Iman itu Mahal atau Murah?

Tags

,

islam-quote

Sebuah ilustrasi. Jika punya barang mahal, misalnya ada jas dengan harga Rp. 5 juta. Apakah perlakuannya akan sama dengan memperlakukan jas seharga Rp. 200.000? Apakah kita akan mencucinya dengan cara mencuci celana dalam atau kaos dalam? Tentu tidak jawabannya. Jas mahal seperti itu bakal dibawa ke binatu untuk dicuci dengan cara dryclean. Tentu biaya cucinya juga mahal, minimal Rp.50.000 atau bahkan bisa ratusan ribu. Saya pernah melihat seseorang menghabiskan Rp.150.000 hanya untuk mencuci baju koko, sarung, dan sebuah jas di binatu terkenal di Bandung. Betapa besarnya perlakuan seseorang terhadap barang mahal. Lalu, bagaimana kita memperlakukan keimanan kita terhadap Allah Azza wa Jalla? Iman itu mahal bukan?

Tentu jawabannya akan beragam. Ada yang akan mengatakan iman itu tak dapat diukur dengan ukuran material. Ada yang secara tegas akan mengatakan iman itu mahal sekali harganya, bahkan lebih mahal terhadap dunia dan seisinya. Oleh karena itu, seseorang bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan keimanannya. Lalu, timbul pertanyaan selanjutnya, mengapa ada orang yang rela menjual imannya hanya karena setumpuk uang atau nafsu? Di situlah peran serta iblis untuk merayu manusia. Mahal murahnya iman itu tergantung pada kemampuan seseorang mengendalikan hawa nafsunya. Pada dasarnya, iman itu sangatlah mahal. Karunia terbesar yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah keimanan kita kepadanya. Allah menciptakan akal kepada kita untuk menumbuhkan keimanan. Jangan sampai Allah mencabut nikmat itu, sehingga kita terjerumus dalam kenistaan dan kebodohan. Banyak orang yang menolak untuk beriman kepada Allah bukan karena tidak mengakui kekuasaan Allah, tetapi karena mereka terlalu sombong, takut, was-was, atau perasaan lemah lainnya. Manusia takut akan kehilangan kenikmatan semu di dunia. Padahal, Allah telah menjanjikan kenikmatan yang abadi dengan nikmat iman yang kita jaga di dunia. Semoga keimanan kita tetap terjaga kawan.

Iblis tidak akan pernah puas dalam menggoda manusia untuk menyimpang dan berpaling dari agama Allah ini. Namun, jika kita bersandar pada kekuasaan Allah, Insyaa Allah akan dilindungi bahkan dijauhkan dari godaan iblis. Salah satu cara untuk tetap istiqomah di jalan Allah adalah dengan mengerjakan sholat wajib dan sunnah. Diriwayatkan dalam sebuah hadist, jika kita mengerjakan sholat maka akan terjaga amalan lainnya. Jika sudah terbiasa meninggalkan shalat, maka akan mudah meninggalkan amalan lainnya. Untuk laki-laki, shalat wajib itu di masjid. Setelah shalat, maka ada kewajiban menghidupkan majlis ilmu. Ada kewajiban muslim untuk menuntut ilmu setiap hari. Paling tidak sekali saja. Makanya dalam beberapa masjid ada kegiatan taklim ba’da shalat wajib. Ini yang perlu kita ikuti untuk menjaga stabilitas keimanan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga kita semua istiqomah ya kawan. Itu sudah.

Kau Memang Tak Tau Syariat Islam

Tags

Robert Lee Frost, seorang penyair ulung Amerika Serikat, mengatakan bahwa puisi itu adalah pertemuan emosi dan pikiran, lalu pikiran yang menemukan kata-kata. Lalu kenapa dengan puisi? Nah saya mau membahas puisi yang sedang dibahas banyak orang di tanah air belakangan ini. Puisi yang menuai pro dan kontra, membuat kegaduhan, dibuat oleh Sukmawati Soekarnoputri, dan dibacakan di acara besar Fashion Week dan tentu ditonton oleh banyak orang. Puisi mengusik sanubari umat Islam yang taat, karena beliau hadir dengan puisi yang menggugat lebih tepat menghujat.

Saya belakangan ini mulai jengah dengan orang yang berusaha membahas sesuatu tanpa pengetahuan tapi tanpa malu menyalahkan orang yang paham. Sebut saja Ahok yang dulu membahas Q.S. Al Maidah Ayat 51 sebagai alat pembohongan publik terkait pilkada. Jelas dia tidak paham maksud dari ayat itu, tetapi menyalahkan orang yang paham dan orang yang mengamalkannya. Fitnah ini yang menggerakkan jutaan masyarakat Muslim untuk berkumpul di Jakarta demi membela agama Allah Azza wa Jalla. Hasil akhirnya, Ahok dinyatakan bersalah dan dipenjara. Lalu, apakah karena contoh ini mereka yang menistakan agama Islam takut untuk mengolok-olok Islam? Ternyata tidak, alhasil muncul lagi satu sosok manusia yang tak tanggung-tanggung dikenali secara nasional. Salah seorang putri Proklamator Indonesia, dengan puisinya mengolok-olok Islam. Walaupun beliau berdalih bukan itu maksudnya.

Coba kawan perhatikan puisi dari orang yang katanya “seniman” ini.
Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta

Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi
Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

Puisi ini kemudian dibahas di seluruh Indonesia, sebagai puisi yang memperolok Adzan dan Cadar. Pertama dia membahas adzan yang tak lebih merdu dibandingkan kidung. Orang yang menjadikan adzan sebagai olok-olok adalah orang yang tidak menggunakan akal. Lihat di Q.S. Al Maidah ayat 58:
وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.
Satu hal yang saya pastikan, yang paling takut ketika adzan dikumandangkan hingga lari terbirit-birit hanyalah syaitan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ

“Apabila panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil kentut hingga dia tidak mendengarkan adzan lagi” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Seharusnya beliau bisa mengambil pembanding lainnya. Kenapa harus menyinggung ummat Islam? Tapi kembali lagi ke ayat di atas, ini tandanya beliau tidak menggunakan akal. Kalaulah beliau menggunakan akal, tentu tidak akan membuat kegaduhan. Kalaulah beliau menggunakan akal, tentu beliau akan mencari pembanding lain dengan kidung ibu Indonesia.

Pembanding kedua yang ditulis oleh ibu Sukmawati Soekarnoputri adalah antara konde dengan cadar. Kenapa harus cadar? Apakah karena menganggap cadar sebagai budaya Arab dan konde budaya Indonesia? Di sini terjadi lagi miskonsepsi terkait budaya. Cadar bukanlah budaya Arab, tetapi pakaiannya yang ditegaskan oleh Al Qur’an sebagai peringatan bagi wanita muslimah untuk memanjangkan kain mereka. Ada banyak hadits yang meriwayatkan ini. Cadar adalah pilihan berpakaian muslimah yang disyariatkan oleh Islam selain mengenakan jilbab. Konde itupun bukan budaya asli Indonesia. Konde/sanggul itu sudah dikenal oleh masyarakat Mesir kuno sebagai bentuk status sosial dan estetika. Justru jika dikaitkan dengan perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala terkait menutup aurat (kepala dan bagiannya) dengan jilbab/cadar dibandingkan dengan konde yang mengumbar aurat, tentu kita tidak bisa menerima. Estetika muslimah adalah jilbab/cadar. Bagi yang mau berkonde, silahkan saja. Kalau wanita muslimah, ya jangan berkonde karena melanggar syariat, bahkan salah satu golongan penghuni neraka. Perhatikan hadits berikut.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Ada dua golongan penghuni Neraka, yang belum pernah aku lihat, yaitu (1) Suatu kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi. Mereka mencambuk manusia dengannya. Dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok menggoyangkan (bahu dan punggungnya) dan rambutnya (disasak) seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium aroma Surga, padahal sesungguhnya aroma Surga itu tercium sejauh perjalanan sekian dan sekian.’” (Hadits riwayat Muslim, Ahmad, Baihaqi, dan Al-Baghawi)

Jadi, sekali lagi, saya berharap ibu Sukmawati Soekarnoputri meminta maaf kepada ummat Muslim dan berani menyatakan bahwa puisinya itu adalah salah besar. Jika tidak, berarti beliau harus menerima konsekuensi hukum dan sosial atas perilakunya. Semoga Allah mengingatkan beliau untuk sadar sebelum ajal menjemput. Tulisan ini bukan untuk mencela beliau, tetapi untuk mengingatkan bahwa umat Islam mencintai kedamaian dan membawa kedamaian. Beliau mungkin lupa, bahwa kemerdekaan Indonesia ini tak lepas dari pekikan penggalan Adzan, Allahu Akbar. Sebagai penyulut semangat para pejuang sampai menghembuskan nafas terakhir. Beliau mungkin lupa, bahkan ayahanda beliau meminta fatwa kepada ulama terkait perang/jihad melawan penjajah kala itu. Beliau mungkin lupa, Islam lah yang datang memuliakan wanita di kala peradaban menganggap wanita hanya pemuas nafsu durjana dan tak berarti.

Puisi beliau mungkin memang akan multitafsir. Ada pro dan kontra. Alasannya selalu terkait karya seni, dan seni selalu dilepas dari konteks aturan agama dan adab. Kalaulah multi interpretasi ini jadi patokan dari sebuah karya seni, maka foto telanjang atau orang bersenggama bukanlah bentuk pornografi. Toh itu adalah karya seni. Orang berkarya seni yang kebablasan seperti ini bukanlah seniman, karena lupa kodratnya sebagai manusia yang bertuhan. Kecuali kalau mereka tidak percaya lagi akan adanya Tuhan. Jadi sebelum saya tutup tulisan ini, izinkan saya berpuisi menjawab puisi beliau.

Kau memang tak tau syariat Islam
Keindahan yang ditutup cadar
Hanya untuk mereka yang sabar
Konde katamu kodrat alam sekitar
Bukanlah indah tapi mengumbar

Kau memang tak tau syariat Islam
Menilai kidung dengan adzan
Merdumu karena salah bandingan
Tak kau dengar adzan di Mekah
Tak kau dengar adzan di Palestina
Tak kau dengar adzan di Suriah
Tak kau dengan adzan di Indonesia
Telingamu tertutup oleh kidung
Hingga lupa perintah untuk dijunjung

Kau memang tak tau syariat Islam
Bukannya belajar mencari makna
Malah berpuisi membuat cela
Sejak dahulu bangsa ini merdeka atas pekikan adzan yang membahana
Tapi kau lupa dari mana asalmu semula

[Balada Negeriku] Tahun Politik, Tahun Pembohongan Publik?

Tags

, ,

Mohammad-Natsir

Politik itu cenderung bohong. Itu setidaknya tanggapan beberapa masyarakat yang pesimis dengan kondisi politik di Indonesia. Tetapi benar adanya. Setidaknya kita akan disuguhi dagelan-dagelan politik yang berusaha meraih perhatian masyarakat. Tujuannya jelas untuk memenangkan mereka yang ingin berkuasa. Kita akan diberi informasi yang katanya “akurat” diambil dari sumber “kredibel”. Semakin banyak nyanyian merdu maupun sumbang untuk menghibur masyarakat pemilih. Tentu sekali lagi, entah dapat dipercaya atau tidak. Akan banyak sekali informasi dan tulisan yang ber-”seliweran” di jagat maya. Atau yang lagi tren disebut HOAX. Umat Muslim akan laris manis untuk “dijajakan” oleh elit politik demi meraih simpati salah satu pemilih dengan jumlah terbesar di Indonesia.

Pemilih Muslim setiap tahun selalu saja menjadi target utama yang akan didekati. Sekalipun Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, tetapi terpecah menjadi beberapa kelompok. Tidak semua Muslim di Indonesia taat pada ajaran Al Qur’an. Banyak yang kafir dari tuntunan Islam, tetapi yang berbahaya adalah mereka yang munafik. Nanti kita akan disuguhi pemandangan orang yang tidak pernah ke masjid tiba-tiba ke masjid. Orang yang tidak berhijab tiba-tiba mengenakan pakaian syar’i. Orang sebelumnya tidak memperhatikan umat Islam tiba-tiba peduli bahkan menyumbangkan hartanya untuk pembangunan masjid atau kegiatan lainnya. Jika dilihat dari sisi positif, maka hal tersebut baik. Akan tetapi semua itu akan hanya menjadi kedok demi memuluskan diri untuk maju menguasai Indonesia.

Hal yang paling saya takutkan nanti, orang-orang yang menyuarakan kebenaran dan mengajak kepadanya akan dicap sebagai pengujar kebencian dan radikal. Ulama-ulama yang tegas akan digembosi dan ditunggangi oleh kepentingan politik. Siapapun yang berseberangan dengan pihak berkuasa akan dikriminalisasi. Bukan berarti mereka yang oposisi tidak mengambil bagian dalam agenda politik “kibulisasi” ini. Kita tidak tau siapa yang benar siapa yang salah. Wallahu A’lam. Indonesia sedang dalam kondisi darurat yang semakin hari semakin terpuruk. Elit politik sekarang lebih sibuk untuk berkuasa kembali. Anggota DPR yang katanya “wakil rakyat” tentu akan sibuk dengan agenda dua periode kembali. Siapa lagi yang akan diajak memuluskan langkah mereka? Tentu sebagian besar adalah pemilih Muslim. Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai seorang Muslim?

Sudah saatnya merapatkan barisan. Perangi kaum munafik yang mengaku Islam tetapi sebenarnya ular berkepala dua. Kalau boleh saya katakan bukan kepala dua, tetapi Medusa. Jangankan mendekati orang seperti itu, melihat saja jangan. Nanti hati dan kepala kita menjadi batu yang tidak bisa membedakan kebenaran dan kebatilan. Kita siap-siap dengan usaha mereka melemahkan kita dengan dalil-dalil yang digunakan tidak pada konteksnya. Umat Islam harus waspada terhadap pembenaran-pembenaran yang bertentangan dengan syariah Islam. Umat Islam harus cerdas dan berlandas pada Al Qur’an dan Hadits. Selalu Tabayyun jika ada informasi yang diragukan sumber, isi, dan penulisnya. Kita jangan serahkan Indonesia kepada mereka yang munafik apalagi kafir. Saya percaya Allah Azza Wa Jalla akan melindungi dan menjaga kita selama kita menjaga agama Allah. Jazakallah Khairan.

Mempersiapkan Kematian

Tags

,

islamic-quotes-about-death-with-pic

Kematian itu pasti. Ia datang tanpa pengumuman sebelumnya. Malaikat Izrail akan menjemput sekalipun kita belum siap. Suatu yang pasti diucapkan oleh mereka yang belum siap adalah ingin diberikan sedikit waktu saja supaya dia bisa menyerahkan semua hartanya di jalan Allah Azza Wa Jalla. Tapi sayang, Malaikat Maut bukanlah makhluk yang bisa ditawar. Hanya kekasih Allah, Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang diberikan tawaran untuk menunda kematiannya. Itupun Baginda Rasulullah menolak tawaran itu karena sudah tak sabar untuk menghadap ke hadapan Allah. Lalu, apa yang harus kita lakukan supaya siap menyapa Malaikat Maut? Sudahkah kita siap? Atau kita lupa akan kepastian atas kematian karena sibuk dengan urusan keduniaan?

Itulah ilmu yang saya dapatkan dari khutbah jumat hari ini. Khatib mengingatkan kembali akan ketetapan Allah yang tidak ada bocorannya. Semua orang hanya bisa menduga-duga, tapi hanya Allah saja yang tau kapan kita akan dipanggil kembali. Kenapa kita bisa siap atau tidak siap untuk mati? Ketika ditanya, sudahkah kita siap untuk mati? Tentu jawabannya sama, TIDAK atau BELUM. Kita masih merasa kehidupan di dunia masih kurang untuk dikejar. Tapi, sayangnya kita lupa untuk mempersiapkan kematian kita. Lalu apa yang perlu kita siapkan? Allah telah mengaturnya dalam Al-Quran Surah Ali Imran Ayat 102 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. Sederhana tapi berat untuk dijalankan. Allah hanya mensyaratkan kita untuk beragama Islam dalam kematian kita. Apakah cukup dengan mengucapkan Dua Kalimat Syahadat saja? Kalau hanya menjadikan status kita Islam, tentu jawabannya YA. Tetapi, ketika syarat ke-Islam-an kita harus masuk secara menyeluruh seperti pada QS. Al Baqarah Ayat 208 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian”, maka jawabannya TIDAK. Islam telah mengatur derajat kita di hadapan Allah tentang bagaimana kita menjalankan ke-Islam-an kita di kehidupan dunia.

Kalau begitu, buat apa bekerja dan mengejar cita-cita kalau nantinya juga mati dan tak berguna? Mending kita beribadah saja untuk mempersiapkan kehidupan di alam akhirat nanti. Nah, ini pemahaman yang keliru. Islam bukanlah agama parsial namun integral. Kehidupan kita ini sebenarnya sudah diatur oleh Al Qur’an dan dikuatkan oleh Hadist Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Semua yang kita lakukan di dunia ini selama dikerjakan dengan cara Islam, maka itu dianggap ibadah. Jangankan urusan yang rumit seperti berpolitik, urusan buang air kecil saja diatur oleh Islam. Betapa paripurnanya agama yang Allah turunkan untuk manusia di bumi ini. Hanya kita saja yang kurang atau bahkan tidak menerapkannya ke dalam seluruh aspek kehidupan kita. Jadi, kalau hanya mengatakan Islam terletak pada sholat, puasa, zakat, dan haji saja, maka kita sudah mengecilkan agama Allah ini. Islam adalah apa yang kita kerjakan sesuai dengan syariat Allah.

Lalu apa hubungan Islam dengan mempersiapkan kematian? Jawabannya di QS. Ali ‘Imran Ayat 185 yang artinya “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. Kita yang lupa bahwa ada kehidupan kekal di akhirat akan mengejar kesenangan dunia. Padahal kesenangan dunia hanyalah tipu daya yang akan menjauhkan kita dari keuntungan ketika pahala kita disempurnakan oleh Allah. Subhanallah, sungguh Allah dan ketetapanNYA tidak mungkin bisa diragukan. Tipu daya dunia ini sering menjadi masalah kenapa ke-Islam-an kita sangat lemah. Kita anggap bahwa pekerjaan atau kehidupan yang kita kejar di dunia tidak ada hubungannya dengan Islam. Kita ditipu oleh keangungan semu yang dimunculkan di depan mata kita. Contohnya pujian manusia, kekayaan, keindahan paras, dan banyak lagi tipu daya yang membuat kita jauh dari ke-Islam-an. Padahal, jika semua itu dibawa ke dalam keindahan Islam, masyaAllah kita akan bahagia dengan semua yang peroleh di dunia. Dan, semua itu bisa menjadi bekal kita menghadapi kematian.

Tulisan ini hanya untuk mengingatkan diri saya sendiri. Alhamdulillah ketika kawan sekalian juga mengingat kematian karena tulisan ini. Saya berpikir, mungkin kita perlu mempersiapkan semua perangkat pengurusan jasad kita nanti. Seperti menyiapkan kain kafan dan wewangian yang digunakan pada saat memandikan jasad. Kita letakkan di pojok ruangan rumah kita sebagai pengingat bahwa mati itu pasti. Setiap kita mulai dilenakan oleh dunia, setidaknya kain kafan itu selalu menjadi trigger kita untuk kembali lagi ke jalan Allah. Bukankah ini juga salah satu cara mempersiapkan kematian? Bahkan seorang Steve Job saja selalu mengingatkan dirinya akan kematian. Supaya dia melakukan sesuatu setiap harinya untuk memberikan perubahan dunia dengan inovasi dan karyanya. Kenapa kita tidak mempersiapkan kematian dengan cara seperti juga dalam payung ke-Islam-an? Semoga kita semua bisa bersiap-siap untuk menghadapi kematian dengan tetap bekerja dan beribadah semata-mata hanya mengharap Ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiiiin.

Wakanda Forever

Tags

, , , ,

Black Panther

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kawan sekalian yang sudah menonton filem Black Panther tentu masih terkenang dengan semboyan seperti di judul tulisan ini. Hampir semua orang yang sudah menonton salah satu karya terbaik Marvel Cinematic Universe (MCU) ini akan tertegun dengan kehebatan sutradara (Ryan Coogler) dalam membawakan cerita superhero ini. Saya sendiri yang sejak awal penasaran dengan filem ini, pada akhirnya terkagum-kagum pada jalan cerita Black Panther. Oke, mungkin ada yang menganggap ini terlalu berlebihan untuk menilai sebuah filem. Tetapi, jika kawan coba mengetik kata kunci Black Panther Review di Google, maka akan banyak cerita yang mengagumkan.

Saya sebenarnya sejak awal menyukai jalan cerita superhero di MCU sejak adanya Captain America dan Iron Man. Lalu, Avengers muncul dengan menggabungkan hampir semua superhero yang ada di MCU. Kehadiran Black Panther dalam jajaran superhero MCU memberikan warna sendiri untuk filem-filem mereka. Sejak kemunculannya di Captain America: Civil War, T’Challa banyak mengundang pertanyaan. Termasuk saya sangat penasaran dengan superhero berbaju panther ini. Apalagi bahan bajunya yang sama dengan perisai sang Kapten America membuat saya berandai-andai, bagaimana mungkin sebuah baju memiliki kekuatan yang sama dengan perisai vibranium? Ini setidaknya semakin menjadi-jadi ketika trailer untuk filem solo Black Panther pertama kali disiarkan di Youtube. Saya sampai mengikuti dan mengulang-ulang trailer filem itu berkali-kali. Saya juga mengikuti setiap tulisan ulasan yang membahas tentang bagaimana kiranya cerita Black Panther nantinya. Memang saya belum pernah membaca komik Marvel. Tetapi, pembahasan pada review trailer Black Panther sedikit membuka wawasan saya tentang filem yang akan tampil di bioskop pada pertengahan februari itu. Kawan sekalian yang belum menonton filem dan takut dengan bocoran filem, mending sudahi sampai sini bacanya. Saya membuka banyak bocoran di sini. Tapi kalau suka dengan bocoran, ya silahkan dilanjut bacanya sampai tuntas.

Black Panther bagi saya adalah filem yang menyentuh hati penonton. Selama ini saya hanya menganggap filem superhero MCU sama seperti filem dengan teknik visualisasi yang canggih. Atau, filem yang penuh dengan aksi-aksi menakjubkan. T’Challa memberikan kesan yang berbeda bagi saya. Sebenarnya bukan pada sosok T’Challa sepenuhnya, tetapi sosok Erik Killmonger, sang antagonis, menjadi kunci hebatnya filem ini. Salah satu adegan hal yang menyentuh hati saya adalah ketika Erik masuk ke alam arwah dan bertemu dengan ayahnya di apartemen mereka dulu. Hal ini berbeda dengan T’Challa yang bertemu sang ayah di alam arwah para pendahulu Black Panther. Arwah N’Jobu (ayah Erik) tetap berada di apartemennya karena tidak mendapat pemakaman yang layak sebagai orang Wakanda. Bagian yang menarik dari pertemuan itu ketika sang ayah dengan tersenyum menanyakan “Jadi, sudah kau temukan kuncinya? (red. Wakanda)”. Lalu, mereka berdua menangis karena Erik bertanya mengapa kita tetap di sini? Saya sempat meneteskan air mata melihat adegan ini. Saya menjadi iba pada Erik yang masa kecilnya tumbuh dengan penuh perih dan dendam atas kematian ayahnya. Sebuah Utopia yang selalu menjadi cerita dari sang ayah tentang Wakanda runtuh karena menemukan bekas cakar Panther di dada sang ayah. Jadi, sebenarnya Erik adalah kesalahan terbesar T’Chaka (ayah T’Challa) yang mengambil keputusan untuk meninggalkan jasad N’Jobu dan sekaligus meninggalkan Erik dengan kenyataan pahit. Kepedihan yang dipupuk hingga besar membuat Erik tumbuh sebagai mesin pembunuh berbahaya. Sebenarnya, Erik masih punya rasa empati terhadap penindasan di dunia, tetapi dengan sudut pandang yang keliru. Bukankah semua perang perlawanan yang terjadi di dunia ini karena adanya penindasan?

michael_b_jordan_chadwick_boseman_black_panther.0

Pertemuan antara Erik Killmonger dengan T’Challa

Berbicara terkait sejarah penindasan terhadap kulit hitam, sudah banyak buku dan filem yang membahasnya. Salah satu biopik yang paling baik menggambarkan sosok orang kulit hitam yang tertindas adalah 12 Years Slave. Kebetulan salah satu aktrisnya juga bermain di Black Panther (Lupita Nyong’o). Orang kulit hitam punya sejarah kelam terkait dengan penindasan. Set pertama yang menunjukkan potret Oakland, AS sangat kuat untuk memperlihatkan keadaan bangsa kulit hitam di Amerika. Oakland adalah wilayah Amerika Serikat yang paling banyak ditinggali oleh bangsa kulit hitam atau biasa disebut African-American. N’jobu saat itu sedang merencanakan penyerangan yang ternyata digagalkan oleh T’Chaka. N’jobu dianggap pengkhianat bagi bangsa Wakanda karena telah membocorkan lokasi Wakanda dan menyebabkan kekacauan di sana. Dari situ juga terkuak jawaban dari mana Uleysses Klaue mendapatkan Vibranium yang diambil oleh Ultron (silahkan nonton: Age of Ultron). Kenyataan yang pahit juga ketika ternyata orang kepercayaan N’jobu ternyata adalah mata-mata (Zuri) yang diutus oleh T’Chaka untuk N’jobu. Banyak twist dalam filem ini. N’jobu sebenarnya tidak jahat. Vibranium yang diambil olehnya ingin dibuat senjata untuk mengalahkan penindas para bangsa kulit hitam di seluruh dunia. Wakanda yang selama ini memiliki memiliki teknologi canggih seolah menutup diri terhadap kekacauan di sekelilingnya. Apalagi Afrika yang diserang oleh bangsa luar, dijajah, dan dijual untuk menjadi budak tidak membuka mata para raja Wakanda untuk membantu. Hanya karena ketakutan terhadap nasib Wakanda jika terlibat pada perdamaian dunia, kekayaan alam mereka akan menjadi incaran. Saya menganggap ketakutan ini seharusnya menjadi bentuk kewaspadaan yang positif. Wakanda seharusnya ikut menjadi bagian perdamaian dunia, tetapi sekaligus meningkatkan keamanan Wakanda. Bukannya mereka punya teknologi mutakhir yang dapat menyembunyikan posisi Wakanda? Tapi, inilah cerita yang coba dibangun oleh sang sutradara. Apalah arti superhero tanpa peran penjahat. Erik Killmonger hadir sebagai antitesis terhadap budaya dan kode etik Wakanda.

Kehadiran sosok jahat di filem adalah klimaks yang sulit. Tentu sutradara harus benar-benar jeli dalam memunculkan sosok antagonis untuk menguatkan cerita sebuah filem. Bisa saja sutradara menghadirkan peran antagonis yang super kuat dan sulit dikalahkan atau mungkin saja sosok lampau yang hadir kembali untuk menyebabkan kehancuran dunia. Sudah banyak tokoh jahat pada filem-filem MCU yang akhirnya kalah dengan cara yang mungkin terlihat mudah akibat kesalahannya. Atau mungkin sosok jahat karena memang punya bibit kejahatan pada diri mereka. Sebut saja penjahat pada Captain America yang memang jahat karena bagian dari Hydra. Penjahat pada Thor yang memang bangsa jahat. Mungkin ada Loki yang menjadi jahat setelah tau tidak bisa mewarisi tahta di Asgard dan cemburu dengan Thor. Tetapi, Erik Killmonger adalah penjahat yang tumbuh karena kesalahan orang baik. Penjahat yang sebenarnya muak atau jengah dengan ketidakmampuan Wakanda hadir sebagai penggerak perdamaian dunia. Erik sebenarnya adalah sosok baik yang terpaksa diubah jahat karena kenyataan perih. Ketika Erik berhasil mengalahkan T’Challa dalam duel perebutan tahta dan berhak mendapatkan kekuatan Black Panther, ada adegan pembakaran bunga bentuk hati menunjukkan bahwa Erik tidak ingin ada lagi ketimpangan yang disebabkan oleh kekuatan itu. Dia ingin menjadikan kekuatan Black Panther berakhir dengan dirinya. Mungkin setelah itu, dia berharap tidak ada lagi ketimpangan yang muncul di muka bumi jika tidak ada pewaris kemampuan Black Panther. Dia juga ingin membuka kekuatan Wakanda pada dunia untuk mengakhiri peperangan dengan peperangan yang canggih. Erik ingin memperbaiki kesalahan yang diambil oleh raja-raja Wakanda sebelumnya yang tidak mau terlibat pada perdamaian dunia. Inilah yang membuat cerita Black Panther sangat kuat.

Akhir dari filem ini membuat saya kagum dengan sosok Erik Killmonger dan kebesaran hati T’Challa. Pertarungan akhir adalah duel yang seimbang saat keduanya memiliki kemampuan herbal dan baju Black Panther yang sama. Hanya saja T’Challa lebih menguasai medan pertarungan dibandingkan Erik. Kelengahan Erik menjadi ruang terbuka bagi T’Challa untuk mengalahkannya. Tombak yang digunakan Erik membunuh Zuri akhirnya menjadi senjata yang menancap di dadanya sendiri. Ada drama di akhir duel antara Erik dan T’Challa. Ada dua permintaan yang diajukan oleh Erik sebelum mati. Permintaan terakhir Erik pun hanya ingin melihat matahari Wakanda yang indah. Sekalipun T’Challa menawarkan penyembuhan untuk Erik yang tertikam ujung tombak, Erik justru memilih untuk mati sebagai petarung dan dimakamkan seperti leluhurnya. Kenyataan yang pahit ketika Erik memutuskan menarik ujung tombak yang menancap di dadanya dan berakibat pada kematiannya sendiri. Tidak ada adegan yang menunjukkan pemakaman bagi Erik. Mungkin saja Erik tidak mati, atau mungkin juga adegan itu tidak ditampilkan karena alasan durasi. Kita tidak tau agenda sutradara. Yang jelas, kematian Erik dan impiannya untuk mengubah tradisi Wakanda pada akhirnya mengubah seorang Raja T’Challa. Wakanda akhirnya membuka diri untuk dunia luar. Tidak lagi menjadi Utopia melainkan menjadi Cornucopia.

Kehebatan filem ini juga terletak pada sosok T’Challa yang sangat hebat. Walaupun dia kehilangan ayahnya dalam serangan yang dilakukan Zemo untuk mengkambinghitamkan Bucky Barnes pada Captain America: Civil War, T’Challa tetap tidak menjadikannya sebagai sosok pendendam. T’Challa memang berhati baik. Seperti yang dikatakan oleh Arwah T’Chaka “The world is changing. Soon there will only be the conquered and the conquerors. You are a good man, with a good heart. And it’s hard for a good man to be a king“. Sulit sekali untuk orang baik hati menjadi raja, oleh karena itu dia harus memiliki orang yang dapat dipercaya di sekelilingnya. Kebaikan T’Challa untuk memaafkan kejahatan Erik juga menunjukkan kepada kita tidak ada gunanya menaruh dendam.

Saya rasanya sudah sepantasnya jika filem Black Panther diberikan Standing Ovation. Kehebatan Ryan Coogler dan pemeran pada filem ini telah membuka mata kita bahwa ketidakadilan dan kepedihan akan mengubah orang baik mengambil sudut pandang yang keliru akan perdamaian dan pada akhirnya terlihat jahat. Jika ada filem sekuel untuk Black Panther, tentunya saya akan rela mengantri untuk menjadi penonton pertama di bioskop. Hehehe. Saya memberikan rating filem ini 10/10 di samping Shawshank Redemption dan Forrest Gump. Itu saja pendapat saya. I’m Muhammad Bakri son of Baco Summing. Wakanda Forever!!!

wakandaforever_preview_1x

Historical January

Tags

This month means alot for me. Many things happened on January that change my life. Let me mention it one by one. I born on 27th when my mother on the age of 40. My father brought me to home from the hospital with a cart. The distance from my house to hospital is more than 5 km. I’m the last child in my family. That’s about my birthday.
When I was 21 years old, I lost my beloved grandmother. Also in January, the night I spent a new years event in Malang. I received a call from my sister, she said grandma is passed away. It was a sad day because I remember she always cook my favorite snack. We call it Baje’ Baka’. One thing I always remember about her that she can’t call my name correctly. She always call me Bakari. It’s a Buginesse tongue, we can’t say a word with dead syllables in middle of word. So, Bakri will become Bakari. She always make us have a heart attack when she never see the state of the road while crossing. She always sure that the driver can see her cross and know how to hit the brake. Alhamdulillah she never get hit, just nearly.

When I graduate from university in Malang, I decided to leave my hometown to work in Lampung. It’s also happened in January. I came to Lampung in 28th, then get my job in February. That was my though decision. My father refuse to admit that I will leave my home to pursue my dream to become a lecture at university. That was not my only reason to go Lampung. It’s because one of the precondition to marry my lovely girlfriend is to live in Lampung. So, I took a big step to live in Lampung even I don’t know anyone in Lampung, even relatives. That was a big risk I take, but I’m glad to.
Then a year later, I vow to married my beloved lady at 22nd in front of my father. That day change my life a lot. I become more responsible to someone that I promise to protect till death. That day also I realize, that I’m ready to become husband and lately become a father to a beautiful daugther.

In 26th January 2016, I lost my father by cause of heart attack. It was like a lightning strike me in broad daylight. One day before my birthday, my father passed away and I’m far away to look him directly before buried. It was a sad day to me.

Today also historical to me. Finally after 7 years separated in different district, my wife came to home and stay with me. It was a hard day when separated by job responsibility in different place. We can see each other only on weekend or holiday. Living a life far apart is not an easy life to live. There’s a time that we nearly divorce because of a long distant relationship. I force her to leave her job, but my parent-in-law force her to keep the even far apart from her own husband. But now, the story has changed. She gets her promotion to change job in my town. So, I don’t have to live alone anymore. May be it’s not a great story for you guys. But, I can only tell the story how this month always mean alot to me. That’s all.

Ujian Skripsi Rasa Triathlon

Tags

, ,

Kalau kawan tau apa itu triathlon, tentu akan terbayang seperti apa rasa lelahnya. Tiga hari belakangan ini saya sepertinya mengikuti lomba triathlon. Rasa lelah timbul karena kegiatan kampus yang tidak ada henti-hentinya datang silih berganti. Saya sendiri harus berpindah lokasi setiap sesi. Bayangkan saja kalau dalam sehari ada tujuh sesi (07.00 sampai 19.00), saya harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan menenteng tas ransel yang berisi berkas nilai dan draft skripsi mahasiswa yang akan saya uji di hari itu. Beban pundak saya bertambah banyak.

Tiga hari terakhir ini adalah masa yang paling berat karena saya harus melakukan pengujian skripsi sampai malam hari. Bukan tanpa alasan, keterbatasan ruang dan jadwal yang menyebabkan kami harus harus melakukan seminar skripsi marathon seperti itu. Belum lagi jadwal wisuda yang semakin mepet ditambah mahasiswa yang ingin mengejar kelulusan harus ekstra kerja keras untuk mencapai hasil penelitian yang telah diujikan proposalnya. Jadinya, dosen dan mahasiswa kerja keras untuk menyelesaikan skripsi. Saya harus mengkoreksi setumpuk berkas skripsi yang menutupi meja saya, dan mahasiswa harap-harap cemas menunggu persetujuan seminar skripsi dari saya. Belum cukup sampai di situ, saya juga dikejar oleh mahasiswa yang pernah saya uji proposalnya. Mereka harus mencocokkan jadwal ujian bimbingan saya dengan jadwal menguji pembimbing mereka. Saya juga begitu harus menyesuaikan jadwal saya dengan dosen penguji bimbingan saya. Harus hati-hati menentukan jadwal, jangan sampai tabrakan dengan jadwal yang lain.

Alhamdulillah ada aplikasi seperti Google Calendar yang membantu saya mengatur jadwal ujian dari perangkat apapun. Terkadang mahasiswa datang mengatur jadwal ujian saat saya menggunakan komputer, jadi langsung saja buka calender di komputer dan mengisi jadwal. Kalau saya sedang main HP, saya buka aplikasi di hape. Terima kasih Google.

Oh ya, setelah selesai dengan pengujian saya harus pindah ke arena selanjutnya. Kalau di triathlon, setelah renang dan bersepeda, saya harus lari jarak jauh lagi. Kalau sudah selesai dengan proses bimbingan dan pengujian. Maka selanjutnya adalah tahap revisi hasil ujian. Saya harus memastikan mahasiswa bimbingan dan yang saya uji benar-benar mengerjakan revisi ujian. Belum lagi mahasiswa yang harus ujian ulang karena gagal saat ujian. Mereka juga mengejar saya untuk memastikan saya memberikan nilai kepada mereka. Ada yang cukup datang ujian ulang sekali, ada juga yang harus bolak balik datang untuk ujian ulang. Ini tentu menguras energi dan pikiran untuk berpindah dimensi dari mode membimbing ke mode menguji dan ke mode merevisi hasil koreksi ujian. Belum sempat sampai di situ, saya harus memikirkan kelas mata kuliah yang saya ampu. Sudah lama tidak bersua dengan mahasiswa saya karena padatnya kegiatan di kampus. Ini benar-benar seperti triathlon yang akan berulang setiap tahun.

Antara Bimbingan dan Nongkrong

Tags

,

It’s nearly end of the graduation year in Teknokrat. November ceria jadi November dag-dig-dug-serr. Bulan ini adalah bulan penentuan apakah para mahasiswa di Teknokrat sudah layak untuk diwisuda tahun ini. Para mahasiswa dan pembimbing berjibaku perpacu dengan waktu untuk menyelesaikan penelitian masing-masing. Saya sendiri tidak luput dari kondisi itu. Mahasiswa bimbingan saya harus lulus tahun ini. It’s almost like mission impossible. Waktu kami hanya tersisa sebulan dan itu sudah lewat karena batasnya dimulai dari bulan Oktober kemarin. Sekarang saya harus memastikan semua mahasiswa saya harus lulus tahun ini.

Membimbing di sela-sela kesibukan kampus yang super duper padat memaksa saya harus menggunakan segala macam cara dan pendekatan untuk melakukan bimbingan. Mulai dari pertemuan lewat aplikasi Whatsapp, Drive, sampai dengan kumpul di rumah saya. Malam ini saya meminta mahasiswa bimbingan saya untuk berkumpul di Dunkin Donuts. Alasannya sederhana karena cuma Dunkin Donuts yang punya akses internet lumayan cepat dan buka 24 jam. Sampai tulisan ini diposting, kami masih diskusi untuk menyelesaikan skripsi masing-masing.

tim babe

Tetap semangat demi toga dan wisuda

Bimbingan cara ini lumayan butuh biaya, karena tidak mungkin datang ke Dunkin hanya untuk dapat akses wifi tanpa beli produk mereka. Sama saja dengan nongkrong, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Bimbingan skripsi. Saya harus keluarkan biaya untuk mereka, tidak mungkin meminta mahasiswa bimbingan saya untuk membelikan saya minuman. Justru saya yang harus membelikan mereka makanan dan minuman. Tapi sayang, digit di rekening masih belum menembus 12 digit, jadinya BDD (Bayar Dewe Dewe) hahaha. Untungnya Dunkin punya paket beli 9 gratis 9, jadi saya cukup keluarkan sedikit untuk dapat yang banyak. Di saat-saat sempit seperti ini harus ekstra kreatif.

tim babe 2017

Wajah-wajah para pejuang skripsi

Rasanya susah meninggalkan kebiasaan saat kuliah dulu. Bimbingan sambil nongkrong. Saya ingat sekali ketika masih ikut di Lab Winner ITB, kami sering sekali ditraktir oleh dosen pembimbing. Mungkin karena dosen saya punya banyak proyek jadi mentraktir mahasiswa bimbingan bukanlah hal yang berat bagi mereka. Kalau saya, dosen yang belum punya proyek. Penelitian pun belum jebol. Adanya dompet yang jebol hahaha. Jadi, kalau sudah nongkrong dengan bimbingan saya, masih pake cara BDD tadi. Semoga suatu saat bisa mentraktir mahasiswa bimbingan saya setiap kali bimbingan di luar kampus. Ini juga untuk menjalin chemistry dengan mereka supaya proses bimbingan bisa berjalan lancar. Jadi kalau sudah dekat, dicaci maki sekalipun karena revisian yang gak kelar-kelar tak apa. Tak sakit hati. Ini yang coba saya bangun. Lewat nongkrong banyak yang bisa saya gali dari mereka, sekaligus saya bisa menyedot aura muda mereka untuk membuat saya tetap muda dalam jiwanya. Usia boleh tua, tapi jiwa tetap harus muda. Itu aja sih hahaha.

Kenali Siapa Lawan, Siapa Kawan

Tags

My Friend become my enemy and my enemy become my friend

Itu mungkin salah satu dialog dalam film Sky High yang rilis tahun 2005. Sekilas cerita dalam film itu menggambarkan keadaan yang sedang saya alami saat ini. Mengenal kawan dan lawan sama halnya menentukan pilihan kepada siapa kita akan percaya untuk mendukung dan melindungi kita. Terkadang lawan serasa kawan yang begitu lekat namun menusuk dari belakang. Justru mereka yang kita anggap lawan ternyata kawan yang melindungi. Bergaul dengan manusia memang tidak mudah, karena mereka menyimpan sesuatu dalam hati mereka yang hanya Allah dan orang itu saja yang tau isi hati mereka. Kita hanya bisa menebak dan memprediksi seperti apa orang yang ada di sekitar kita.

Urusan memilih teman sebenarnya telah diingatkan oleh Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Jika banyak bergaul dengan penjual minyak wangi, kita akan tertular wanginya. Kalau bergaul dengan penjual bawang, maka akan tertular bau bawangnya. Ini artinya berhati-hati dalam bergaul. Bisa saja teman yang selama ini kita anggap sebagai orang yang dapat dipercaya ternyata punya agenda tersembunyi. Orang yang justru kita anggap lawan malah menjadi orang yang bisa melindungi diri kita sendiri. Urusan memilih teman bergaul ini yang membuat kita harus ekstra hati-hati dalam memberikan informasi penting. Terutama urusan pribadi. Mungkin saja kawan jadi ember bocor. Tapi bagaimana memilih teman? Itu urusan yang mungkin sangat rumit. Ada yang memilih bergaul dengan siapa saja, tanpa harus memilih kawan atau lawan. Semua dianggap punya kualitas hati yang sama. Ada juga yang super selektif dalam bergaul dengan siapapun.

Kasus memilih teman memang tidak mudah, karena bisa saja kita terlalu berlebihan dalam menilai seseorang yang dapat dijadikan teman. Bahkan terkadang kita memilih teman sesuai dengan karakter kita sendiri. Tentu orang yang cenderung tertutup, akan lebih memilah-milah siapa yang dapat dijadikan teman. Kalau orang terbuka, justru terlalu mudah untuk ditebak orang lain. Justru orang seperti mungkin saja tidak punya sahabat yang terlalu lekat. Toh, semua orang bisa mengetahui keadaan dirinya, karena lebih senang bercerita tentang dirinya. Lalu, kita harus jadi seperti apa? Itu sih pilihan kawan masing-masing. Saya sih lebih cenderung menjadi pribadi yang kedua. Hahaha

Pesan Untukmu Wahai Mahasiswa

Hei mahasiswa
Kuliah itu bukan soal angka
Tapi lebih soal ilmu
Kau mengejar fatamorgana
Padahal oase ada di sekitarmu
Aku bukan pemberi angka palsu
Bukan pula penerima upeti untuk nilaimu
Aku hanya menyampaikan apa yang kutau
Biar kau juga tau untuk semua itu
Kalau hanya angka tujuanmu
Adakah beda dengan kertas togel di tanganmu?