Lalu, kenapa tidak boleh? Saya gagal paham.

Saya bingung, apakah yang saya lakukan itu salah atau melanggar? Oke lah, kalau tidak boleh berkumpul di perpustakaan untuk kegiatan bimbingan, seharusnya ada tempat untuk kegiatan itu. Saya akui kampus saya masih punya keterbatasan ruangan. Saya juga tidak mempermasalahkan itu karena perpustakaan masih bisa menjadi pilihan untuk kegiatan bimbingan. Tapi kalau sudah dilarang, ke mana lagi saya (jadi kangen ruang residensi di ITB)? Hanya perpustakaan sajalah yang menyediakan meja, kursi,dan terminal listrik untuk kegiatan bimbingan atau pengerjaan skripsi. Ada sih tempat yang cozy untuk kegiatan bimbingan atau mengerjakan skripsi. Tapi tempat yang satu ini butuh biaya yang lumayan mahal. Kawan mungkin tau tempat yang saya maksudkan itu. Okelah, tempat itu adalah Starbucks atau kafe selain itu. Starbucks memang menyediakan tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas atau menulis. Dulu saya juga memilih tempat ini sebagai tempat untuk menulis kalau malas ke perpustakaan. Di sana ada fasilitas koneksi internet yang lumayan cepat, ruangan ber-AC, ada musik yang merdu, dan tentunya bisa makan dan minum di dalamnya (namanya juga kafe hihihi). Cuma, Starbucks menguras dompet kalau dilakukan setiap hari. Nanti malah saya dianggap dosen pembimbing yang paling mahal karena harus bimbingan di kafe hihihi.

Saya punya angan-angan suatu saat punya ruangan sendiri untuk kegiatan pembimbingan atau penelitian. Setidaknya seperti Laboratorium Winner di ITB dulu. Ada fasilitas internet yang cepat, ada dispenser untuk air panas dan dingin, ada coffee maker, dan tentunya ada banyak buku literatur yang dapat digunakan oleh mahasiswa bimbingan saya. Hmmm…asyiknya. Tulisan ini mungkin semacam kritik untuk oknum ketua program studi di kampus saya. Cobalah melihat gambaran yang besar tentang permasalahan ini. Cobalah datang dan lakukan aktivitas seharian di perpustakaan kampus kita ini supaya bisa merasakan bagaimana perasaan kami yang tersisihkan. Cobalah untuk mengerti bahwa ke mana lagi kami akan melakukan bimbingan dan berdiskusi tentang penelitian skripsi kalau bukan di perpustakaan. Kami tidak mempermasalahkan tentang koneksi yang lambat. Bukan pula masalah kursi yang tidak seempuk di kafe. Tapi kami hanya butuh tempat untuk berdiskusi. Saya akui kampus saya ini bukanlah kampus besar, tapi jangan disempitkan lagi dengan pikiran dangkal seperti itu. Atau mungkin justru tulisan ini yang sebenarnya pemikiran dangkal? Saya serahkan kawan-kawan untuk memutuskan itu.

BUAT LOE YANG MELARANG BIMBINGAN DI PERPUTAKAAN, JUST GO AND “LOVE” YOURSELF

Itu aja sih.

Mahasiswa Dan Anggota DPR

Kalau kawan bertanya, apa bedanya mahasiswa saat ini dengan anggota DPR? Tulisan pak Budi Rahardjo ini jadi jawabannya.

Padepokan Budi Rahardjo

Di media sosial banyak yang mencemoohkan kinerja dan pekerjaan anggota DPR. Ada banyak guyonan yang menunjukkan anggota DPR sedang tidur, bolos hadir, dan seterusnya. Mahasiswapun banyak(?) yang mempertanyakan (anggota) DPR ini. Mau tahu kenyataan yang ada saat ini?

Menurut saya, mahasiswa saat ini tidak berbeda dengan anggota DPR!

Mahasiswa datang ke kelas untuk sekedar hadir. Memenuhi kuota kehadiran saja. Administratif.  Ada juga yang datang ke kelas dan kemudian tertidur. Yang bolos juga tidak sedikit kok. Kalau mahasiswa hadir di kelas dan ditanya, “ada pertanyaan?”, tidak ada yang menjawab. (Masih mending anggota DPR ada banyak yang bertanya.)

Lantas apa bedanya mahasiswa dengan anggota DPR?

View original post

Antara Hobi Dan Istri

Tags

, ,

warren-hobbies

Semua lelaki harus punya hobi. Itu sih kata saya dulu di Kelemahan Lelaki dan Pentingnya Hobi dan ternyata banyak juga yang mengamini. Hobi bisa mengubah seseorang dari biasa saja menjadi gila (baca:geek). Begitu juga dengan saya. Dulu saya hanya peminum kopi. Itupun sachet-an saja sudah bahagia. Semenjak mengenal bahwa ada kopi yang enak, kebiasaan sama berubah. Kopi sachet menjadi tidak enak lagi. Belum lagi setelah mengenal kawan-kawan di Komunitas Penikmat Kopi di Lampung (KPKL), saya semakin gila lagi dengan kopi. Ternyata hobi kopi telah mengubah sudut pandang saya terhadap cairan hitam ini. Saya menjadi ingin mempelajari lebih dalam dan lebih intens lagi. Bahkan saya memutuskan untuk berhenti merokok sama sekali karena kopi (ini membuat istri saya senang, hihihi). Lalu, apa pasal urusan hobi dengan istri? Kok bisa jadi judul?

Begini kawan. Kalau kawan masih sendiri (baca: Single atau Jomblo :p), urusan hobi tidak jadi masalah. Kawan cukup fokus dengan hobi kawan sendiri tanpa harus bingung mencari jawaban ketika membeli aksesori untuk hobi. Misalnya yang hobi sepeda beli sadel harga 2 juta, tidak perlu pusing dimarahi pasangan. Toh tidak punya pasangan juga kan? Hehehe. Nah, yang sudah punya pasangan bagaimana? Pacar mungkin bisa marah tetapi tidak punya kendali penuh terhadap masalah keuangan kita. Toh masih pacar kan kawan? Lain pasal kalau sudah punya istri. Beli Aeropress yang harganya 500 ribuan bisa ditanya panjang lebar mulai dari urgensi dengan perbedaannya dengan seduh tradisional. Atau beli Ethiopia Yirgacheffe 100 gram dengan harga 100 ribu bisa ditanya bedanya sama sebungkus kopi Kapal Api. Itulah istri, mereka yang punya akses penuh terhadap keuangan suami. Toh, rezeki suami kan berkat istri juga. Itulah mengapa antara hobi dengan istri selalu menjadi tantangan bagi kami yang sudah menikah. Eh, ini sih lebih banyak curahan hati atau mungkin pembenaran nantinya. Kalau menurut kawan bagaimana?

Urusan hobi seorang suami dengan persepsi dari seorang istri sering kali kontradiktif. Saya sering kali mendengar cerita kawan-kawan yang hobinya bertolak belakang dengan kepribadian sang istri. Urusan hobi memang tidak bisa ditawar-tawar. Ada yang terang-terangan menunjukkan hobinya di depan istri, bahkan bisa berdiskusi untuk menentukan mana yang harus dibeli terlebih dulu. Ada juga yang sembunyi-sembunyi belanja kebutuhan hobi. Kalaupun terlihat oleh istri, biasanya faktur pembelian sudah diamankan terlebih dulu. Ini sih supaya bisa memberikan alasan kalau barang yang baru dibeli tidak mahal harganya. Padahal sudah dipotong 70% dari harga aslinya. Hehehehe. Ada banyak cerita lucu tentang suami yang ketahuan belangnya saat membeli kebutuhan hobi. Ini sih seperti yang saya alami dulu ketika sebuah grinder Porlex terpajang di lemari. Istri saya langsung kaget bukan kepalang setelah tau harganya. Kalau kawan mau tau, silahkan lihat sendiri di philocoffee. Si Bunda bisa saja marah, tetapi tidak jadi karena dia mulai sadar dengan hobi suaminya ini. Hihihihi. Makasih banyak ya Bunda sayang. Setelah itu, si Bunda lebih banyak menahan nafsu belanja hobi saya. Kalau hanya membeli biji kopi lokal tidak masalah, tapi kalau sudah urusan beli alat seduh manual, si Bunda harus tahu berapa harganya. Kalau terlalu mahal, ya saya harus bisa memastikan dapur tetap ‘ngebul’. Jadi, sekarang solusinya, semua honor kepanitian di kantor menjadi hak penuh saya. Gaji yang masuk ke rekening itu semua masuk kendali sang istri. Ini mungkin bisa jadi solusi buat kawan-kawan yang kerjanya berharap gaji bulanan. Hehehehe.

Suami yang berkeinginan belanja hobi tanpa bersitegang dengan pasangannya mungkin harus mempertimbangkan beberapa hal ini. Apa yang akan saya ungkapkan ini hanya berdasarkan pandangan pribadi sih. Kawan boleh terima atau menolak.

Jangan berbohong

Istri mana yang senang dibohongi? Tidak ada. Jadi, lebih baik menyampaikan keinginan belanja dengan baik ke istri. Pakai alasan yang bisa diterima secara rasional. Terkadang kita tidak berpikir rasional kalau sudah berurusan dengan hobi. Biarlah istri menjadi badan pertimbangan, supaya tidak ada penyesalan ke depannya. Menutupi kebenaran juga bisa dikatakan berbohong. Misalnya tidak menunjukkan faktur pembelian. So, don’t lie.

Ajak istri merencanakan daftar belanja

Urusan hobi itu selalu update. Tidak akan pernah ada habisnya. Kalau kita tidak merencanakan dengan baik daftar belanja, bisa saja kita masuk dalam golongan yang konsumtif. Ajaklah istri untuk merencanakan daftar belanja anda. Jelaskan potensi investasi yang bisa didapatkan jika membeli barang hobi terbaru. Perencanaan daftar belanja bersama istri bahkan bisa menjadi cara kita untuk lebih dekat (baca: mesra) dengan istri.

Bicarakan daftar belanja di saat yang tepat

Seringkali pertengkaran terjadi saat kita memilih waktu yang tidak tepat dalam membicarakan daftar belanja. Diskusi seperti ini perlu momen yang tepat. Jangan bicarakan daftar belanja saat pulang kerja. Atau saat keluar jalan-jalan dengan istri. Pilihlah waktu saat duduk berdua di ruang keluarga, mungkin juga di kasur sebelum atau sesudah “aktivitas”. Hihihihi.

Berikan edukasi tentang hobi kita ke istri

Cara ini mungkin bisa dijadikan pilihan yang lebih baik. Ajaklah istri untuk tertarik dengan hobi kita. Bukankah lebih asyik kalau kita punya hobi yang sama dengan istri. Tiga poin di atas akan lebih mudah untuk dilakukan. Berikan edukasi kepada istri. Siapa tau dia akan tertarik dengan hobi kita. Kalaupun tidak tertarik, setidaknya dia tau bagaimana rasanya punya hobi seperti kita. Paling tidak dia akan kompromi dengan hobi kita.

Jadikan hobi menyenangkan untuk menghasilkan pendapatan

Orang yang mendalami hobi dengan serius suatu saat akan mencapai suatu kondisi di mana hobi itu akan menghasilkan penghasilan. Hampir semua orang yang serius sekali dengan hobinya pada akhirnya memiliki pendapatan yang besar dari hobinya sendiri. Setidaknya ini yang akan menyenangkan sang istri. Hehehe

Saya kira hanya itu yang bisa saya bagikan saat ini. Semoga bermanfaat buat kawan-kawan. Itu aja sih.

Tempat Kerja Yang Tidak Nyaman

Tags

“ Kalau pulang kerja, terus kumpul-kumpul dengan kawan sejawat dan masih menceritakan tempat kerja atau kerjaan. Berarti tempat kerja kamu tidak nyaman.”

comfort

Seorang kawan pernah mengatakan hal itu kepada saya. Apa betul pernyataan kawan saya itu? Benarkah tempat kerja saya tidak nyaman karena saya selalu bercerita tentang tempat kerja bersama kawan-kawan? Apa benar juga bahwa saya tidak nyaman dengan tempat kerja saya saat ini? Ini pertanyaan sulit untuk dijawab. Apalagi ditulis di blog ini. Takutnya tulisan ini menjadi afirmasi bahwa tempat kerja saya tidak nyaman untuk bekerja. Pertanyaan yang sebenarnya harus dipertanyakan adalah apakah ada tempat kerja yang nyaman bagi pekerjanya? Google saja yang menjadi tempat kerja paling nyaman di dunia menurut majalah Forbes, tetap saja tidak nyaman bagi beberapa orang yang pernah kerja di sana. Jadi, benarkah kalau bercerita tentang tempat kerja untuk menandakan bahwa tempat kerja kita tidak nyaman?

Ada peribahasa yang mengatakan “Rumput tetangga selalu lebih hijau”. Manusia tidak akan pernah puas akan hal yang dia raih saat ini. Selalu saja kita melihat bahwa apa yang dihasilkan atau diraih oleh orang lain jauh lebih baik dari dirinya. Mungkin inilah sifat alamiah manusia yang selalu tidak pernah puas. Banyak hal yang membuat kita tidak puas terhadap tempat kerja. Bisa saja karena insentif yang kurang banyak. Bisa juga karena lingkungan kerja yang terlalu banyak intrik kotor. Mungkin juga karena rekan kerja yang tidak suportif, saling sikut, tidak profesional, atau apapun itu. Atau, mungkin atasan yang tidak menyenangkan, suka merendahkan karyawan, pemarah, dan lain sebagainya. Saya kira itu semua bisa menjadi alasan mengapa seseorang mengatakan tempat kerjanya tidak nyaman. Bagi saya bagaimana? Saya membenarkan bahwa tempat kerja saya tidak nyaman pada beberapa hal, tetapi tidak untuk keseluruhan. Apapun kata orang tentang ketidaknyamanan yang mereka alami, saya anggap semua itu menjadi referensi saya untuk tidak memasuki zona tidak nyaman itu. Saya akan menciptakan zona nyaman saya sendiri. Hidup nyaman selalu juga sebenarnya tidak enak. Coba bayangkan bagaimana rasanya jika selalu merasa nyaman, bisa saja itu membunuh karakter kita sendiri. Akhirnya kita tidak menjadi manusia berkembang, stagnan di suatu tempat.

Kita butuh ketidaknyamanan untuk bisa menciptakan kenyamanan sendiri. Tempat kerja yang tidak nyaman memang bukan pilihan semua orang, tetapi jika sudah berada di dalamnya kita perlu mencari celah untuk tetap merasa nyaman. Kalau kita selalu menceritakan ketidaknyamanan tempat kerja, apalagi sampai menjelek-jelekkan tempat kerja pada orang lain, bukankah ini sama saja dengan mengencingi sumur yang airnya kita minum sendiri? Menjijikkan bukan? Tulisan ini sepertinya hipokrit, tetapi saya hanya ingin menjawab pernyataan di awal tadi. Tidak ada tempat kerja yang nyaman untuk bekerja. Kenyamanan kerja itu tergantung pada toleransi dan kapabilitas kita dalam menerima ketidaknyamanan dalam bekerja. Kita tidak tau sampai kapan kita bisa kompromi dengan tempat kerja kita sendiri. Ketidaknyamanan tempat kerja tidak dipengaruhi satu hal saja. Ada banyak sekali entitas dan konstrain yang terlibat untuk menciptakan ketidaknyamanan itu. So, daripada curhat ria tentang ketidaknyamanan tempat kerja, mending pikirkan bagaimana menciptakan kenyamanan sendiri. Kalau tidak mampu menciptakannya, pilihannya cuma dua kok. Lebih baik berhenti dari tempat kerja itu atau bertahan tapi  tetap sakit hati. Kalau memilih berhenti, maka pindahlah ke “tetangga” yang rumputnya lebih hijau. Pertanyaannya adalah, apa kita berani mengambil keputusan seperti itu? Banyak orang yang terpaksa memilih pilihan kedua dengan alasan keamanan atau mungkin kejelasan status sosial. Tidak banyak yang mampu menerima kenyataan kalau dia tidak punya tempat kerja jika memilih keluar. Kecuali, kalau kita punya potensi yang dicari oleh tempat kerja lain. Hal ini justru menjadi poin plus bagi mereka yang ingin berhenti dari tempat kerja sebelumnya.

Jadi, tempat kerja yang nyaman itu seperti apa sih? Kawan bisa jelaskan?

When Wrong Decision Gone Right

Tags

Live is always about choices no matter what. Choices means either you right  or wrong with it. People must choose for something to survive this life. Even our way to die, we have to choose it. But, sometimes we make a wrong decision in our life. A decision that makes us feel depressed. No one to blame but ourselves. Sooner, I realized that wrong decision not always tend to bad results. Sometimes wrong decision makes our lives better. We just need to to see the bright side of that decision.

Agree or disagree, making decisions always intimidating us for not to make a wrong decision. That’s why people often spent more time to make a decision and sometimes wasting time for not making any. I just wanna say, we are too afraid to making decision that going south. I’ve been there many times, and I think you too my friend. It’s not decision make our life suffered, but how we deal with the consequences of our choices. We know every choices has its own results. Either we embrace it or not. Some people maybe take a pragmatic solution, take a suicide and they think all the problems solved. Some people are dealing with the consequences, move on and make another choices carefully. Some people maybe just sitting alone and sober.

But, I think we just need to be patient when dealing with the consequences. We need to see the bright side of our decision. Sometimes, it needs to be dark and wet before the sunshine comes out from the dark clouds. What I meant to say, bad choices not always bad and vice versa. PATIENT. Wait until God shows us the real thing that we should have. PRAY. Allah SWT will shows us the best conclusion that we not think about it before. That’s it, embrace ourselves and Allah SWT will blessing us with The Mighty Love.

“Ngejuri” Desain Blog di Euphoria 9

Tags

, ,

img_20160305_102942.jpg

Euphoria 9 – Hajatan tahunan OSIS SMA Negeri 9 Bandar Lampung

Hari ini saya mendapatkan kehormatan untuk menjadi juri di SMA Negeri 9 Bandar Lampung. Sebenarnya saya diutus oleh kampus Teknokrat untuk memenuhi undangan menjadi juri Desain Blog. Ini bukan pertama kali saya menjadi juri dalam urusan blog. Sejak 2010 saya sering didapuk menjadi juri desain blog di setiap ajang dalam kampus. Cuma kali ini saya menjadi juri di sekolah menengah. Oke, ini benar-benar pengalaman pertama.

Lomba hari ini diikuti oleh 15 peserta yang berasal dari beberapa sekolah menengah atas di wilayah Bandar Lampung dan sekitarnya. Desain blog memang menjadi salah satu materi yang diajarkan di sekolah menengah saat ini. Jadi, lomba desain blog antarsiswa SMA sudah tidak asing lagi. Begitu juga buat OSIS SMA Negeri 9 Bandar Lampung yang menyelenggarakan lomba ini. Urusan lomba tentu ada menang dan kalah. Tetapi hal yang paling penting adalah semangat lomba itu sendiri. Lomba bukan untuk gagah-gagahan jika menang, dan bukan untuk dipermalukan jika kalah. Justru lomba itu butuh semangat sportivitas, kejujuran, dan kerendahan hati. Hal itu menjadi kriteria saya dalam melakukan penjurian hari ini. Sekalipun ada formulir penilaian yang formatnya sudah diatur oleh panitia, tetapi semangat tentang lomba harus ditularkan.

img_20160305_102209.jpg

Peserta lomba desain blog yang sedang serius #semangat

Kalau berbicara tentang lomba blog, kita harus tau kalau blog itu berurusan dengan konten. Konten yang baik akan membuat blog menjadi baik dan diminati. Begitu juga sebaliknya. Tetapi konten saja tidak cukup karena ada faktor teknis yang juga menunjang konten blog. Salah satunya adalah desain blog yang menarik. Kalau bicara masalah menarik, bisa saja multi-tafsir. Kalau kita menyasar audiens atau pembaca dari kalangan tertentu, desain harus sesuai dengan selera mereka. Tetapi kalau kita fokus pada konten yang dapat dibaca oleh khalayak umum, desain blog harus mengikuti pakem umum yang digunakan. Tentu kita akan sangat tergantung pada selera umum yang cenderung subjektif. Contohnya saya. Saya punya selera terhadap desain blog yang sederhana. Menarik itu sederhana dan tidak berlebihan. Pemilihan warna tentu jadi faktor yang kritis. Warna norak atau terlalu tajam akan membuat mata mudah lelah saat membaca. Makanya hampir semua blog populer tidak menggunakan warna yang tajam. Saya kira kawan paham maksud saya.

img_20160305_102316.jpg

Dari sudut pandang tertentu

Oh ya, kalau lomba tanpa pengumuman pemenang tentu kurang afdol. Sayangnya panitia tidak memperbolehkan saya mengumumkannya di sini karena hari minggu besok (6/3/16) akan diumumkan saat puncak acara Euphoria9. Okelah tidak apa-apa, tetap saja saya ingin mengucapkan selamat kepada pemenang lomba. Semoga kemenangan mereka tidak berhenti sampai di sini saja. Semoga semangat mereka untuk membuat blog tetap terjaga. Kita butuh banyak konten baik. Semoga tetap konsisten menulis atau mem-posting artikel yang berkualitas. Sulit, tetapi bisa diusahakan. Itu aja sih.