Historical January

Tags

This month means alot for me. Many things happened on January that change my life. Let me mention it one by one. I born on 27th when my mother on the age of 40. My father brought me to home from the hospital with a cart. The distance from my house to hospital is more than 5 km. I’m the last child in my family. That’s about my birthday.
When I was 21 years old, I lost my beloved grandmother. Also in January, the night I spent a new years event in Malang. I received a call from my sister, she said grandma is passed away. It was a sad day because I remember she always cook my favorite snack. We call it Baje’ Baka’. One thing I always remember about her that she can’t call my name correctly. She always call me Bakari. It’s a Buginesse tongue, we can’t say a word with dead syllables in middle of word. So, Bakri will become Bakari. She always make us have a heart attack when she never see the state of the road while crossing. She always sure that the driver can see her cross and know how to hit the brake. Alhamdulillah she never get hit, just nearly.

When I graduate from university in Malang, I decided to leave my hometown to work in Lampung. It’s also happened in January. I came to Lampung in 28th, then get my job in February. That was my though decision. My father refuse to admit that I will leave my home to pursue my dream to become a lecture at university. That was not my only reason to go Lampung. It’s because one of the precondition to marry my lovely girlfriend is to live in Lampung. So, I took a big step to live in Lampung even I don’t know anyone in Lampung, even relatives. That was a big risk I take, but I’m glad to.
Then a year later, I vow to married my beloved lady at 22nd in front of my father. That day change my life a lot. I become more responsible to someone that I promise to protect till death. That day also I realize, that I’m ready to become husband and lately become a father to a beautiful daugther.

In 26th January 2016, I lost my father by cause of heart attack. It was like a lightning strike me in broad daylight. One day before my birthday, my father passed away and I’m far away to look him directly before buried. It was a sad day to me.

Today also historical to me. Finally after 7 years separated in different district, my wife came to home and stay with me. It was a hard day when separated by job responsibility in different place. We can see each other only on weekend or holiday. Living a life far apart is not an easy life to live. There’s a time that we nearly divorce because of a long distant relationship. I force her to leave her job, but my parent-in-law force her to keep the even far apart from her own husband. But now, the story has changed. She gets her promotion to change job in my town. So, I don’t have to live alone anymore. May be it’s not a great story for you guys. But, I can only tell the story how this month always mean alot to me. That’s all.

Advertisements

Ujian Skripsi Rasa Triathlon

Tags

, ,

Kalau kawan tau apa itu triathlon, tentu akan terbayang seperti apa rasa lelahnya. Tiga hari belakangan ini saya sepertinya mengikuti lomba triathlon. Rasa lelah timbul karena kegiatan kampus yang tidak ada henti-hentinya datang silih berganti. Saya sendiri harus berpindah lokasi setiap sesi. Bayangkan saja kalau dalam sehari ada tujuh sesi (07.00 sampai 19.00), saya harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan menenteng tas ransel yang berisi berkas nilai dan draft skripsi mahasiswa yang akan saya uji di hari itu. Beban pundak saya bertambah banyak.

Tiga hari terakhir ini adalah masa yang paling berat karena saya harus melakukan pengujian skripsi sampai malam hari. Bukan tanpa alasan, keterbatasan ruang dan jadwal yang menyebabkan kami harus harus melakukan seminar skripsi marathon seperti itu. Belum lagi jadwal wisuda yang semakin mepet ditambah mahasiswa yang ingin mengejar kelulusan harus ekstra kerja keras untuk mencapai hasil penelitian yang telah diujikan proposalnya. Jadinya, dosen dan mahasiswa kerja keras untuk menyelesaikan skripsi. Saya harus mengkoreksi setumpuk berkas skripsi yang menutupi meja saya, dan mahasiswa harap-harap cemas menunggu persetujuan seminar skripsi dari saya. Belum cukup sampai di situ, saya juga dikejar oleh mahasiswa yang pernah saya uji proposalnya. Mereka harus mencocokkan jadwal ujian bimbingan saya dengan jadwal menguji pembimbing mereka. Saya juga begitu harus menyesuaikan jadwal saya dengan dosen penguji bimbingan saya. Harus hati-hati menentukan jadwal, jangan sampai tabrakan dengan jadwal yang lain.

Alhamdulillah ada aplikasi seperti Google Calendar yang membantu saya mengatur jadwal ujian dari perangkat apapun. Terkadang mahasiswa datang mengatur jadwal ujian saat saya menggunakan komputer, jadi langsung saja buka calender di komputer dan mengisi jadwal. Kalau saya sedang main HP, saya buka aplikasi di hape. Terima kasih Google.

Oh ya, setelah selesai dengan pengujian saya harus pindah ke arena selanjutnya. Kalau di triathlon, setelah renang dan bersepeda, saya harus lari jarak jauh lagi. Kalau sudah selesai dengan proses bimbingan dan pengujian. Maka selanjutnya adalah tahap revisi hasil ujian. Saya harus memastikan mahasiswa bimbingan dan yang saya uji benar-benar mengerjakan revisi ujian. Belum lagi mahasiswa yang harus ujian ulang karena gagal saat ujian. Mereka juga mengejar saya untuk memastikan saya memberikan nilai kepada mereka. Ada yang cukup datang ujian ulang sekali, ada juga yang harus bolak balik datang untuk ujian ulang. Ini tentu menguras energi dan pikiran untuk berpindah dimensi dari mode membimbing ke mode menguji dan ke mode merevisi hasil koreksi ujian. Belum sempat sampai di situ, saya harus memikirkan kelas mata kuliah yang saya ampu. Sudah lama tidak bersua dengan mahasiswa saya karena padatnya kegiatan di kampus. Ini benar-benar seperti triathlon yang akan berulang setiap tahun.

Antara Bimbingan dan Nongkrong

Tags

,

It’s nearly end of the graduation year in Teknokrat. November ceria jadi November dag-dig-dug-serr. Bulan ini adalah bulan penentuan apakah para mahasiswa di Teknokrat sudah layak untuk diwisuda tahun ini. Para mahasiswa dan pembimbing berjibaku perpacu dengan waktu untuk menyelesaikan penelitian masing-masing. Saya sendiri tidak luput dari kondisi itu. Mahasiswa bimbingan saya harus lulus tahun ini. It’s almost like mission impossible. Waktu kami hanya tersisa sebulan dan itu sudah lewat karena batasnya dimulai dari bulan Oktober kemarin. Sekarang saya harus memastikan semua mahasiswa saya harus lulus tahun ini.

Membimbing di sela-sela kesibukan kampus yang super duper padat memaksa saya harus menggunakan segala macam cara dan pendekatan untuk melakukan bimbingan. Mulai dari pertemuan lewat aplikasi Whatsapp, Drive, sampai dengan kumpul di rumah saya. Malam ini saya meminta mahasiswa bimbingan saya untuk berkumpul di Dunkin Donuts. Alasannya sederhana karena cuma Dunkin Donuts yang punya akses internet lumayan cepat dan buka 24 jam. Sampai tulisan ini diposting, kami masih diskusi untuk menyelesaikan skripsi masing-masing.

tim babe

Tetap semangat demi toga dan wisuda

Bimbingan cara ini lumayan butuh biaya, karena tidak mungkin datang ke Dunkin hanya untuk dapat akses wifi tanpa beli produk mereka. Sama saja dengan nongkrong, tetapi dengan tujuan yang berbeda. Bimbingan skripsi. Saya harus keluarkan biaya untuk mereka, tidak mungkin meminta mahasiswa bimbingan saya untuk membelikan saya minuman. Justru saya yang harus membelikan mereka makanan dan minuman. Tapi sayang, digit di rekening masih belum menembus 12 digit, jadinya BDD (Bayar Dewe Dewe) hahaha. Untungnya Dunkin punya paket beli 9 gratis 9, jadi saya cukup keluarkan sedikit untuk dapat yang banyak. Di saat-saat sempit seperti ini harus ekstra kreatif.

tim babe 2017

Wajah-wajah para pejuang skripsi

Rasanya susah meninggalkan kebiasaan saat kuliah dulu. Bimbingan sambil nongkrong. Saya ingat sekali ketika masih ikut di Lab Winner ITB, kami sering sekali ditraktir oleh dosen pembimbing. Mungkin karena dosen saya punya banyak proyek jadi mentraktir mahasiswa bimbingan bukanlah hal yang berat bagi mereka. Kalau saya, dosen yang belum punya proyek. Penelitian pun belum jebol. Adanya dompet yang jebol hahaha. Jadi, kalau sudah nongkrong dengan bimbingan saya, masih pake cara BDD tadi. Semoga suatu saat bisa mentraktir mahasiswa bimbingan saya setiap kali bimbingan di luar kampus. Ini juga untuk menjalin chemistry dengan mereka supaya proses bimbingan bisa berjalan lancar. Jadi kalau sudah dekat, dicaci maki sekalipun karena revisian yang gak kelar-kelar tak apa. Tak sakit hati. Ini yang coba saya bangun. Lewat nongkrong banyak yang bisa saya gali dari mereka, sekaligus saya bisa menyedot aura muda mereka untuk membuat saya tetap muda dalam jiwanya. Usia boleh tua, tapi jiwa tetap harus muda. Itu aja sih hahaha.

Kenali Siapa Lawan, Siapa Kawan

Tags

My Friend become my enemy and my enemy become my friend

Itu mungkin salah satu dialog dalam film Sky High yang rilis tahun 2005. Sekilas cerita dalam film itu menggambarkan keadaan yang sedang saya alami saat ini. Mengenal kawan dan lawan sama halnya menentukan pilihan kepada siapa kita akan percaya untuk mendukung dan melindungi kita. Terkadang lawan serasa kawan yang begitu lekat namun menusuk dari belakang. Justru mereka yang kita anggap lawan ternyata kawan yang melindungi. Bergaul dengan manusia memang tidak mudah, karena mereka menyimpan sesuatu dalam hati mereka yang hanya Allah dan orang itu saja yang tau isi hati mereka. Kita hanya bisa menebak dan memprediksi seperti apa orang yang ada di sekitar kita.

Urusan memilih teman sebenarnya telah diingatkan oleh Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Jika banyak bergaul dengan penjual minyak wangi, kita akan tertular wanginya. Kalau bergaul dengan penjual bawang, maka akan tertular bau bawangnya. Ini artinya berhati-hati dalam bergaul. Bisa saja teman yang selama ini kita anggap sebagai orang yang dapat dipercaya ternyata punya agenda tersembunyi. Orang yang justru kita anggap lawan malah menjadi orang yang bisa melindungi diri kita sendiri. Urusan memilih teman bergaul ini yang membuat kita harus ekstra hati-hati dalam memberikan informasi penting. Terutama urusan pribadi. Mungkin saja kawan jadi ember bocor. Tapi bagaimana memilih teman? Itu urusan yang mungkin sangat rumit. Ada yang memilih bergaul dengan siapa saja, tanpa harus memilih kawan atau lawan. Semua dianggap punya kualitas hati yang sama. Ada juga yang super selektif dalam bergaul dengan siapapun.

Kasus memilih teman memang tidak mudah, karena bisa saja kita terlalu berlebihan dalam menilai seseorang yang dapat dijadikan teman. Bahkan terkadang kita memilih teman sesuai dengan karakter kita sendiri. Tentu orang yang cenderung tertutup, akan lebih memilah-milah siapa yang dapat dijadikan teman. Kalau orang terbuka, justru terlalu mudah untuk ditebak orang lain. Justru orang seperti mungkin saja tidak punya sahabat yang terlalu lekat. Toh, semua orang bisa mengetahui keadaan dirinya, karena lebih senang bercerita tentang dirinya. Lalu, kita harus jadi seperti apa? Itu sih pilihan kawan masing-masing. Saya sih lebih cenderung menjadi pribadi yang kedua. Hahaha

Pesan Untukmu Wahai Mahasiswa

Hei mahasiswa
Kuliah itu bukan soal angka
Tapi lebih soal ilmu
Kau mengejar fatamorgana
Padahal oase ada di sekitarmu
Aku bukan pemberi angka palsu
Bukan pula penerima upeti untuk nilaimu
Aku hanya menyampaikan apa yang kutau
Biar kau juga tau untuk semua itu
Kalau hanya angka tujuanmu
Adakah beda dengan kertas togel di tanganmu?

Upgrade Ilmu di TTT Google Faculty Training

Tags

, , ,

Android sudah lama saya kenali, tetapi hanya sebatas sistem operasi yang berjalan di perangkat mobile. Belum pernah saya tertarik untuk menyelami isi pemrograman di dalamnya. Tetapi, belakangan ini saya mulai tertarik untuk mengetahui konsep kerja sistem operasi satu ini. Apalagi ketika tim Desain UX saya tidak lolos dalam Pagelaran Mahasiswa Teknologi Informasi dan Komunikasi (GEMASTIK) di Universitas Indonesia. Saya semakin tertantang untuk mewujudkan cita-cita untuk bisa bersaing lagi dengan para juara di sana. Tentu dengan membekali mahasiswa bimbingan saya untuk bisa setara dengan kemampuan kampus besar di luar sana. Satu hal yang sangat kurang dari kami adalah kemampuan untuk membuat program, terutama di platform mobile. Kami hanya mampu membuat desain prototipe yang rasanya sangat kurang untuk menyaingi aplikasi tim lawan yang sudah jadi.

Nah, kebetulan yang sangat baik, salah satu rekan kerja mengunggah tautan tentang pelatihan Training To Trainer (TTT) untuk pemrograman mobile berbasis Android. Kesempatan yang tidak dapat dilewatkan, walaupun pada saat mendaftar saya masuk ke dalam daftar tunggu. Alhamdulillah, ternyata saya berhasil lolos untuk mengikuti kegiatan pelatihan tersebut bersama seorang rekan lagi dari kampus. Pelatihan ini adalah kerjasama antara Dicoding dengan Google untuk memberikan pelatihan kepada dosen untuk mengajarkan kurikulum Google di kampus masing-masing. Lebih-lebih lagi kegiatan ini dibiayai penuh oleh Google mulai dari penginapan sampai kebutuhan pelatihan. Saya kira ini adalah amanah yang harus dijalankan ketika kembali bertugas lagi nanti. Oh ya, kegiatan ini dilaksanakan di Jogjakarta. Tidak ada kenangan di kota ini jadi tidak membuat saya ingin bernostalgia. Cuma ada kedai kopi yang direkomendasikan oleh rekan KPKL. Itu saja yang membuat saya ingin keliling kota Jogjakarta. Satu lagi toko yang direkomendasikan oleh istri tercinta. Itu untuk oleh-oleh ketika pulang.

Di hari kedua ini (kemarin sudah mulai), saya mulai terkagum-kagum dengan apa yang sudah dilakukan oleh Google terhadap Android. Perkembangan yang sangat luar biasa sehingga saya sendiri tidak mampu mengejar materi yang disampaikan oleh pemateri. Sejatinya, workshop seperti ini dilaksanakan selama 16 hari, tetapi dipadatkan menjadi 5 hari. Itupun tidak semua materi harus disampaikan secara rinci. Pemateri juga terkesan terburu waktu untuk menyelesaikan penyampaian materi mereka. Ini sih wajar karena bahan pelatihan sangat besar dan waktu sangat sempit. Kalau dilaksanakan sesuai dengan jumlah hari yang sebenarnya, para peserta juga akan kesulitan mendapatkan izin dari kampus. Jadi, waktu pelatihan selama 5 hari sudah cukup untuk membuka wawasan dan pengetahuan tentang pemrograman Android. Selanjutnya bisa dipelajari sendiri. Panitia dengan baik hati memberikan semua materi dan perangkat pendukung yang bisa kami gunakan untuk belajar.

Saat ini tinggal belajar mandiri untuk mengejar ketertinggalan saat materi di kelas. Setelah itu, saya dan rekan saya harus menguasai dan membuat modul sederhana untuk pelatihan mandiri di kampus kami. Semoga materi esok dan seterus semakin menarik. Saatnya saya keliling ke kedai kopi dulu. Itu sudah.

Waktunya Tamu Kembali Pulang

Tags

, ,

Bila siap dengan pertemuan, maka bersiaplah dengan perpisahan juga. Semua yang datang akan kembali pada peraduannya. Begitu pula hari ini, tamu dari Forum Rektor Indonesia di Universitas Teknokrat Indonesia sudah mulai kembali ke tempat asal mereka. Sekalipun hanya beberapa hari di Bandar Lampung, setidaknya mereka meninggalkan kesan yang mendalam untuk kami sebagai panitia. Tentu saja semua kami juga meninggalkan kesan yang baik untuk mereka. Alhamdulillah, tanggapan para tamu, rektor dan rombongan, menanggapi dengan senang hati atas pelayanan yang kami berikan. Walaupun masih banyak kekurangan yang terjadi, tetapi semua berjalan dengan lancar.
Saya sendiri tidak dapat memberikan layanan yang penuh terhadap tamu yang menjadi tanggung jawab saya. Hari ini saya juga harus meninggalkan Bandar Lampung untuk beberapa hari ke depan.

Dua hari yang lalu, saya menerima tamu dari Universitas Samawa (Unsa). Rektor Unsa, Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar, beserta rombongan beliau tiba dengan selamat walaupun sempat delay di Bandar Soetta selama beberapa jam. Setelah tiba, saya langsung mengajak mereka untuk makan di rumah makan Pindang Meranjat RIU cabang Natar. Mereka benar-benar menikmati hidangan terutama pindang baung, sambal mangga, dan sambal tempoyak. Bagi lidah mereka, rasanya unik. Saya rasa semua juga merasakan hal yang sama ketika mencicipi hidangan khas Lampung ini.

Menunggu pesanan, sambil berbagi cerita tentang Sumbawa

Banyak sekali yang kami cerita saat menikmati hidangan di pindang RIU. Perbedaan karakter dan istilah dalam dunia kuliner dan cerita tentang keindahan tanah Sumbawa. Tapi saya ini sangat kagum dengan Rektor Unsa yang bersahaja. Bahkan, standar pelayanan kami dinilai terlalu wah. Tapi, inilah standar kami dalam menjamu tamu. Kami harus memperlakukan mereka bak raja di rumah kami. Beliau tak henti-hentinya menyatakan kekaguman beliau terhadap kesungguhan kami dalam melayani. Saya kira ini tanggapan yang sangat kami harapkan.
Hari ini, kami harus berpisah. Bukan karena beliau akan pulang ke Sumbawa, tetapi saya yang harus pergi ke Jogjakarta untuk menjalankan tugas kampus. Beliau masih punya waktu sehari untuk menikmati kota Bandar Lampung dan sekitarnya. Saya harap kedatangan beliau di kota ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Rombongan Universitas Samawa bersiap pulang ke Sumbawa

Selamat Jalan dan Semoga Selamat sampai tujuan Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar dan rombongan. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan.

Menjamu Tamu ala Teknokrat

Tags

,

Tamu adalah raja. Itu ungkapan yang ada benarnya. Tamu yang datang jauh maupun dekat sudah selayaknya disambut bak raja. Mungkin itu maksud dari peribahasa tadi. Begitu pula di kampus tempat saya bernaung. Tamu adalah mereka yang harus mendapatkan kesan dan kenangan yang baik tentang kampus kami. Bukankah semua juga harus begitu? Sudah standar operasional penjamuan tamu di mana-mana.

Di Universitas Teknokrat Indonesia, menjamu tamu tidak cukup hanya meninggalkan kesan baik saat penjamuan. Kampus ini ingin menciptakan kenangan yang akan terus menjadi bahasan oleh tamu di manapun mereka berada. Tamu yang dijamu harus merasakan atmosfer Universitas Teknokrat Indonesia yang ramah dan meriah. Tamu bagi kami bukan hanya mereka yang datang dari antah berantah lalu pergi tanpa kesan mendalam. Tamu bagi kami adalah saudara jauh yang telah lama dirindukan untuk datang. Jadi, layanan harus prima dari datang sampai pulang.

Mungkin ada yang menganggap metode layanan seperti ini super lebay, tapi saya rasa inilah cara pelayanan terhadap tamu. Tamu harus dilayani sampai detail. Apalagi hari ini, beberapa rektor perguruan tinggi di Indonesia akan hadir dalam Forum Rektor Indonesia (FRI) di kampus kami. Kampus kami beruntung menjadi penyelenggara pertemuan FRI karena akan didatangi orang-orang hebat. Mereka tentu bukan orang sembarangan, sekalipun yang dikirim adalah perwakilan rektor. Mereka adalah tamu penting kami dan saya sendiri harus melayani serta menjamu rombongan Rektor Universitas Samawa, NTB. Alhamdulillah saya masih diberi kepercayaan untuk menjadi Liason Officer (LO) di acara sebesar ini. Sudah lama rasanya tidak ikut dalam kegiatan kepanitiaan seperti ini. Gelora ketika masih menjadi mahasiswa dulu mulai membara kembali. Serasa saya muda kembali, hahaha.

Di kampus kami, segala kegiatan harus perfect. Kalau dulu saya suka bertanya kenapa segala hal harus perfect? Ternyata hal itu saya tau jawabannya ketika berada di luar lingkungan kampus. Apalagi ketika mengikuti acara yang diselenggarakan oleh pihak lain. Ada muncul rasa greget terhadap panitia kalau melihat mereka tidak sigap menyelenggarakan acara. Padahal acara yang diadakan seharusnya dipersiapkan dengan baik, dan segala perubahan harus ditanggapi dengan kesigapan. Inilah didikan yang diberikan oleh Rektor kami, bapak H.M. Nasrullah Yusuf. Tangan dingin beliau ternyata secara tidak langsung membentuk karakter kami untuk tangguh dan tidak cengeng dalam menangani kegiatan di kampus. Jadi, hari ini harus prima menjemput tamu.

Selamat datang para rektor dan rombongan di Universitas Teknokrat Indonesia. Selamat datang bapak Prof.Dr.Syaifuddin Iskandar dan rombongan di Bumi Sai Ruwa Jurai.

Kembali Untuk Kesekian Kalinya

Entah ini untuk keberapa kali saya menulis untuk menyatakan akan aktif menulis blog lagi. Padahal mah, selalu saja sibuk dengan berbagai macam alasan. Ya, alasan bukan kesibukan. Kalau sibuk mah, pasti yang lain lebih banyak kesibukan, tetapi toh masih tetap bisa menulis blog. Hari ini, saya mencoba kembali untuk kesekian kalinya.
Blog ini sudah lama mangkrak, seperti proyek gedung pemerintahan di Kota Baru, Bandar Lampung, yang sekarang jadi ladang ilalang. Setidaknya ini langkah awal lagi untuk memulai menulis. Dulu mungkin karena perangkat yang terkadang tidak mendukung kecepatan ide yang sekelebat muncul di dalam kepala. Sekarang perangkat baru seharusnya mendukung untuk saya menuangkan ide cerita. Anytime, anywhere.
Kawan-kawan yang mungkin mengikuti blog ini, doakan semoga konsistensi saya kembali seperti dulu lagi. Opini tentang kehidupan berbangsa dan bertanah air, akan saya tuangkan kembali. Sudah jengah juga kalau hanya dipendam dalam hati. Rekan diskusi juga susah dicari. Walau hanya untuk sekedar untuk ngopi dan diskusi.

Jengahku di Balik Lelah

Sekali ini hanya satu
Di balik meja kerja
Aku menekan deretan abjad
Bukan untukku, tapi mereka
Aku tau ini hanya awal
Di semua akhir yang tak diharapkan
Jangan tolak sekalipun kau tak terima
Biarlah mereka tau
Belajar tak tentu senang
Aku tau, kau juga tau
Angka hanyalah angka
Begitu juga kata
Aku titipkan semua jengah
Sesuaikan harapan
Atau hanya penyesalan
Aku tak pernah sempurna
Dari semua yang menjadi cerita
Bandar Lampung, 3 Januari 2017