Pesan Untukmu Wahai Mahasiswa

Hei mahasiswa
Kuliah itu bukan soal angka
Tapi lebih soal ilmu
Kau mengejar fatamorgana
Padahal oase ada di sekitarmu
Aku bukan pemberi angka palsu
Bukan pula penerima upeti untuk nilaimu
Aku hanya menyampaikan apa yang kutau
Biar kau juga tau untuk semua itu
Kalau hanya angka tujuanmu
Adakah beda dengan kertas togel di tanganmu?

Advertisements

Upgrade Ilmu di TTT Google Faculty Training

Tags

, , ,

Android sudah lama saya kenali, tetapi hanya sebatas sistem operasi yang berjalan di perangkat mobile. Belum pernah saya tertarik untuk menyelami isi pemrograman di dalamnya. Tetapi, belakangan ini saya mulai tertarik untuk mengetahui konsep kerja sistem operasi satu ini. Apalagi ketika tim Desain UX saya tidak lolos dalam Pagelaran Mahasiswa Teknologi Informasi dan Komunikasi (GEMASTIK) di Universitas Indonesia. Saya semakin tertantang untuk mewujudkan cita-cita untuk bisa bersaing lagi dengan para juara di sana. Tentu dengan membekali mahasiswa bimbingan saya untuk bisa setara dengan kemampuan kampus besar di luar sana. Satu hal yang sangat kurang dari kami adalah kemampuan untuk membuat program, terutama di platform mobile. Kami hanya mampu membuat desain prototipe yang rasanya sangat kurang untuk menyaingi aplikasi tim lawan yang sudah jadi.

Nah, kebetulan yang sangat baik, salah satu rekan kerja mengunggah tautan tentang pelatihan Training To Trainer (TTT) untuk pemrograman mobile berbasis Android. Kesempatan yang tidak dapat dilewatkan, walaupun pada saat mendaftar saya masuk ke dalam daftar tunggu. Alhamdulillah, ternyata saya berhasil lolos untuk mengikuti kegiatan pelatihan tersebut bersama seorang rekan lagi dari kampus. Pelatihan ini adalah kerjasama antara Dicoding dengan Google untuk memberikan pelatihan kepada dosen untuk mengajarkan kurikulum Google di kampus masing-masing. Lebih-lebih lagi kegiatan ini dibiayai penuh oleh Google mulai dari penginapan sampai kebutuhan pelatihan. Saya kira ini adalah amanah yang harus dijalankan ketika kembali bertugas lagi nanti. Oh ya, kegiatan ini dilaksanakan di Jogjakarta. Tidak ada kenangan di kota ini jadi tidak membuat saya ingin bernostalgia. Cuma ada kedai kopi yang direkomendasikan oleh rekan KPKL. Itu saja yang membuat saya ingin keliling kota Jogjakarta. Satu lagi toko yang direkomendasikan oleh istri tercinta. Itu untuk oleh-oleh ketika pulang.

Di hari kedua ini (kemarin sudah mulai), saya mulai terkagum-kagum dengan apa yang sudah dilakukan oleh Google terhadap Android. Perkembangan yang sangat luar biasa sehingga saya sendiri tidak mampu mengejar materi yang disampaikan oleh pemateri. Sejatinya, workshop seperti ini dilaksanakan selama 16 hari, tetapi dipadatkan menjadi 5 hari. Itupun tidak semua materi harus disampaikan secara rinci. Pemateri juga terkesan terburu waktu untuk menyelesaikan penyampaian materi mereka. Ini sih wajar karena bahan pelatihan sangat besar dan waktu sangat sempit. Kalau dilaksanakan sesuai dengan jumlah hari yang sebenarnya, para peserta juga akan kesulitan mendapatkan izin dari kampus. Jadi, waktu pelatihan selama 5 hari sudah cukup untuk membuka wawasan dan pengetahuan tentang pemrograman Android. Selanjutnya bisa dipelajari sendiri. Panitia dengan baik hati memberikan semua materi dan perangkat pendukung yang bisa kami gunakan untuk belajar.

Saat ini tinggal belajar mandiri untuk mengejar ketertinggalan saat materi di kelas. Setelah itu, saya dan rekan saya harus menguasai dan membuat modul sederhana untuk pelatihan mandiri di kampus kami. Semoga materi esok dan seterus semakin menarik. Saatnya saya keliling ke kedai kopi dulu. Itu sudah.

Waktunya Tamu Kembali Pulang

Tags

, ,

Bila siap dengan pertemuan, maka bersiaplah dengan perpisahan juga. Semua yang datang akan kembali pada peraduannya. Begitu pula hari ini, tamu dari Forum Rektor Indonesia di Universitas Teknokrat Indonesia sudah mulai kembali ke tempat asal mereka. Sekalipun hanya beberapa hari di Bandar Lampung, setidaknya mereka meninggalkan kesan yang mendalam untuk kami sebagai panitia. Tentu saja semua kami juga meninggalkan kesan yang baik untuk mereka. Alhamdulillah, tanggapan para tamu, rektor dan rombongan, menanggapi dengan senang hati atas pelayanan yang kami berikan. Walaupun masih banyak kekurangan yang terjadi, tetapi semua berjalan dengan lancar.
Saya sendiri tidak dapat memberikan layanan yang penuh terhadap tamu yang menjadi tanggung jawab saya. Hari ini saya juga harus meninggalkan Bandar Lampung untuk beberapa hari ke depan.

Dua hari yang lalu, saya menerima tamu dari Universitas Samawa (Unsa). Rektor Unsa, Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar, beserta rombongan beliau tiba dengan selamat walaupun sempat delay di Bandar Soetta selama beberapa jam. Setelah tiba, saya langsung mengajak mereka untuk makan di rumah makan Pindang Meranjat RIU cabang Natar. Mereka benar-benar menikmati hidangan terutama pindang baung, sambal mangga, dan sambal tempoyak. Bagi lidah mereka, rasanya unik. Saya rasa semua juga merasakan hal yang sama ketika mencicipi hidangan khas Lampung ini.

Menunggu pesanan, sambil berbagi cerita tentang Sumbawa

Banyak sekali yang kami cerita saat menikmati hidangan di pindang RIU. Perbedaan karakter dan istilah dalam dunia kuliner dan cerita tentang keindahan tanah Sumbawa. Tapi saya ini sangat kagum dengan Rektor Unsa yang bersahaja. Bahkan, standar pelayanan kami dinilai terlalu wah. Tapi, inilah standar kami dalam menjamu tamu. Kami harus memperlakukan mereka bak raja di rumah kami. Beliau tak henti-hentinya menyatakan kekaguman beliau terhadap kesungguhan kami dalam melayani. Saya kira ini tanggapan yang sangat kami harapkan.
Hari ini, kami harus berpisah. Bukan karena beliau akan pulang ke Sumbawa, tetapi saya yang harus pergi ke Jogjakarta untuk menjalankan tugas kampus. Beliau masih punya waktu sehari untuk menikmati kota Bandar Lampung dan sekitarnya. Saya harap kedatangan beliau di kota ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Rombongan Universitas Samawa bersiap pulang ke Sumbawa

Selamat Jalan dan Semoga Selamat sampai tujuan Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar dan rombongan. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan.

Menjamu Tamu ala Teknokrat

Tags

,

Tamu adalah raja. Itu ungkapan yang ada benarnya. Tamu yang datang jauh maupun dekat sudah selayaknya disambut bak raja. Mungkin itu maksud dari peribahasa tadi. Begitu pula di kampus tempat saya bernaung. Tamu adalah mereka yang harus mendapatkan kesan dan kenangan yang baik tentang kampus kami. Bukankah semua juga harus begitu? Sudah standar operasional penjamuan tamu di mana-mana.

Di Universitas Teknokrat Indonesia, menjamu tamu tidak cukup hanya meninggalkan kesan baik saat penjamuan. Kampus ini ingin menciptakan kenangan yang akan terus menjadi bahasan oleh tamu di manapun mereka berada. Tamu yang dijamu harus merasakan atmosfer Universitas Teknokrat Indonesia yang ramah dan meriah. Tamu bagi kami bukan hanya mereka yang datang dari antah berantah lalu pergi tanpa kesan mendalam. Tamu bagi kami adalah saudara jauh yang telah lama dirindukan untuk datang. Jadi, layanan harus prima dari datang sampai pulang.

Mungkin ada yang menganggap metode layanan seperti ini super lebay, tapi saya rasa inilah cara pelayanan terhadap tamu. Tamu harus dilayani sampai detail. Apalagi hari ini, beberapa rektor perguruan tinggi di Indonesia akan hadir dalam Forum Rektor Indonesia (FRI) di kampus kami. Kampus kami beruntung menjadi penyelenggara pertemuan FRI karena akan didatangi orang-orang hebat. Mereka tentu bukan orang sembarangan, sekalipun yang dikirim adalah perwakilan rektor. Mereka adalah tamu penting kami dan saya sendiri harus melayani serta menjamu rombongan Rektor Universitas Samawa, NTB. Alhamdulillah saya masih diberi kepercayaan untuk menjadi Liason Officer (LO) di acara sebesar ini. Sudah lama rasanya tidak ikut dalam kegiatan kepanitiaan seperti ini. Gelora ketika masih menjadi mahasiswa dulu mulai membara kembali. Serasa saya muda kembali, hahaha.

Di kampus kami, segala kegiatan harus perfect. Kalau dulu saya suka bertanya kenapa segala hal harus perfect? Ternyata hal itu saya tau jawabannya ketika berada di luar lingkungan kampus. Apalagi ketika mengikuti acara yang diselenggarakan oleh pihak lain. Ada muncul rasa greget terhadap panitia kalau melihat mereka tidak sigap menyelenggarakan acara. Padahal acara yang diadakan seharusnya dipersiapkan dengan baik, dan segala perubahan harus ditanggapi dengan kesigapan. Inilah didikan yang diberikan oleh Rektor kami, bapak H.M. Nasrullah Yusuf. Tangan dingin beliau ternyata secara tidak langsung membentuk karakter kami untuk tangguh dan tidak cengeng dalam menangani kegiatan di kampus. Jadi, hari ini harus prima menjemput tamu.

Selamat datang para rektor dan rombongan di Universitas Teknokrat Indonesia. Selamat datang bapak Prof.Dr.Syaifuddin Iskandar dan rombongan di Bumi Sai Ruwa Jurai.

Kembali Untuk Kesekian Kalinya

Entah ini untuk keberapa kali saya menulis untuk menyatakan akan aktif menulis blog lagi. Padahal mah, selalu saja sibuk dengan berbagai macam alasan. Ya, alasan bukan kesibukan. Kalau sibuk mah, pasti yang lain lebih banyak kesibukan, tetapi toh masih tetap bisa menulis blog. Hari ini, saya mencoba kembali untuk kesekian kalinya.
Blog ini sudah lama mangkrak, seperti proyek gedung pemerintahan di Kota Baru, Bandar Lampung, yang sekarang jadi ladang ilalang. Setidaknya ini langkah awal lagi untuk memulai menulis. Dulu mungkin karena perangkat yang terkadang tidak mendukung kecepatan ide yang sekelebat muncul di dalam kepala. Sekarang perangkat baru seharusnya mendukung untuk saya menuangkan ide cerita. Anytime, anywhere.
Kawan-kawan yang mungkin mengikuti blog ini, doakan semoga konsistensi saya kembali seperti dulu lagi. Opini tentang kehidupan berbangsa dan bertanah air, akan saya tuangkan kembali. Sudah jengah juga kalau hanya dipendam dalam hati. Rekan diskusi juga susah dicari. Walau hanya untuk sekedar untuk ngopi dan diskusi.

Jengahku di Balik Lelah

Sekali ini hanya satu
Di balik meja kerja
Aku menekan deretan abjad
Bukan untukku, tapi mereka
Aku tau ini hanya awal
Di semua akhir yang tak diharapkan
Jangan tolak sekalipun kau tak terima
Biarlah mereka tau
Belajar tak tentu senang
Aku tau, kau juga tau
Angka hanyalah angka
Begitu juga kata
Aku titipkan semua jengah
Sesuaikan harapan
Atau hanya penyesalan
Aku tak pernah sempurna
Dari semua yang menjadi cerita
Bandar Lampung, 3 Januari 2017

Severe Mental Block

Tags

, , , ,

thomas-a-edison-iitsaffirmations

It’s been awhile for me not writing on this my very own blog. Actually, I’ve spent a lot of time for not pushing myself to write again. I think this is a severe mental block. I even don’t know why am I wasting my time to doing nothing but only sticking my nose to my smartphone. This is maybe a some reason why this blog being neglected. My mental block caused by being dumb using smartphone.

Lately, I’m not having any idea to written in my blog. I’m extremely busy by doing my work at the office. I have a lot student to supervised their thesis. I have a lot of class to teach. I have a lot stacking work to do. I could blame that. Cliche. Maybe I’ve been distracted by many things and I blame that for being my mental block. Or maybe it’s not a mental block. It’s mental illness. Maybe. Hahaha. I don’t want to lose my ability to write my thought. What can I do if I don’t write again? It’s the only thing that can at most. I can’t back in time to be a Programmer or pursuit on my new passion on Coffee. I’ve made choice to be a lecturer and lecturer must write. Even it’s only a haggish blog. I’m afraid this mental block drive me to give up on writing.

So, I decide, in middle of my teaching class, I write about this mental block thing. Hope this can be continued in the future. So, I can write again like I used to. I’ve read this good article about get away from mental block. Just take a look at this article’s link. Hope can help you to to get away from mental block. I only can write this short post. Next time, hope I can write a long story with a good English writing. Sorry about the grammar. Hihihi.

Idealisme, Kemakmuran, dan Perjuangan

Tags

, , , ,

Jangan campurkan idealisme dengan urusan perutmu, lambat laun idealismemu akan luntur. –Mas Dudi, 2013-

Masih teringat dengan jelas pernyataan Mas Dudi, rekan seperjuangan di ITB dulu. Idealisme tidak akan pernah berbaikan dengan urusan perut, apalagi urusan di bawah perut. Orang yang bertahan dengan idealismenya sering kali hidup dengan sederhana. Jarang sekali dari mereka hidup dengan bergelimang harta. Sekalipun mereka berada di puncak karir yang baik, kehidupan mereka tetaplah sederhana. Bahkan di akhir hayatnya hanya mati dengan sederhana, tidak jarang juga ada yang tragis kepergiaanya. Sebut saja Soekarno yang mempertahankan idealismenya dalam memimpin Indonesia. Beliau harus hidup dari satu pengasingan ke satu pengasingan lainnya. Beliau sudah menikmati kehidupan dalam penjara sampai pada kehidupan di istana. Soekarno tetaplah Soekarno. Beliau tetap hidup dengan idealisme, walaupun di akhir karirnya beliau digoyahkan oleh persoalan komunisme. Bung Hatta juga hidup dengan penuh idealismenya. Apakah di akhir hayatnya hidup makmur? Tidak, Bung Hatta tetap hidup sederhana. Mungkin ukurannya lebih baik dibandingkan dengan pejuang lainnya.

soekarno

Idealisme harus diperjuangkan kawan. Kita tidak akan pernah bisa mempertahankan idealisme jika tidak berjuang. Bisa dibayangkan bagaimana perjuangan seorang Soekarno dan kawan-kawan memperjuangkan nilai Pancasila untuk Indonesia. Mungkin itu terlalu jauh dengan konteks kehidupan saat ini. Soekarno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”. Ada saja kisah di mana orang yang memperjuangkan idealismenya harus berhadapan dengan orang terdekatnya. Kisah seperti Baba Akong yang tetap menanam bakau sekalipun dianggap gila oleh tetangganya. Channe Brule yang rela meninggalkan negaranya untuk mengurusi hewan di Kalimantan. Tindakan gila yang dianggap tidak akan membuatnya kaya. Dr Lie Darmawan, si dokter yang menolong pasien tanpa memikirkan biaya perawatan. Masih banyak lagi nama yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Lalu, apakah idealisme yang saya pegang sebagai pengajar di sebuah kampus yang sudah melahirkan lulusan hebat ini bisa juga dianggap gila? Atau mungkinkah saya memang gila dan bukan karena mempertahankan idealisme? Idealisme harus diperjuangkan.

Saya menganggap hidup sederhana dalam mempertahankan idealisme itu perlu. Apakah tidak ada jalan untuk tetap kaya sekalipun masih dengan idealisme? Kawan tau? Saya sendiri masih menganggap idealisme ini masih kalah dengan kebutuhan dapur yang harus dipenuhi. Dapur harus tetap ngebul. Anak dan istri harus tetap makan. Sekalipun hanya nasi putih dan sayur tumis kangkung yang dipetik di samping rumah. Idealisme memang susah diperjuangkan kalau sudah menyinggung area perut. Saya sendiri masih mencari cara untuk tetap bisa makan sekalipun hidup dengan memperjuangkan idealisme. Terkadang ada pikiran untuk ikut menjilat pantat penguasa, tetapi itu busuk. Saya belum punya kekuatan untuk melakukan itu, tetapi juga terlalu lemah untuk melawan. Tapi, idealisme tetap harus diperjuangkan. Bukan begitu kawan?

 

Hidup Bebas atau Mati Syahid

Tags

, ,

Semua kehidupan pasti mati. Itu pernyataan klise yang sebenarnya tidak perlu dibantah lagi. Manusia hanya hidup sekali setelah itu mati dan tak berarti lagi bagi kehidupan. Manusia yang mati hanya meninggalkan nama untuk dikenang pada saat-saat tertentu. Manusia yang mati tanpa meninggalkan “warisan” hanya akan menjadi seonggok tanah yang kian lama akan amblas dimakan usia. Jadi, untuk apa sebenarnya kehidupan dan mati itu?

Hidup bebas atau mati syahid, mungkin itu kalimat yang selalu digaungkan oleh para pejuang kemerdekaan untuk merdeka dari penjajahan. Secara fisik kita sudah merdeka karena perjuangan mereka. Pahlawan gugur di medan perang, ada yang dikenang ada juga yang terlupakan. Entah oleh ganasnya kekuasaan yang merekayasa sejarah, atau memang terlupakan karena tiada yang pernah tau. Mengapa hidup harus bebas? Bukankah kebebasan bisa kebablasan? Atau mungkin kemerdekaan yang selalu dirayakan oleh kita setiap tahun hanyalah kamuflase dari bentuk penjajahan yang sejati. Kita sebenarnya belum bebas. Kita sebenarnya masih terjajah secara mental. Kita justru masih mengagungkan feodalisme. Kita berebut menjadi amtenar yang ingin menguasai setiap afdeling tanah air ini. Itukah kebebasan? Bukan kawan, itu kebablasan.

Banyak sekali orang yang masih terjajah oleh struktur kekuasaan, strata sosial, gaya hidup, dan pembodohan institusi sekolah. Kita terlalu sibuk menyikut sesama untuk menguasai mereka. Kita ini manusia kawan, yang diciptakan untuk memanusiakan sesama. Kita diciptakan Tuhan untuk menciptakan keseimbangan di muka bumi ini. Kalau tidak bisa hidup bebas dari penjajahan, lebih mati dalam perjuangan. Tidak perlu takut suatu saat semua kawan menjadi lawan. Kebenaran selalu ada penentangan. Bukan kebenaran yang dipaksakan layaknya paham-paham radikal. Kebenaran itu kita tunjukkan dengan menjalankannya dengan sepenuh hati dan belas kasih. Saya mengutuk pada siapapun yang memenjarakan kebebasan manusia untuk berpikir. Biarkanlah manusia menjadi manusia, bukan menjadi binatang. Seperti sapi yang susunya diperah tapi disiksa. Seperti ayam yang dipaksa makan hingga tumbuh tak sempurna.

Kalau ada manusia yang masih hidup dengan mencium pantat penguasa demi sebuah nama di mata manusia. Berarti ini ciri-ciri manusia yang akan mem-binatang-kan manusia lain. Mereka adalah orang munafik yang akan bermanis-manis di depan kekuasaan, lalu menginjak-injak di balik punggung. Kalau ada manusia yang tetap bertahan dari gempuran cemoohan merendahkan dari manusia lain, ini ciri-ciri orang yang akan mati dengan syahid. Kita hidup hanya sekali untuk berarti lalu setelah itu mati. Mau mati konyol silahkan. Mau mati syahid silahkan. Itu semua pilihan yang diberikan oleh Tuhan untuk kita. Agama tidak pernah memaksa, agama hanya menata. Manusia yang terjajah pikirannya akan menolak agama. Manusia yang terjajah pikirannya akan memaksakan agama. Pada akhirnya, hidup bebas atau mati syahid adalah pilihan yang layak diambil kedua-duanya. Lalu, apa pilihanmu kawan?

Dilarang Bimbingan Skripsi di Perpustakaan

Tags

, ,

library

Sejatinya perpustakaan adalah tempat pergulatan ilmu. Tempat bagi mereka yang mencari dan berbincang tentang keilmuan. Seperti perpustakaan di Babilonia kala itu. Saat ini juga masih seperti itu. Cuma saat ini perpustakaan sepertinya tidak menjadi tempat yang diminati, terutama bagi insan pelajar di perguruan tinggi. Teknologi informasi sudah memudahkan mereka untuk mencari sumber pengetahuan. Makanya perlu beberapa inovasi untuk mengajak kembali para pencari ilmu untuk mencintai perpustakaan. Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan mengadakan proses bimbingan di perpustakaan. Tahun lalu bisa dikatakan sayalah penguasa perpustakaan (hihihi sombong!!!), karena hampir setiap hari saya meluangkan waktu di sana. Lalu, mengapa sekarang bimbingan tidak boleh lagi dilakukan di perpustakaan kampus tercinta kami? Bukan kebijakan kampus kok, hanya ada oknum ketua program studi tertentu yang tidak membolehkan.

Apa pasal larangan bimbingan tidak boleh di perpustakaan? Oke, ada beberapa hal kawan. Pertama, mahasiswa bimbingan saya yang berjumlah 20 orang itu selalu berkumpul bersama di perpustakaan. Sekalipun tidak semuanya tapi cukup untuk menguasai meja panjang yang ada di perpustakaan. Hal ini membuat mereka mengganggu kenyamanan pengunjung lainnya. Oke, kalau berisik saya akui terkadang mereka memang seperti itu. Tetapi itu pun tidak dalam level parah seperti cekikikan tidak jelas di perpustakaan. Masih mending kan mereka kumpul untuk mengerjakan skripsi atau tugas akhir bersama-sama daripada mahasiswa yang menggunakan perpustakaan untuk pacaran. Menurut kawan bagaimana?

Kedua, mungkin ini salah satu alasan kenapa dilarang bimbingan. Kami sering membawa minuman saat kegiatan pembimbingan. Okelah ini pelanggaran. Case closed. Ketiga, tidak boleh menggunakan ruang perpustakaan untuk kegiatan pembimbingan atau kuliah. Nah, yang satu ini menjadi kontradiktif karena sebelumnya ada himbauan untuk mengadakan kegiatan perkuliahan di perpustakaan. Pembimbingan skripsi juga kan kegiatan perkuliahan walaupun kegiatan tatap mukanya tidak terjadwal dengan rutin seperti kuliah lainnya. Lalu, kenapa tidak boleh? Saya gagal paham.

Saya bingung, apakah yang saya lakukan itu salah atau melanggar? Oke lah, kalau tidak boleh berkumpul di perpustakaan untuk kegiatan bimbingan, seharusnya ada tempat untuk kegiatan itu. Saya akui kampus saya masih punya keterbatasan ruangan. Saya juga tidak mempermasalahkan itu karena perpustakaan masih bisa menjadi pilihan untuk kegiatan bimbingan. Tapi kalau sudah dilarang, ke mana lagi saya (jadi kangen ruang residensi di ITB)? Hanya perpustakaan sajalah yang menyediakan meja, kursi,dan terminal listrik untuk kegiatan bimbingan atau pengerjaan skripsi. Ada sih tempat yang cozy untuk kegiatan bimbingan atau mengerjakan skripsi. Tapi tempat yang satu ini butuh biaya yang lumayan mahal. Kawan mungkin tau tempat yang saya maksudkan itu. Okelah, tempat itu adalah Starbucks atau kafe selain itu. Starbucks memang menyediakan tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas atau menulis. Dulu saya juga memilih tempat ini sebagai tempat untuk menulis kalau malas ke perpustakaan. Di sana ada fasilitas koneksi internet yang lumayan cepat, ruangan ber-AC, ada musik yang merdu, dan tentunya bisa makan dan minum di dalamnya (namanya juga kafe hihihi). Cuma, Starbucks menguras dompet kalau dilakukan setiap hari. Nanti malah saya dianggap dosen pembimbing yang paling mahal karena harus bimbingan di kafe hihihi.

Saya punya angan-angan suatu saat punya ruangan sendiri untuk kegiatan pembimbingan atau penelitian. Setidaknya seperti Laboratorium Winner di ITB dulu. Ada fasilitas internet yang cepat, ada dispenser untuk air panas dan dingin, ada coffee maker, dan tentunya ada banyak buku literatur yang dapat digunakan oleh mahasiswa bimbingan saya. Hmmm…asyiknya. Tulisan ini mungkin semacam kritik untuk oknum ketua program studi di kampus saya. Cobalah melihat gambaran yang besar tentang permasalahan ini. Cobalah datang dan lakukan aktivitas seharian di perpustakaan kampus kita ini supaya bisa merasakan bagaimana perasaan kami yang tersisihkan. Cobalah untuk mengerti bahwa ke mana lagi kami akan melakukan bimbingan dan berdiskusi tentang penelitian skripsi kalau bukan di perpustakaan. Kami tidak mempermasalahkan tentang koneksi yang lambat. Bukan pula masalah kursi yang tidak seempuk di kafe. Tapi kami hanya butuh tempat untuk berdiskusi. Saya akui kampus saya ini bukanlah kampus besar, tapi jangan disempitkan lagi dengan pikiran dangkal seperti itu. Atau mungkin justru tulisan ini yang sebenarnya pemikiran dangkal? Saya serahkan kawan-kawan untuk memutuskan itu.

BUAT LOE YANG MELARANG BIMBINGAN DI PERPUTAKAAN, JUST GO AND “LOVE” YOURSELF

Itu aja sih.